Cikarang

Tidak Optimal Siapkan Angkatan Kerja

Radarbekasi.id – Masalah penganguran yang masih tinggi mendapat perhatian dari serikat buruh. Sebab, angka tersebut dinilai tidak sebanding di Kabupaten Bekasi yang merupakan kawasan industri terbesar se–Asia Tenggara.

Wakil Presiden Forum Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Obon Tabroni mengatakan, salah satu penyebab tingginya jumlah pengangguran karena penyiapan calon tenaga kerja yang tidak optimal.

Pendidikan yang berlangsung selama ini lebih bersifat teori. Sedangkan yang dibutuhkan dunia kerja yaitu keterampilan praktis.

“Penyiapan angkatan kerja ini yang tidak mendukung dunia kerja. Di Kabupaten Bekasi, banyak tamatan sekolah yang memang hanya paham soal teori tapi prakteknya tidak. Kesempatan kerja pun hilang. Karena kalah bersaing dengan tenaga kerja dari daerah lain,” kata dia, Kamis (21/2).

Dia pun menyesalkan program penyiapan tenaga kerja yang dilakukan sejumlah balai latihan kerja (BLK) yang dimiliki pemerintah. Dirinya menilai BLK tersebut tidak optimal.

Di sisi lain, diriya juga menyatakan bahwa salah satu penyebab tingginya pengangguran yakni masih berlangsungnya praktik percaloan pada penerimaan pencari kerja (pencaker) untuk menjadi pegawai.

Praktik yang mengharuskan pencaker mengeluarkan sejumlah uang ini, dilakukan oleh oknum yayasan dan lembaga penyalur kerja.

Menurut dia, masih berjalannya praktik tersebut lantaran tidak pernah ditindak oleh pemerintah selaku pengawas.

“Sejak pengawas dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota sampai sekarang dialihkan ke tingkat provinsi, pengawasan tentang pencaloan ini tidak pernah diberantas. Jadi tenaga kerja yang terampil ini kadang ujungnya jadi pengangguran. Karena tidak punya uang untuk membayar calo. Jadi pengangguran sulit ditekan,” katanya.

Di mana sekadar diketahui, berdasarkan data BPS, mereka yang dihitung sebagai pengangguran merupakan warga yang masuk dalam kategori angkatan kerja. Beberapa indikatornya yakni berumur 15 tahun ke atas, bukan pelajar dan bukan pengurus rumah tangga.

Ditinjau dari tingkat pendidikan, mayoritas pengangguran merupakan tamatan sekolah menengah atas (SMA) yang berjumlah sebanyak 104.268 orang. Kemudian tamatan sekolah menengah pertama (SMP) berjumlah 32.412 orang dan tamatan sekolah dasar (SD) sebanyak 22.535 orang. Sedangkan tamatan perguruan tinggi (mulai dari diploma I) berjumlah 7.411 orang.

Persentase pengangguran yakni 10,97 persen dari total angkatan kerja sebanyak 1.572 juta. (and)

Related Articles

Back to top button