Cikarang

Melihat Keberadaan Situs Buni

Harapkan Museum Kecil di Kampung Pasar Emas

Radarbekasi.id – Bagi para pelajar ataupun pecinta seni dan arkeolog, mungkin nama Situs Buni yang berada di wilayah Utara Kabupaten Bekasi sudah tidak asing. Kini, untuk melihatnya, benda bernilai sejarah tersebut hanya ditaruh di atas nampan. Berikut laporannya.

Matahari di wilayah Kecamatan Babelan begitu cerah kemarin siang, Senin (25/2). Namun, sebuah rumah di Kampung Pasar Emas RT 10/05, Desa Muara Bakti tidak demikian.

Rumah itu adalah milik Atikah (60), penjaga Situs Buni. Tidak panas. Karena, dilindungi pohon yang rindang.

Wanita pemurah senyum ini merupakan istri dari (Alm) Sakiuddin, yang merupakan salah satu penemu Situs Buni.

Ia menceritakan, sebelum sang pujaan hati meninggal dunia pada tahun 2014silam, beberapa ahli banyak yang berdatangan kekediamannya. Biasanya, mereka melakukan penelitian dan observasi terkait benda mati yang ditemukan Sakiuddin.

Atikah menuturkan, menurut cerita yang didapat dari suaminya, keberadaan Situs Buni bermula dari nenek almarhum suaminya. Kala itu, pada tahun 1958, yang bersangkutan sedang bertani.

“Nah pas macul-macul (mencangkul) ada kepingan, lalu dibawa ke rumah. Singkat cerita, ternyata itu emas.Sehingga dari situlah nama kampung ini dikenal sebagai Kampung Pasar Emas hingga saat ini,” katanya saat ditemui Radar Bekasi.

Sambil memperlihatkan barang sejarah yang ditemukan suaminya, iamenuturkan, suaminya tidak hanya mencari emas dikawasan peninggalan kerajaan zaman dahulu.

“Suami saya tidak seperti warga lainnya, kan kalo orang-orang sekitar hanya mencari emas saja. Tapi kalau dia (alm) mencari peninggalan yang dinilainya adalah benda bersejarah,”ujarnya.

Menurut dia, barang yang dikoleksi dan dijaganya hingga saat ini sudah ada sejak 2000 tahun lalu sebelum masehi. Tapi, Atikah mengaku sedikit kecewa dengan Pemkab Bekasi.

Karena, peninggalan sejarah yang ditemukan suaminya minim perhatian dari pemerintah.Pasalnya, Situs Buni tidak mendapatkan tempat yang layak.

“Harapan saya bisa dibuatkan museum kecil disini. Masa untuk ke tempat saya aja udah bisa pake google. Tapi barangnya hanya ditaruh dinampan aja, kan aneh banget. Paling enggak kalau dibuat museum disini kan bisa memajukan ekonomi warga sekitar,”tuturnya.

Kata dia, hingga saat ini kediamannya dikunjungi para pelajar baik tingkat SMA/SMK dan perguruan tinggi. Kebanyakan, mereka ingin belajar tentang sejarah tentang Situs Buni.

Hingga saat ini Situs Buni masih menjadi ‘surga’ bagi para arkeolog. Baik peneliti maupun masyarakat sekitar masih sering menemukan artefak baru berupa perhiasan, gerabah, senjata, hingga fosil.(Andi)

 

Related Articles

Back to top button