Berita Utama

Dinas Pertama Ikhsan Berujung Duka

Teridentifikasi di Hari Terakhir

Radarbekasi.id – Satu korban pesawat Lion Air JT-610 asal Kota Bekasi, M Ikhsan Riyadi Fitransyah (30) berhasil diidentifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) pada hari terakhir proses identifikasi Jum’at (23/11).

Setelah 24 hari pasca kejadian, keluarga korban warga Perumahan Bintara Jaya II, Jalan Kenari II, Kelurahan Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi sedikit bernafas lega.

Jenazah korban langsung diberangkatkan dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati sekitar pukul 21.00 dan langsung menuju Masjid Al Hidaya Bintara untuk di salatkan. Sekitar pukul 22.30, jenazah kemudian dikebumimakan di Tempat Pemakan Umum (TPU) Kranji, Bekasi Barat.

Ikhas Riyadi Fitransyah merupakan Hakim Tingkat Pertama Mahkamah Agung yang berdinas di Pengadilan Negeri (PN) Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung.

Septiana Damayanti istri korban mengatakan, sebelum berdinas di Bangka Belitung, suamianya sempat berdinas di PN Marabahan, Kalimantan Tengah. Senin, 29 Oktober 2018, bertepatan dengan peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP yang ia tumpangi, adalah hari pertama ia berdinas di tempat baru.

“Jadi hari itu adalah hari pertama Almarhum suami saya dimutasi ke PN Koba, namun Allah berkehendak lain dengan musibah tersebut,” kata Septiana, Jumat, (23/11).

Keluarga sempat pasrah dengan jenazah M Ikhsan yang tak kunjung teridentifikasi. Namun setelah 24 hari pasca kejadian, pihak keluarga mendapat kabar bahwa korban berhasil teridentifikasi.

“Di menit-menit trakhir kami dapat kabar suami saya dapat teridentifkasi, tadi malam dapat infonya dan malam ini juga kita langsung kebumikan,” jelas dia.

Almarhum M Ikhsan Riyadi Fitransyah meninggalkan dua orang anak perempuan bernama Nur Intan Ramadhani dan Ainul Radiah. Usai kejadian ini, pihak keluarga berharap kepada pemerintah agar kedepannya dapat memperbaiki standarisasi penerbangan di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jangan biarkan maskapai menawarkan biaya murah perjalanan penerbangan tapi memurahkan nyawa penumpangnya, cukup saya, anak saya jadi janda dan yatim, jangan sampai kejadian serupa terulang lagi,” tegas dia. (rez)

Related Articles

Back to top button