Opini

Aura sang Guru

Oleh : Masraya Hutabarat, S.S.

Radarbekasi.id – Salah satu energi positif dan sumber gairah belajar bagi siswa adalah saat gurunya datang lebih awal di sekolah. Siswa akan merasa senang dengan keberadaan guru di kelas saat mereka datang ke sekolah. Sambutan hangat dengan senyuman ceria yang terpancar bisa membuat wajah anak yang tadinya muram menjadi bahagia, atau yang tadinya sampai di sekolah dengan wajah tanpa ekspresi akan berubah menjadi ceria.

Guru itu sungguh luar biasa. Guru ibarat magnet bagi siswanya, seolah energi yang ada di dalam diri sang guru dapat menular sesuai dengan kondisi emosinya. Ketika sang guru datang ke sekolah membawa beban permasalahan di pikiran, akan terpancar aura muram di kelas. Seolah siswa juga merasakannya. Begitu juga saat guru datang dengan seraut wajah sumringah penuh kebahagiaan, serasa kelas akan hidup penuh keceriaan siswa.

Ternyata tidak dipungkiri, mood guru mempengaruhi peserta didik. Makanya sangat dianjurkan sebelum melangkahkan kaki menuju sekolah, seorang pendidik harus selalu me-refresh dulu hati dan pikirannya karena hal ini berkaitan dengan seberapa kesuksesannya mengajar pada hari tersebut. Cara me-refresh terbaik adalah dengan bangun lebih awal untuk melakukan sholat tahajud, bermunajat dengan intim kepada sang Khaliq, meminta diberikan kejernihan hati dan ketulusan dalam mendidik. Setelah itu, diiringi dengan tilawah alqur’an dipagi hari. Selalu hiasi hari-hari untuk selalu menyentuh mushaf dan melafazkan ayat-ayat di dalamnya. Insyaallah, Kedamaian dan ketenangan jiwa akan mengalir sepanjang kita mengajar di sekolah.

Mendidik dan mengajar dengan hati berarti guru memberikan contoh yang baik bagi anak didik. Proses keteladanan atau memberi contoh melalui sikap dan tingkah laku yang baik merupakan strategi yang ampuh dari sekadar mengajar di depan kelas. Disinilah kita perlu mengasah kepekaan dan perhatian kita. Ruhiyah kita bangun dengan sholat yang selalu di awal waktu, minta pertolongan Allah sebagai Zat yang Maha membolak-balikkan hati, agar selalu dijaga ketetapan hati kita untuk mendidik generasi bangsa ini. Diiringi dengan zikir, sholat sunnah, puasa sunnah, dan amalan-amalan baik lainnya.

Seorang pendidik harus benar-benar memantapkan hati dan ruhiyahnya karena dari situlah aura dan kharismatik seorang pendidik akan muncul dengan sendirinya tanpa dibuat-buat karena kharismatik itu tidak terlihat dari penampilan fisik.

Alangkah banyaknya persiapan yang harus dilakukan jika ingin menjadi pendidik sangat jauh berbeda dengan profesi lain karena memang di tangan-tangan lembut sang pendidik inilah generasi bangsa ini dititipkan.

Itulah uniknya menjadi seorang pendidik. Sebuah profesi yang benar-benar berbeda dengan profesi lainnya , yang saat bekerja  mungkin hanya membutuhkan ketangkasan, kecerdasan, kesungguhan dalam bekerja. Namun profesi guru ini memiliki item tambahan, yaitu hati, ruhiyah, sentuhan yang mendalam. Sesuatu yang tidak didapatkan dibangku kuliah, dalam pelatihan atau seminar apapun.

Disinilah nilai tambahnya seorang pendidik yang mendidik dengan hati dan penuh nilai-nilai emosional. Karena seorang pendidik itu tidak hanya memberikan ilmu kepada anak didik tapi juga menanamkan nilai-nilai. Mendidik jauh lebih bermakna dari sekedar mengajar.

Rasulullah pernah menyebutkan dalam suatu haditsnya bahwa jika segumpal daging (hati) jelek maka jeleklah perilakunya, sebaliknya bila ia baik maka baiklah seluruh perilakunya. Di samping itu, Alquran juga memaknia hati dengan akal (QS Al hajat:46) yang mampu memahami realitas kehidupan untuk kepentingan kedekatan diri dengan Allah dan kedekatan diri dengan manusia.

Sebagaimana disebutkan dalam alqur’an janganlah kamu meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu. Untuk itu, sepantasnya kita sebagai pendidik harus memahami ini. Agar tanggung jawab moral untuk mendidik selalu bersemayam kuat dihati kita. Agar selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didik.

Agar para pendidik selalu meng upgrade dirinya untuk terus lebih baik dan menyebar manfaat keilmuwan dengan baik. Tidak hanya sekedar mengajar yang hanya sebatas tatap muka jam pelajaran, Maka para peserta didik akan menemukan syurga nya di kelas.

Apabila ini disadari dan diterapkan di setiap jenjang satuan pendidikan maka bullying/kekerasan di dunia pendidikan tidak akan terjadi.Suasana kelas akan jauh lebih tenang, adem dan penuh semangat. Dengan demikian tanggung jawab guru tidak hanya pada tataran administrasi dan kelembagaan/kedinasan bagaimana siswanya bisa lulus dari suatu jenjang pendidikan atau memperoleh nilai-nilai yang mengacu pada kompeten dan belum kompeten melainkan juga tanggung jawab moral yang pertanggung jawabannya didepan Allah. Bukankah ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang selalu mendoakan orangtuanya adalah pahala yang terus mengalir meskipun kita sudah mati. Pada titik inilah mudah-mudahan apa yang dicita-citakan dari pendidikan bisa terwujud. (*)

Related Articles

Back to top button