Berita Utama

Mundurnya Pimpinan FPTI Disoal

Radarbekasi.id – Kabar mengenai mundurnya Ketua Umum dan Sekretaris Federasi Panjat Tebing Indonesi (FPTI) Kabupaten Bekasi belum sampai ke meja KONI.

Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bekasi, Romli, justru mempertanyakan kabar ’hengkangnya’ dua pimpinan olahraga panjat itu.

“Kenapa dan apa penyebabnya? saya belum tau. Belum ada laporan ke sini (KONI Kabupaten Bekasi),” ujarnya Romli ketika dikonfirmasi Radar Bekasi.

Dia belum mau menanggapi lebih jauh kabar tersebut. Romli memilih memastikan kabar itu ke pengurus cabang (Pengcab) bersangkutan.

“Nanti saya akan komunikasi dengan pengurusnya,” imbuh Romli.

Terkait mundurnya Ketua FPTI, sempat menjadi tanda tanya beberapa cabang olahraga (Cabor) lain dibawah naungan KONI Kabupaten Bekasi.

Pasalnya, sejumlah prestasi sempat diukir pada kepengurusan sebelumnya. “Kalau gak salah, FPTI bisa mencapai target medali yang dibebankan KONI,” ujar Plt Ketua Umum Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Kabupaten Bekasi, Khumaedi.

Lebih lanjut, kata dia, kondisi sebelum Porda antara FPTI dan ISSI hampir serupa. Pertama minim atlet dan dukungan peralatan.

“Kini kita punya atlet muda, saya rasa FPTI juga memiliki atlet muda potensial. Mesti dirawat dengan pembinaan jangka panjang,” katanya.

Mundurnya ketua FPTI ini juga menjadi pertanyaan beberapa cabor. “Alasannya kenapa ya. Kok bisa?,” tanya Khumaedi.

Sementara, Ketua Penggiat dan Pengamat Olahraga (P2O), Soejana Kusnadi, menduga adanya disharmonisasi antara pengcab dengan KONI. Hal itu menyusul adanya permasalahan di persiapan hingga hasil Pekan Olahraga Daerah (Porda) XIII 2018.

“Kita menduga sudah terjadi disharmonisasi di tubuh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Kabupaten Bekasi,” ujar Soejana, Minggu (3/2).

Dia justru memprediksi akan muncul kembali polemik di cabang olahraga tidak hanya FPTI.

Pihaknya menuding adanya cabor yang dispesialkan ketika Porda 2018 lalu. Diantaranya Tinju, Atletik, dan Renang.

Beberapa cabor sempat disulitkan waktu persiapan Porda karena peralatan dan waktu Training Center (TC) yang mepet, salah satunya FPTI. “Tidak menutup kemungkinan cabor lainnya mengalami hal yang serupa,” katanya.

Jika kondisi itu terus berlanjut, pihaknya khawatir akan berimbas pada atlet dan roda pembinaan disetiap cabor.

“Lagi lagi atlet yang menjadi korban, jenjang pembinaan, latihan dan event-event akan terganggu. Disharmonis, antara cabor dengan KONI pasca porda ke XIII mesti dituntaskan,” bebernya.

Dirinya enggan berspekulasi lebih lanjut terkait persoalan cabor. Namun menurutnya persoalan transparansi anggaran kerap menjadi faktor utama.

“Kalau diamati, persoalan awalnya ada kemungkinan besar disekitar anggaran KONI yang besar namun banyak cabor terlantar. Juga di internal KONI, rasanya itu juga diduga masalahnya,” tukasnya. (dan)

Related Articles

Back to top button