Berita Utama

Pengusaha Travel dan Masyarakat Terbebani

Pengusaha Travel dan masyarakat merasa terbebani dengan tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik dan kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan oleh operator maskapai penerbangan nasional.

Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bekasi, Hairani Tarigan mengaku, dampak kenaikan harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik sangat dirasakan oleh kalangan pengusaha. Bahkan telah menurunkan minat masyarakat untuk menggunakan pesawat.

“Mengenai harga tiket yang sangat tinggi itu, (dampaknya) terasa sekali dikita dengan sangat berkurangnya sekali orang berminat memakai pesawat,” ujar Hairani, melalui sambungan selulernya, belum lama ini.

Mahalnya harga tiket pesawat sudah dirasakan sejak satu bulan lalu. Bahkan sampai membuat penjualan tiket pesawat mengalami penurunan mencapai diatas 50 persen.

“Penurunan (penjualan) sudah sampai 70 persen. Ini terasa sekali. Penjualan kita dropnya bukan main,” tegasnya.

Menurut dia, sebelum ada kenaikan harga ini pihaknya menyiapkan pagu anggaran perjalanan wisata untuk biaya tiket pesawat pulang pergi sebesar Rp1,5 juta. Namun kini harus menyiapkan sebesar Rp2,5 juta.

Padahal, biaya transportasi merupakan pengeluaran terbesar dalam setiap perjalanan wisata dibandingkan biaya lain seperti penginapan. “(Sekitar) 60 sampai 70 persen itu adalah biaya tiket,” ucapnya.

Dengan tingginya harga tiket pesawat, maka setiap perjalanan wisata tujuan dalam negeri saat ini di upayakan untuk menggunakan transportasi kereta api yang memang harga tiketnya cukup terjangkau. Hal itu dilakukan oleh pelaku usaha trevel agar mereka tidak merugi.

“Kita biasanya jalan-jalan ke Jogja katakanlah pulang pergi naik pesawat, sekarang sudah kita upayakan dengan kereta api,” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Bekasi dari tiket.com untuk penerbangan Minggu (13/1), harga tiket Lion Air tujuan penerbangan Jakarta-Bali seharga Rp2.759.000, sementara tujuan Jakarta-Singapore seharga Rp1.730.000. Kondisi ini membuat masyarakat lebih memilih traveling ke luar negeri karena harga tiket pesawatnya yang murah.

“Temen-temen disini punya paket wisata ketiga negara, seperti Singapura, Thailand dan Malaysia itu harganya enggak sampai Rp5 juta. Tapi kalau jalan kita Bali kita sekarang Rp5 juta baru yang budget karena mahalnya harga (tiket),” katanya.

Seharusnya, kenaikan tiket pesawat untuk penerbangan dalam negeri tidak terjadi. Sebab kemampuan masyarakat untuk membeli harga tiket yang tinggi belum ada.

“Daya beli masyarakat belum mampu (beli tiket harga tinggi),” ucapnya.

Selain itu, pelaku usaha juga merasa terbebani dengan kebijakan bagasi berbayar yang diterapkan oleh Lion Air dan Wings Air. Sebab, tidak mungkin wisatawan dibebankan dengan biaya tambahan untuk bagasi.

Menurut dia, kebijakan ini juga berdampak kepada bisnis pelaku UMKM di daerah yang menjadi tujuan wisata. “Misalnya ke Sumatera Barat, ke tempat banyak oleh-oleh. Dengan kebijakan bagasi berbayar ini pasti akan mengurangi packingan. Yang berdampak jelas ke UMKM, mereka (wisatawan) enggak mau beli oleh-oleh banyak dengan alasan bayar bagasi mahal,” tuturnya.

Tak hanya itu, pelaku usaha travel juga terbebani dengan penghapusan komisi atau zero commision untuk biro atau agen perjalanan. Bahkan dia menyebut, kondisi itu dapat membuat era agen perjalanan berakhir.

“Jadi kalau menurut saya ini era travel agen menjual tiket domestik sudah akan berakhir kalau dengan kondisi seperti ini. Itu dari era penjualan tiket saja. Yang jelas teman-teman disini, sudah pasti menjual tanpa adanya komisi. Itu terlepas dari harganya murah atau mahal,” pungkasnya.

Sementara itu, Renaldi mengaku merasa terbebani dengan mahalnya harga tiket untuk penerbangan domestik. Sebab, aktifitasnya sebagai seorang pengusaha sering menggunakan pesawat.

“Satu bulan saya bisa dua sampai tiga kali naik pesawat. Biasanya untuk pesawat saja cukup Rp2 juta PP, sekarang enggak,” kata pengusaha kafe tersebut. (oke)

Related Articles

Back to top button