Berita UtamaPolitikRealtime

Machrul Punya Strategi Khusus Gaet Pemilih Milenial

Radarbekasi.id – Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR Jawa Barat dari Partai Golkar untuk daerah pemilihan (dapil) Kota Bekasi  – Depok, Machrul Falak Hermansyah menilai, Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 merupakan momentum kebangkitan pemilih pemilih muda (milenial) dalam menentukan aspirasi politik nya terhadap wakil rakyat yang dianggap mampu mewakili aspirasi kaum milenial.

“Orang muda identik dengan semangat perubahan, meskipun secara umum cenderung apatis, namun tidak berafiliasi dengan partai politik tertentu. Tapi sesungguhnya, mereka memiliki kesadaran bersama, yakni anti mainstream, dan cenderung menginginkan perubahan,” ujar Anggota Komisi I DPRD Kota Bekasi itu.

Selanjutnya, ia mengaku mampu merebut hati kaum milenial dengan pendekatan dengan tema kampanye yang gaul dan tidak terkesan konservatif. Berangkat dari pemikiran tersebut, Machrul ingin melakukan gerakan dengan gaya milenial. Hal ini karena tingkat partisipasi pemilih milenial di Kota Bekasi dan Depok meningkat dari pileg sebelumnya.

“Suara pemilih milenial dari dapil Kota Bekasi dan Depok, tidak boleh dianggap remeh, karena populasi mereka bisa mencapai 30 – 40 persen dari Daftar Pemilih tetap (DPT),” ujarnya.

Machrul mengakui, untuk merangkul pemilih milenial, punya tantangan tersendiri. Mengingat karakter dasar kaum milenial yang anti politik, harus didekati dengan cara masuk kedunia yang digandrungi nya.

”Kelompok milenial cenderung anti politik, karena mereka beranggapan politik itu berat dan dianggap jauh atau bertolak belakang dari dunianya,” kata Machrul.

Untuk itu dirinya , akan masuk dari sisi lain, agar pemilih milenial tersebut bisa dia gaet potensi suaranya. “Saya memiliki trik dan strategi khusus untuk meraih suara pemilih milenial,” jelasnya.

Machrul menganggap, pemilih milenial punya peran besar dalam menentukan figur wakil rakyatnya. “Karena saya menganggap sebagai representatif pemuda, sebagai anak milenial saat ini,” terangnya.

Di mata Machrul, saat ini anak muda banyak dianggap remeh soal urusan politik. Padahal, anak muda menurutnya punya kemampuan berinovatif, kreatif dan visioner. Ia juga melihat, kultur politik di Indonesia saat ini belum ada ruang yang besar diberikan bagi anak muda dalam berbagai kontestasi politik. Karena, pilihan politik masih sangat ditentukan oleh kedekatan emosional, kultural dan kelompok.

“Padahal, idealnya orang menentukan pilihan itu karena visi-misinya, dan inovasi. Makanya jangan heran, kalau banyak anak muda yang dianggap remeh dalam politik. Dan sudah jelas-jelas, anak muda itu menawarkan gagasan baru,” beber Machrul.

“Saya melihat, banyak persepsi bahwa kaum milenial itu tidak lebih daripada gaya saja, style. Padahal yang sebenarnya mereka yang diharapkan, salah satunya cara berpikirnya jauh kedepan, lebih kreatif,” terang Machrul.

Sehingga menurut Machrul, cara pandang seperti itu mesti dihilangkan. Masyarakat mesti memberi kesempatan bagi anak muda.

“Politik itu bagaimana strategi pemenangan. Makanya, milenial itu bukan gaya sebenarnya, tapi cara berpikir dan gagasan baru,” tutup Machrul. (sar)

 

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker