Opini

Tingkatkan Kecerdasan Anak dengan Stimulus

Suratni (Anggota KGPBR)

Radarbekasi.id – Kecerdasan berasal dari kata cerdas.  Menurut kamus besar bahasa Indonesia cerdas berarti sempurna perkembangan akal budi seseorang manusia untuk berfikir, mengerti, tajam pikiran, dan sempurna pertumbuhan tubuhnya.

Terkadang ada anggapan dari guru ataupun orang tua bahwasannya siswa yang cerdas adalah siswa yang mendapat peringkat 10 besar di kelasnya, lalu bagaimana dengan siswa lainnya yang belum mendapat peringkat tersebut atau bahkan yang berada di urutan paling akhir di kelasnya?

Munif Chatib dalam bukunya Orang Tuanya Manusia (2016) menyatakan bahwa setiap anak punya harta karun dalam dirinya, banyak potensi yang terpendam dalam dirinya.  Harta karun yang dimaksud di sini adalah kecerdasan majemuk atau multiple intellegences.  Multiple intelegences merupakan teori kecerdasan yang dikemukakan oleh  Howard Gardner, seorang psikolog dari Harvard University, bahwa setiap anak punya kecenderungan kecerdasan dari sembilan kecerdasan yaitu cerdas bahasa (linguistik), cerdas matematis-logis (kognitif), cerdas gambar dan ruang (visual-spasial), cerdas musik, cerdas gerak (kinestetis), cerdas bergaul (interpersonal), cerdas diri (interpersonal), cerdas alam, dan cerdas eksistensial.

Dengan demikian anak-anak dapat memiliki potensi kecerdasannya masing-masing.  Mungkin ada anak yang mempunyai satu kecerdasan yang dominan sedangkan kecerdasan yang lainnya rendah.  Ada pula anak yang memiliki dua atau lebih kecerdasan yang dominan atau malah memiliki kesembilan kecerdasan tersebut.

Berkaitan dengan pertanyaan apakah siswa yang berada di urutan paling akhir di kelasnya bisa dibilang tidak cerdas.  Maka jawabannya belum tentu. Barang kali setelah diteliti kembali ternyata anak tersebut sukanya olah raga, maka besar kemungkinan dia akan berprestasi apabila kemampuan tersebut diarahkan dengan tepat. Ini merupakan anak yang memiliki kecerdasan kinestetis yang dominan.

Oleh karena itu, semua anak/siswa cerdas dengan multiple intellegences.  Maka Kecerdasan tersebut bisa ditingkatkan dengan stimulus yang tepat. Stimulus merupakan rangsangan. Dalam kegiatan belajar mengajar yang berperan sebagai stimulus adalah guru. Maka di sini sangat besar sekali peran guru dalam mempengaruhi perkembangan multiple intellegences siswa. Guru sebaiknya lebih kreatif dan juga problem solving dalam proses belajar mengajarnya.

Dalam satu kelas memang biasanya terdiri dari sejumlah siswa dengan bebagai kecerdasan yang berbeda-beda, maka kenalilah siswa kita, apa yang digemarinya (minatnya), dengan demikian itu akan membantu seorang guru dalam menentukan model pembelajaran atau strategi pembelajaran yang diterapkan. Dan dengan stimulus yang tepat akan dapat meningkatkan kecerdasan anak/siswa yang nantinya berpotensi memunculkan kemampuan-kemampuan yang dahsyat.

Di lingkungan rumah/keluarga yang berperan sebagai stimulus adalah orang tua.  Kenalilah potensi kecerdasaan anak sehingga dapat mengarahkan mereka ke jalan/jalur yang tepat bagi mereka. Apabila anak senang bernyayi tidak ada salahnya memasukan dia ke kursus vokal. Dengan demikian kecerdasan musikalnya meningkat dan mungkin nantinya bisa menjadi orang yang hebat dalam bidang tersebut.

Bukan hanya anak yang pintar matematika yang dikatakan cerdas, atau karena nilai ulangan IPA nya bagus, namun semua anak berpotensi untuk cerdas dalam kecerdasan yang berbeda-beda. Semua anak adalah bintang dengan kemampuan mereka masing-masing. Tinggal bagaimana memberikan stimulus yang tepat bagi meraka.  (*)

Related Articles

Back to top button