Realtime

Petinggi GEC Bantah Gelapkan Deposito Taro Rp20 Miliar

Radarbekasi.id –  Direktur PT Great Eagle Capital (GEC), Budhi Istanto membantah telah menggelapkan dana deposito milik produsen makanan, PT Putra Taro Taloma (Taro) sebesar Rp20 miliar.

Dia juga menyatakan, tidak pernah menjabat apapun di PT Putra Taro Paloma. Fakta sebenarnya menurut dia, dana sebesar Rp20 miliar tersebut pada 2015 adalah sebesar Rp15 miliar yang merupakan deposito milik PT Taro pada BRI Syariah (BRIS) Jogjakarta.

“Dana tersebut atas persetujuan PT Taro (sesuai ketentuan UU PT) telah dijadikan jaminan atas pembiayaan/fasilitas kredit (utang) dari BRIS Yogyakarta kepada PT Great Eagle Capital (GEC) yang mendapatkan Rp15 miliar,” ujar Budi dalam keterangan tertulis yang diterima radarbekasi.id, kemarin.

Hal itu disampaikan Budhi terkait berita pailitnya PT Taro. Nama dia disebut-sebut merupakan manajemen lama Taro dan diduga melakukan pencairan dana deposito milik Taro sebesar Rp20 miliar. Dalam hak jawabnya, Budhi menjelaskan, pada 2016, PT GEC memperoleh kembali tambahan pinjaman (fasilitas kredit) sebesar Rp5 miliar dari BRIS, sekaligus perpanjangan fasilitas pinjaman yang lama sebesar Rp15 miliar. Sehingga total utang PT GEC menjadi Rp20 miliar.

“Atas hal tersebut PT Taro (dengan memenuhi ketentuan Anggaran Dasar dan UU PT) kembali menyetujui penjaminan dan penambahan jaminan sebesar Rp5 miliar atas fasilitas kredit dari BRIS kepada PT GEC, dengan demikian maka total penjaminan PT Taro menjadi Rp 20 miliar,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, fasilitas pinjaman PT GEC dari BRIS sebesar Rp20 miliar itu mengalami perpanjangan tiap tahun, yaitu pada 2016, 2017, hingga September 2018.

“Setiap bulan, PT GEC yang dipimpin Direktur Budhi Istanto merupakan debitur patuh, tidak pernah mengalami wanprestasi, dan tidak melakukan cacat perjanjian. Terbukti dengan membayar bagi hasil (nisbah) setiap bulan kepada BRIS, dan BRIS memberikan nisbah (bagi hasil) kepada PT Taro sebagai pemegang deposito,” katanya.

Namun lanjut Budhi, pada September 2018 BRIS ternyata hanya bersedia memberikan perpanjangan akad pembiayaan kepada PT GEC selama 1 bulan, yaitu dari September ke Oktober 2018.

“Setelah perjanjian antara BRIS dan PT Taro berakhir, tanpa dasar hukum (tidak sesuai dengan perjanjian) BRIS pada bulan Oktober 2018, tanpa adanya kelalaian yang dilakukan oleh PT GEC, secara sepihak, tanpa alasan jelas, dan tidak melalui negosiasi, BRIS melakukan pencairan deposito milik PT Taro sebesar Rp 20 miliar, sekaligus menyatakan bahwa Utang PT GEC dinyatakan lunas,” papar dia.

Padahal, tambah Budhi, sesuai perjanjian penjaminan deposito, pencairan atas deposito/jaminan hanya boleh dilakukan apabila PT GEC terjadi kejadian kelalaian. Namun faktanya tidak ada kejadian kelalaian oleh PT GEC (sebagaimana diatur dalam akad).

Dirinya menegaskan pencairan deposito tersebut dilakukan BRIS secara sepihak tidak sesuai perjanjian dan tanpa persetujuan dirinya selaku Direktur PT GEC dan PT Taro selaku pemegang deposito.

Budhi menyatakan, pihaknya tidak pernah memberikan persetujuan dalam bentuk apapun kepada BRIS untuk mencairkan deposito milik PT Taro. Namun demikian, atas itikad baik dirinya tetap menyatakan bertanggungjawab atas dana sebesar Rp20 miliar berupa deposito milik PT Taro di BRIS tersebut.

“Sebagai bentuk tanggungjawab PT GEC atas pencairan secara sepihak atas deposito tersebut oleh BRIS PT GEC telah mengakui dana sebesar Rp20 miliar tersebut sebagai utang PT GEC kepada PT Taro,” sebutnya.

Ia mengatakan, bentuk itikad baik tersebut dengan kesediaan PT GEC untuk membayar utang Rp20 miliar itu kepada PT Taro dengan pembayaran secara cicilan. “Dan itikad baik tersebut telah direalisasikan dengan cicilan pertama pada bulan Desember 2018,” sebutnya.

Menurut dia, dengan adanya itikad baik dan tanggung jawab serta pengakuan utang dari PT GEC kepada PT Taro ini, seyogyanya permasalahan ini telah selesai, dan menjadi bukti secara sah dan meyakinkan mengenai tidak adanya dugaan penggelapan deposito senilai Rp20 miliar milik PT Taro.

“Seyogyanya masalah ini telah selesai, di mana hubungan PT GEC dan PT Taro dilanjutkan penyelesaiannya dengan mekanisme utang-piutang,” tutpnya. (bis)

Related Articles

Back to top button