Opini

Kekuatan Kata-kata Seorang Guru

Kiki Maryati (Anggota KGPBR)

Radarbekasi.id – Ada begitu banyak kenangan masa kecil yang sampai detik ini kita ingat. Beberapa bahkan tidak akan kita lupakan. Masa kecil merupakan proses pembentukan diri kita. Begitu pula dengan anak didik kita saat ini. Jangan sampai di masa mendatang kita menyesal karena tidak dapat memutar kembali waktu ke masa sekarang dan memberikan apa yang kurang kepada anak didik kita, yaitu perhatian dan kasih sayang.

Terkadang kita masih ingat ketika dimarahi, dipuji, atau apa pun yang guru lakukan terhadap kita. Anehnya, banyak dari kita yang sama sekali tidak pernah mengingat materi yang disampaikan. Itupun yang terjadi dengan anak didik kita. Anak didik sangat butuh perlakuan yang benar dan bijaksana, bukan sekedar materi pelajaran yang kita berikan. Materi hanyalah sarana pendukung, tetapi hati seorang anak perlu untuk kita besarkan, perlu kita jaga, perlu untuk kita tumbuhkan. Banyak yang dari para orang tua marah kepada anak karena nilai rapornya buruk atau ada satu mata pelajaran yang nilainya jatuh. Mari pahami, anak-anak punya perasaan seperti halnya orang dewasa. Jangan selalu bersikap guru selalu memarahinya. Melainkan dorong mereka agar tetap semangat untuk belajar dan terus berusaha lebih baik lagi. Kebanyakan guru terlalu cepat marah saat anak didik kita berbuat yang kurang berkenan di hati. Namun, guru sangat sering terlambat memuji atau bahkan tidak memuji saat anak berbuat sesuatu yang benar.

Anak-anak sangat peka terhadap kata-kata yang mereka terima dari apa yang mereka dengar. Pesannya adalah hati-hati dengan yang guru katakan kepada anak didik. Terutama jika menyangkut labelling yang buruk. Seperti kamu nakal, kamu bodoh, kamu pasti tidak bisa, atau tidak akan menjadi orang sukses. Secara sugesti anak-anak didik yang kita beri labelling ini percaya terhadap apa yang mereka dengar. Kenapa bisa begitu? Kalau kita teliti lagi, otak manusia ada yang namanya otak sadar dan otak bawah sadar. Otak sadar adalah menerima apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan. Pada orang dewasa, otak sadar memiliki filter atau disaring kembali untuk dapat menolak jika tidak setuju dengan sesuatu hal dan jika percaya maka akan diteruskan ke otak bawah sadar. Sedangkan pada anak-anak, filter atau penyaring ini belum terbentuk sempurna. Jadi, anak-anak didik kita biasanya percaya saja dengan akan apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat. Lalu diteruskan ke otak bawah sadar dan akhirnya tubuh bisa merespons.

Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Masaro Emoto peneliti dari Jepang. Menurut peneltiannya, air memiliki struktur yang dapat berubah bentuk sesuai yang kita pikirkan, katakan, atau inginkan terhadap air atau sesuai bagaimana perasaan kita terhadap air tersebut. Dalam hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa air yang diberi label kata-kata negatif akan membentuk struktur yang buruk atau jelek, sedangkan air yang diberi label kata-kata positif akan membentuk struktur air yang demikian indah seperti kristal.  Jadi, perasaan kita terhadap air yang membentuk struktur air. Saat dalam masa kandungan tubuh kita terselimuti dengan air. Hingga saat kita dewasa dan tua tubuh kita tetap mengandung air. Setelah tahu bahwa sebagian besar dari tubuh anak-anak kita terdiri dari air, maka sebaiknya kita harus berhati-hati saat mengucapkan sesuatu atau dalam membawa perasaan kita terhadap anak-anak peserta didik. Seperti pembahasan di atas bahwa kekuatan bawah sadar anak-anak dapat mempengaruhi hidup, perilaku, dan konsep diri seorang anak. Apa yang kita katakan kepada anak, jika mereka mempercayai di level bawah sadarnya. Tubuhnya yang sebagian besar terdiri dari air akan membentuk struktur yang mengikuti ucapan kita. Bayangkan jika yang guru katakan adalah hal-hal negatif, seperti nakal, malas atau bodoh. Tidak heran jika mereka menjadi benar-benar nakal, malas, dan benar-benar bodoh.

Nah, kesimpulannya adalah rumus yang sama dapat digunakan agar anak mempunyai sikap diri yang positif dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dengan mengatakan hal-hal positif kepada mereka. Pujilah mereka, tahan kata-kata yang buruk atau kurang positif, gantilah dengan kata-kata yang positif. Jika sedang kesal atau emosi, tarik diri sebentar. Tenangkan diri kita. Kembalilah ke anak-anak saat energi positif anda sudah mengalir. Ini tentang pembentukan konsep diri atau citra diri positif anak-anak. Kita saat ini menentukan saat anak dewasa nantinya. Jadi sebaiknya, kita berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu kepada mereka dan di depan mereka. Semoga para guru selalu menanamkan hal-hal yang positif kepada seluruh peserta didiknya. Agar menjadi manusia yang lebih berguna untuk di masa yang akan datang. Pilihan ada di tangan kita sebagai pendidik, ucapan atau perasaan yang kita hadirkan untuk anak-anak peserta didik kita.

Kesempurnaan yang sejati bukanlah dari hasil yang kita peroleh, melainkan dari proses yang mampu dan mau kita lewati sepanjang perjalanan hidup untuk mencapai sesuatu. Demikian pula halnya dengan anak-anak didik kita. Mereka sudah sempurna seperti apa adanya mereka. Tugas kita adalah mengajarkan kebaikan dan memberi proses hidup yang mereka jalani. (*)

Related Articles

Back to top button