Opini

Menulislah Tanpa Syarat

Radarbekasi.id – Guru SD al muslim Tambun Bekasi Kita sebagai public figure dalam dunia pendidikan, tak lepas dari kegiatan menulis. Sebagai pendidik dan pembimbing anak-anak hendaknya menulis menjadi budaya yang harus kita tebar untuk menuai sebuah kebaikan. Menulis dari proses belajar juga merupakan satu latihan dalam mengembangkan motoric halus anak-anak.

Menulis bukan karena tuntutan atau syarat sebuah instansi sebagai salah satu poin penilaian. Menulis tanpa syarat timbul dari dalam diri kita sendiri. Tanpa paksaan dari pihak manapun hal ini muncul untuk mengembangkan profesionalitas sebagai guru. Menulis mulai dari hal yang sederhana, setiap hari secara rutin goreskan tinta di kertas atau tuangkan dalam notbook dan laptop kita. Dengan menulis setiap hari maka kita akan paham seberapa besar kekurangan tulisan kita . atau sebaliknya seberapa banyak kelebihan dalam tulisan kita. Tulisan dapat kita gunakan untuk berdakwah, pada anak-anak ataupun masyarakat luas.

Proses menulis juga sudah kita pelajari sejak kita masuk di bangku sekolah, bahkan orang tua masa kini mengajarkan anak-anak berlatih menulis dan mulai merangkai kata-kata melalui gambar atau game yang ada dalam androidnya. Menulis lebih baik menggunakan pensil karena akan melatih kelenturan otot-otot jari tangan. Motorik sebagai dasar menulis adalah benar atau tidaknya memegang pensil.

Perkembangan anak – anak usia dini memerlukan latihan dalam menulis, bahkan kita sebagai orang tua dan guru wajib memberikan sarana untuk karya menulis mereka. Jika sekarang di giatkan gerakan literasi sekolah maka semua orang hendaknya semangat dalam kegiatan tersebut, memberikan sebuah karya dan menyumbang karya untuk program literasi.

Dari setiap jenjang sekolah mengajarkan proses dan kegiatan menulis dalam sebuah pembelajaran. Mulai dari TK, SD, SMP , SMA sampai perguruan tinggi kita diberikan kesempatan untuk menulis. Guru tak lepas dari proses menulis, menulis karya ilmuah, pembuatan RPP bahkan membuat PTK dalam kelas juga merupakan tindakan menulis. Semua memerlukan proses tidak instan atau tiba-tiba muncul dalam diri kita.

 Perkembangan diri dalam menulis melibatkan ketekunan dan niat yang kuat, jika merasa diri kita malas maka mood dalam menuangkan sebuah tulisan akan menjadi terhalang. Musuh utama kita dalam menulis adalah malas. Lawan kemalasan dan mulai mengembangkan diri melalui tulisan. Jika membaca itu mudah maka menulispun akan menjadi mudah.

Guru yang mengembangkan dirinya akan lebih maju, minimal ia memiliki sebuah karya dalam bentuk tulisan. Banyak ragam tulisan yang dapat kita tulis, menulis cerita pendek, opini, narasi, deskripsi ataupun sebuah karya ilmiah dapat kita tuliskan.

Mengembangjan tulisan menjadi sebuah buku juga penuh dengan perjuangan, namun kembali pada niat kita jika kita menulis tanpa syarat apapun maka kita akan mampu menuliskan buku dengan baik. Hal terpenting dalam menulis adalah membaca kembali apa  yang telah kita tulis secara berulang-ulang, apakah sudah sesuai dalam satu kesatuan alur yang baik atau tulisan kita melompat dan kurang enak untuk dibaca.

Sebagai penulis pemula hal utama adalah menyempatkan waktu dalam menulis. Atau mulai berjanji dalam diri untuk merubah niat bahwa ketika menulis hanya demi menebar sebuah kebaikan bukan karena memenuhi penilaian atasan atau agar dipuji orang lain. Ketika niat kita menebar kebaikan sudah bulat dalam diri maka apapun keadaan dan kondisi kita tidak akan merasa malas menuangkan tulisan.

Menulislah setiap hari dan jadikan tulisan sebagai target dalam hari-hari kita. Bahagia ketika tulisan kita dibaca orang lain dan menjadi sebuah paparan yang dapat dicontoh untuk melakukan kebaikan. Tanpa kita sadari satu huruf yang kita rangkai akan mempengaruhi orang lain untuk melangkah dalam kebaikan.

Semua orang bisa menulis, selama ia mampu dan membiasakan diri dalam merangkai kata-kata maka akan tumbuh dalam diri dan menjiwai tulisan tersebut. Tidak perlu takut tulisan tidak dibaca orang, yang lebih kita jadikan semangat adalah tulisan mampu mengubah dunia mampu memberikan konstribusi dalam dunia pendidikan. Di era revolusi industry 4.0 kita akan tertinggal jauh ketika kita tidak melakukan perubahan.

Melakukan perubahan bukan berarti kita rubah mengikuti rea tersebut, namun pola piker kita dan kegiatan kita sebagai guru harus menjadi bermakna di era revolusi industry 4,0. Berkecimpung dalam dunia tak membuat kita Lelah untuk menulis dan melakukan revisi setiap tahunnya. Penelitian tindakan kelas, karya inovasi yang menjadi ajang bergengsi di seluruh negeri tak lupa berdasar ada sebuah tulisan.

Berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbahasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan bahasa yang bersifat langsung. Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi yang dalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari suatu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam simbol-simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gafur, 6:2009).   Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan non kebahasaan.

Meski bukan orang berlatar belakang sekolah Bahasa kita tak perlu ragu untuk menulis karena dengan berlatih dan melakukan kebiasaan meluangkan waktu menulis tiap hari kita akan mampu melahirkan sebuah tulisan yang bermakna. Tetap semangat dan tak perlu menulis karena paksaan orang lain. (*)

Related Articles

Back to top button