Berita Utama

DLH Diduga Main Mata

Radarbekasi.id – Koalisi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Kawali) menduga Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi main mata dengan perusahaan pembuang limbah di Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL).

Pasalnya, dinas terkait terkesan tutup mata dengan persoalan limbah yang mencemari kali tersebut. Karena, meskipun mengetahui terkait adanya aktivitas pencemaran lingkungan namun tidak mengambil tindakan.

“Itu patut kita curigai, karena tidak ada tindakan tegas. Karena perusahaan itu sudah jelas melanggar, tapi kenapa didiamkan?,” kata Direktur Eksekutif Nasional KAWALI, Puput TD Putra, Jumat (8/2).

Ia mendesak agar DLH Kabupaten Bekasi bertindak tegas dalam menyikapi pencemaran lingkungan di Kali CBL. Karena, yang terdampak dari persoalan tersebut ialah para nelayan dan petani tambak.

Terlebih, kata dia, apabila dinas terkait mengetahui adanya pelaku pencemaran, lalu melakukan pembiaran, maka dapat terkena sanksi karena lalai dalam tugasnya. “Kalau hanya diam, akan terjadi berulang kali pencemaran seperti ini,” tuturnya.

Dirinya menyarankan, agar DLH Kabupaten Bekasi berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup jika memang tidak mampu mengatasi persoalan tersebut.

“Di sana banyak yang bisa mengurus mengenai pencemaran. Termasuk hukum juga di sana ada ranahnya. Artinya kalau memang tidak mampu, bisa dilibatkan,” tutur Puput.

“Untuk menangani limbah ini, harus ada pengelolaan yang benar, setelah itu pemulihan lingkungan secara keseluruhan, pemulihannya bertahap, kalau langsung dipulihkan langsung ke lautnya, kalau hulunya tidak diselesaikan sama saja, akan terjadi pencemaran lagi,” tambahnya.

Sampai dengan berita ini diterbitkan, DLH Kabupaten Bekasi masih belum menanggapi perihal dugaan main mata tersebut. Sekretaris DLH Kabupaten Bekasi, Kuswaya tidak merespons ketika dihubungi Radar Bekasi.

Sebelumnya, Aliansi Utara (ALU) mengungkap bahwa Kali CBL darurat limbah. Hal itu berdasarkan hasil uji laboratorium sampel air dari Kali CBL yang dilakukan DLH Kabupaten Bekasi.

Pencemaran lingkungan akibat limbah di Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) berdampak pada aktivitas nelayan dan petani tambak di Kabupaten Bekasi.

Salah satu nelayan di Kampung Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong, Sudirman (45) mengaku, kesulitan mencari ikan sudah terjadi sejak tahun 1990. Kondisi tersebut semakin parah setiap tahunnya.

“Sebenarnya dari tahun 1990 sudah mulai terdampak, kalau di laut lebih dahsyat, seumpama hari ini 10 kilo, kalau air limbah datang, kosong, tidak ada ikan,” katanya saat ditemui di Kecamatan Babelan, Kamis (7/2). (pra)

Related Articles

Back to top button