Berita Utama

Ratusan Siswa Belajar di Lantai

Radarbekasi.id – Dua kelas di SDN 01 Cicau, Desa Cicau ambruk. Ambruknya kelas tersebut menambah catatan 5.696 ruang kelas di Kabupaten Bekasi yang rusak parah dan tidak bisa terpakai.

Pantauan Radar Bekasi, siswa kelas IV (empat) dan V (lima) di sekolah itu terpaksa harus mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di aula kantor Desa Cicau dengan fasilitas seadanya tanpa meubeler. Jumlahnya sebanyak 123 orang siswa.

Wali kelas IV, Mamah Hotimah mengatakan, kegiatan belajar-mengajar telah mulai terganggu lantaran siswa terpaksa diungsikan ke kantor desa. Aktifitas belajar pun tidak efektif. Siswa lebih banyak bercanda dibanding menyerap pelajaran.

“Kami khawatir anak-anak (siswa) akan lebih banyak bermain dibanding belajar. Karena tidak ada sekat antara kelas empat dan lima. Jadi suasana belajar ramai. Bayangkan saja, dua kelas dijadikan di satu ruangan,” katanya, Kamis (7/2).

Kepala Sekolah SDN 01 Cicau, Endah Sulyana mengatakan, ambruknya atap terjadi pada Jumat (1/2) lalu. Ketika itu, hujan lebat mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi, terutama di Cikarang Pusat.

“Untungnya memang pas ambruk itu pas malam. Jadi ruangan kosong. Tidak kena ke para siswa. Kalau siang mungkin ceritanya beda,” ujarnya saat ditemui.

Kini, para siswa terpaksa belajar di lantai karena ruang guru yang digunakan tidak memiliki kursi dan meja yang memadai. “Di sekolah kami terdiri dari 366 siswa dari 12 rombel dari kelas satu sampai empat, jadi satu ruang kelas kami gunakan untuk dua rombel,” jelasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, ruangan yang ambruk itu merupakan bangunan lama yang telah berumur 14 tahun. Dua ruangan tersebut dibangun pada 2005 dan tak pernah dibenahi hingga kini. Akibatnya, terdapat kerusakan di sejumlah titik, terutama susunan kayu yang menjadi kerangka atap genting.

Diungkapkan Endah, kayu yang menyangga atap telah keropos. Sebelum peristiwa ambruknya atap, pihak sekolah telah melaporkan kondisi tersebut pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi.

Pihak sekolah juga sempat mengajukan penambahan ruang kelas baru. Namun, ketika itu, muncul wacana pelebaran jalan di depan sekolah.

Lalu, pihaknya mengajukan relokasi agar saat dilakukan pelebaran jalan aktivitas sekolah tidak terganggu. Hanya saja, kedua pengajuan tersebut pun tidak ada tindak lanjut.

“Memang ada rencana pelebaran jalan, makanya sekolah perlu direlokasi ke lapangan sepak bola wijaya kusuma yang lokasinya berada di belakang sekolah. Atau jika tidak direlokasi, kami perlu penambahan ruang kelas, karena jumlah siswa dan ruang kelas tidak seimbang. Tapi penambahan tidak, relokasi juga tidak sampai ambruk. Ya kami harap ada titik terang, karena siswa perlu fasilitas yang memadai untuk belajar,” ucapnya.

Diketahui, Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang pun telah mengalokasikan Rp299 miliar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2019 untuk pembangunan sekolah.

Hanya saja, anggaran tersebut hanya mampu menyentuh sebagian kecil dari ribuan ruang kelas yang rusak. Anggaran Rp299 miliar itu dialokasikan untuk membangun dua komplek sekolah baru, membangun ruang kelas baru di 39 titik dan merehabilitasi total ruang kelas yang rusak. (and)

Related Articles

Back to top button