Berita Utama

Pulang Kerumah Kaki Lebam *Siswa Difabel Diduga Dianiaya Guru

Radarbekasi.id – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Kali ini, seorang siswa kelas III Sekolah Dasar (SD) Al Fajri diduga dianiaya wali kelas. Ironisnya, siswa tersebut merupakan anak berkebutuhan khusus atau difabel. Akibatnya, bocah laki-laki berinisial JMH (11) ini mengalami luka lebam di bagian kaki kanan dan kirinya.

Diduga penganiayaan itu terjadi karena persoalan sepele. JMH lupa membawa buku pelajaran Matematika saat pelajaran berlangsung. “Anak saya lupa bawa buku Matematika dan tiba-tiba dimarahi lalu dicubit dan ditendang kakinya,” kata ayah JMH, M. Sugih (43) kepada awak Media, kemarin Selasa (12/2).

Dia menyayangkan kekerasan yang dialami oleh sang anak, apalagi terjadi di sekolah. Sebagai tempat pendidikan, seharusnya guru memberi contoh dan tauladan yang baik terhadap anak didiknya. Apalagi sekolah swasta di wilayah Jakasampurna itu merupakan sekolah inklusi atau yang menerima murid berkebutuhan khusus. “Padahal sekolah berkebutuhan khusus, seharusnya dia tahu bagaimana menangani anak yang berkebutuhan khusus. Ini kok anak saya malah diginiin,” ujarnya.

Atas perbuatan ini, ia akhirnya melapor ke Polrestro Bekasi Kota. Selain karena tidak ada itikad baik dari pihak sekolah, dia melapor ke polisi karena dorongan saudara dan sekolah itu sendiri “Saya bilang ke sekolah kalau begini ceritanya (tidak ada klarifikasi) mending kita ketemu di ranah hukum (polisi) dan sekolah mempersilakan saya,” jelasya.

Sugih mengaku, dugaan penganiayaan itu terungkap saat dia curiga dengan tampilan betis sang anak yang berwarna merah dan membiru pada Kamis (7/2) lalu. Awalnya JMH tidak mau bercerita soal luka lebam yang dialami. Namun saat ditanya berkali-kali dengan nada yang lembut, JMH akhirnya bercerita soal dugaan penganiayaan itu. Kepada orangtuanya, JMH mengaku telah dicubit dan ditendang kakinya oleh wali kelas berinisial HR.

“Saya heran kok ada luka lebam biru dan merah di kakinya. Awalnya saya kira dia berkelahi dengan temannya, tapi saat ditanya dia jawab karena ditendang dan dicubit oleh wali kelas,” Kata Sugih, Kemarin Selasa (12/2).

Dia mengaku terkejut mendengar cerita sang anak. Keesokan harinya atau Jumat (8/2), dia ke sekolah JMH untuk meminta klarifikasi soal dugaan kekerasan tersebut, sembari ditemani oleh kerabatnya Edy, anggota Propam Mabes Polri. Namun upaya mereka sia-sia, karena yang menemuinya salah seorang guru bernama Ria sebagai perwakilan kepala sekolah.

“Sebetulnya saya mau ketemu langsung juga dengan wali kelasnya HR, tapi khawatir emosi saya naik akhirnya ditahan oleh guru dan kerabat saya,” terangnya.

Kepada Ria, ia mempertanyakan kondisi luka yang dialami JMH akibat diduga dianiaya oleh wali kelasnya. Ria kemudian akan meneruskan keluhannya itu ke pimpinan sekolah termasuk wali kelas JMH. Sayangnya sampai Sabtu (9/2) atau keesokan harinya, pihak sekolah tidak kunjung memberikan klarifikasinya. “Padahal saya hanya ingin minta klarifikasi saja soal dugaan kekerasan yang dialami JMH. Saya tidak minta ganti rugi karena ingin menyelesaikan secara kekeluargaan,” ucapnya.

Akhirnya dia melapor dugaan penganiayaan terhadap anaknya ke Mapolrestro Bekasi Kota pada Sabtu (9/2) lalu.”Saya sengaja melapor ke polisi karena sejak datang ke sekolah dari Jumat (8/2) lalu untuk meminta klarifikasi tidak ditanggapi oleh sekolah,” katanya.

Terusnya, laporan itu dibuat dengan nomor LP/367/K/II/2019/SPKT/Restro Bekasi Kota. Padahal awalnya dia menginginkan kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. Guna memperkuat laporan itu, JMH akhirnya menjalani pemeriksaan visum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Chasbullah Abdul Madjid Kota Bekasi. “Dari hasil visum itu terbukti ada benturan benda tumpul yang mengakibatkan kaki kanan dan kiri anak saya luka lebam,” ungkap Sugih.

Terpisah, Kepala Sub Bagian Humas Polrestro Bekasi Kota Komisaris, Erna Ruswing Andari membenarkan adanya laporan itu. Menurut dia, penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestro Bekasi Kota akan memanggil kedua pihak untuk dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP).

“Keterangan pelapor dan terlapor dibutuhkan untuk penyelidikan. Keduanya akan kita panggil untuk diperiksa,” kata Erna.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Bekasi mengaku akan memeriksa kasus dugaan kekerasan yang dialami oleh JMH. Jika terbukti, Dinas Pendidikan Kota Bekasi akan memberikan sanksi berdasarkan ranahnya di dunia pendidikan. “Bidang Pendidikan Dasar sudah saya perintahkan untuk cek ke lokasi apakah benar ada kasus dugaan kekerasan itu atau tidak,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi Inayatullah, kemarin.

Inay menyayangkan bila benar hal ini terjadi di dunia pendidikan. Apalagi yang menjadi korban adalah anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah inklusi. Sekolah seperti ini, kata dia, sebetulnya telah siap menghadapi atau melayani anak yang berkategori ABK. “Saya sangat prihatin bila hal itu terjadi apalagi di sekolah inklusi,” tukasnya.

Kepala sekolah SD Al Fajri Siti Sjahrianti, membantah adanya penganiayaan terhadap anak didiknya. Dia menyayangkan sikap orangtua JMH yang hanya mendengar penyataan dari anaknya dan tidak mendengarkan klarifikasi pihak sekolah, “Jadi saat kejadian, kami belum sempat duduk langsung dengan orang tua, harusnya Senin kemarin. Karena persoalan ini harus mendengarkan dari dua belah pihak jangan satu pihak saja,” katanya.

Luka memar pada tubuh JMH, kata Siti Sjahrianti, disebabkan karena jatuh dari beberapa anak tangga. Banyak saksi yang melihatnya saat JHM jatuh dari tangga. “Memang terluka dia, karena jatuh dari tangga, mungkin ortunya mendengar salah satu pihak dengan anak saja. Anak itu (JMH) butuh bimbingan lebih karena dia speech delay, ” katanya.

Dia menjelaskan bahwa JMH terjatuh dari tangga, Kamis (7/2). Korban terjatuh usai bercanda dengan teman-temannya. JMH terdorong sehingga terjatuh dan terbentur anak tangga, “Pas jatuh teman JMH kan kasih tahu ke kita. Saya tanya, enggak kenapa-kenapa? Belum kelihatan luka memarnya. Kamis itu JMH sampe sore, jam 2 belum dijemput. Menjelang jam 3, dia masih dalam keadaan nyaman,” katanya lagi.

Dia menegaskan, sekolahnya mempunyai aturan agar guru tidak boleh melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap siswa. “Kami dari awal mewanti-mewanti jangan melukai anak secara fisik. Saya tanyakan ke wali kelasnya, saya tanya juga enggak pernah cubit atau lakukan kekerasan pada murid itu,” ucapnya.

Sementara itu, Harry Mulyadi (40), wali kelas JMH juga membantah melakukan tindak kekerasan terhadap muridnya itu. “Saya menyangkal, itu fitnah yang keji kepada saya. Saya tidak pernah cubit atau lakukan tindakan kekerasan sama JMH dan semua murid. Saya sudah 15 tahun mengajar di sini,” ucapnya.

Harry menjelaskan, meskipun berkebutuhan khusus, JMH dinilai lebih baik dan tidak perlu ada yang dikoreksi. “JMH anaknya fine-fine saja, tidak perlu tindakan korektif apalagi korektif secara fisik. Kita ada dua murid ABK (anak berkebutuhan khusus, Red),” ujarnya.

Menurut dia, satu murid Anak Berkebutuhan Khusus lebih banyak membutuhkan perhatian sehingga didudukkan di dekat meja guru. Sedangkan JMH dinilai sudah lebih mandiri, serta sudah bisa menulis dan membaca.

Mengenai dugaan penganiayaan yang terjadi karena persoalan JMH lupa membawa buku pelajaran matematika saat pelajaran berlangsung, juga dibantah Harry. Dia menjelaskan, saat itu dirinya tidak menanyakan perihal buku matematika kepada JMH. “Saya enggak menanyakan soal buku matematika. Hari Kamis itu saya enggak intens karena tidak perlu tindakan korektif terhadap anak,” ujarnya. (pay)

Related Articles

Back to top button