Berita UtamaPolitikRealtime

KPU Imbau Caleg Bijak Gunakan Medsos

Diskusi Radar Pemilu 2019

Radarbekasi.id – Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Radar Bekasi sebagai media lokal terbesar di Kota Bekasi, mengadakan Diskusi Santai Radar Pemilu, yang mengangkat tema “Media Sosial Dalam Kampanye Pemilu 2019” di Kantor Radar Bekasi, Ruko Sun City Square, Margajaya, Bekasi Selatan, Jumat (11/1).

Narasumber yang hadir dalam diskusi tersebut, yakni Calon Anggota DPRD Jawa Barat dari Partai Golkar, Machrul Falak Hermansyah, Caleg DPRD Jawa Barat dari Partai Nasdem, Zulkarnaen Alregar, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bekasi, Tomy Suswanto, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi, Ali Syaifa.

Komisioner KPU Kota Bekasi, Ali Syaifa menyampaikan, salah satu metode kampanye Pemilu 2019, yaitu kampanye menggunakan media sosial (medsos). Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan KPU (PKPU) nomor 20 tahun 2018 tentang Pemilu.

“Bagi calon anggota legislatif (caleg) peserta Pemilu 2019 boleh melakukan kampanye melalui medsos guna mendapat dukungan suara dari masyarakat saat pemilihan 2019 mendatang. Apalagi saat ini pengguna medsos cukup banyak,” tuturnya.

Ali menjelaskan, untuk mengantisipasi kampanye bermuatan negatif, peserta pemilu wajib mendaftarkan akun resminya kepada KPU dan Bawaslu. Hal ini untuk memudahkan KPU dan Bawaslu melakukan pemantauan. Sebab, jika ditemukan konten-konten yang melanggar ketentuan kampanye, maka Bawaslu dan KPU dapat memberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Jika akun-akun tersebut kontennya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tentu saja KPU dan Bawaslu akan mengambil langkah-langkah terkait hal tersebut,” ujarnya.

Pihaknya mengakui, para peserta pemilu kurang kooperatif melaporkan akun medsos mereka. Padahal, KPU telah melakukan sosialisasi terus menerus kepada partai.

“Hanya ada beberapa partai saja yang melaporkan medsos para caleg, dan banyak yang tidak melaporkan,” sesal Ali.

Ia menjelaskan, seharusnya untuk memudahkan tugas KPU dan Bawaslu, partai mengkolektifkan akun-akun media sosial para calegnya.

“Partai ini harusnya ikut mengkolektifkan untuk melaporkan akun calegnya,” imbuh Ali.

Sementara, Ketua Bawaslu Kota Bekasi, Tommy Suswanto mengaku, kesulitan mengawasi kampanye di medsos dalam Pileg dan Pilpres 2019.

“Saya akui, kami kesulitan mengawasi pelanggaran kampanye di medsos. meski sudah ada aturannya dalam kampanye,” tuturnya.

Bawaslu juga mengakui, tidak memiliki data akun-akun medsos seluruh peserta pemilu. Pasalnya, para peserta pemilu banyak yang tidak melaporkan akun mereka kepada KPU Kota Bekasi. “Harusnya mereka ini wajib melaporkan ke KPU,” ujar Tommy.

Kendati demikian, pihaknya tetap mengawasi kampanye peserta pemilu melalui medsos secara optimal.

“Pengawasan tetap kami lakukan secara optimal,” terangnya.

Sedangkan Calon Anggota DPRD Jawa Barat, Machrul Falak Hermansyah mengatakan, dirinya lebih memilih menggunakan kampanye dengan cara tradisional maupun dengan turun langsung ke masyarakat.

“Kampanye secara tradisional seperti pendistribusian kaos, sticker dan pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK), memang lebih terjangaku secara materi, namun efektivitasnya dipertanyakan,” beber Anggota Komisi I DPRD Kota Bekasi itu.

Untuk daerah pemilihan Kota Bekasi – Depok yang merupakan dapilnya, menurut Machrul, mayoritas penduduknya berpendidikan SMA ke atas, sehingga banyak yang melek internet. Sehingga dirinya juga harus bermain melalui medsos.

Dia menuturkan, untuk Pemilu kali ini, dirinya hanya aktif di medsos seperti Facebook, Instagram dan twitter.

“Namun tidak menutup kemungkinan, saya akan memanfaatkan seluruh jaringan medsos untuk berkampanye,” tegasnya.

Diakui Machrul, biaya untuk kampanye itu tidak sedikit. Perlu dana  tersendiri yang harus dialokasikan untuk kampanye, baik dengan cara tradisional maupun modern. Untuk kampanye tradisional, tim suksesnya membuat bermacam-macam spanduk, stiker, dan kaos.

Namun cara berkampanye favoritnya tetap melalui medsos. Dia mengaku pemilihan metode kampanye lewat jalur ini dinilai lebih efektif dan efisien.

Hal senada disampiakan Caleg Nasdem, Zulkarnaen Alregar. Ia mengaku, sementara ini dirinya cukup intens kampanye melalui medsos. Menurutnya, di era digital seperti sekarang, medsos seperti Facebook dan Instagram cukup membantu mendongrak popularitasnya menjelang Pileg 2019. Apalagi medsos merupakan alat kampanye paket hemat (pahe).

“Kalau dengan waktu kampanye panjang begini, yakni mencapai delapan bulan, jika sering-sering turun ke lapangan, bisa jebol anggarannya. Kan setidaknya ngasih uang buat makan minum untuk relawan dan anggaran lain-lain,” tutur Zul tanpa menyebutkan nominal.

Oleh sebab itu, tambah caleg yang juga merupakan wartawan senior ini, cara kampanye perlu disiasati, supaya anggaran tidak jebol menjelang pencoblosan. Salah satunya dengan memanfaatkan medsos yang dinilai cukup efisien untuk memperkenalkan diri.

“Bisa dibilang medsos itu dapat dimanfaatkan untuk memupuk kedekatan dengan konstituen. Berbagai kegiatan yang pernah dilaksanakan bisa diposting lagi dengan angle foto atau video yang berbeda. Ya harus kreatif lah,” pungkasnya. (sar)

 

Lebihkan

Artikel terkait

Close