Opini

Menyiapkan Masyarakat Menghadapi Smart City

Mia Tw (Pemerhati Masalah Sosial dan Lingkungan)

Radarbekasi.id – Belakangan istilah smart city cukup familiar di kota-kota besar Indonesia. Setelah Jakarta, Surabaya dan Bandung, Bekasi segera menyusul mewujudkan konsep kota yang smart. Sederhananya smart city adalah strategi pengintegrasian terhadap tata kelola kota dalam kehidupan sehari-hari dengan sarana teknologi informasi dan komunikasi.

Tidak gampang memang membuat kota cerdas. Seringkali berbagai kendala muncul secara tumpang tindih terkait bagaimana pengimplementasian konsep smart city itu sendiri, banyak tantangan yang mesti dihadapi. Sekalipun tujuan smart city memberikan kemudahan pelayanan bagi warganya oleh pemerintah. Salah satunya sejauh mana kesiapan warganya menghadapi era baru smart city. Mau tidak mau warga dituntut mengejar ketertinggalan mereka agar mampu memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. Warga akan menggunakannya untuk lebih mencerdaskan mereka.

Hal ini tidak bisa berjalan seiring. Diperlukan adanya peran pemerintah dengan memberikan edukasi untuk menyiapkan warganya menghadapi smart city. Edukasi ini tidak hanya menyasar masyarakat level tertentu saja seperti mahasiswa, PNS dan warga pendatang. Namun dari berbagai lapisan masyarakat agar siap menghadapi era digitalisasi.

Dengan mensosialisasikan smart city lebih gencar kepada masyarakat. Hal ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat terutama dalam hal meningkatkan kewaspadaan dari bahaya yang dapat mengancam. (https://www.google.com/). Seperti penggunaan CCTV dan perangkat keamanan di tiap-tiap daerah yang dianggap rawan dan di titik keramaian. Teknologi ini bertujuan mempermudah untuk mengetahui secara dini penyebab kejadian, mempermudah rekonstruksi kejadian, dan mempercepat proses penangkapan pelaku kejahatan.

Kemudian pemerintah bisa melibatkan masyarakat berkontribusi menumbuhkan kepedulian dalam mendukung penerapan smart city. Dengan kata lain masyarakat turut serta menjadi kontrol dalam penegakan hukum-hukum yang ada. Sehingga masyarakat memahami tujuannya dan efisiensi penggunaan teknologi pada porsinya.

Pemerintah juga memberikan ruang seluas-luasnya bagi masyarakat menyampaikan aspirasi, memberikan pendapatnya. Sehingga kebijakan-kebijakan daerah yang lahir benar-benar memperhatikan sudut pandang masyarakat bukan pemerintah daerah.

Dan perlu diperhatikan, kota cerdas semestinya tak cukup hanya dari sisi teknologi saja. Tapi juga dari sisi masyarakatnya yang bertakwa juga tata aturan yang menghantarkan pada kemuliaan, yakni aturan dari Allah Sang Pencipta. (*)

Related Articles

Back to top button