Metropolis

Cerita Siti Jariyah, Penerima Manfaat PKH

Sempat Dicap Keluarga Miskin, Kini Sukses Jualan Nasi Uduk

Radarbekasi.id – Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB, Siti Jariyah terlihat sibuk melayani pengunjung yang ingin membeli nasi uduk. Ya di rumahnya di Perumahan Al Kemang Ifi Graha, RT 00 Rw 07, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, dia sejak 5 tahun terakhir berjualan nasi uduk.

Dengan sabar, wanita berusia 43 tahun ini melayani pembeli. Disela-sela melayani pengunjung, sesekali dia melontarkan candaan, “Nambah lagi gak mas makannya, cukup gak hanya sebungkus,” candanya kepada salah seorang pembeli.

Ya, wanita yang akrab disapa bu Siti ini merupakan satu dari ratusan warga Kota Bekasi penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari kementerian Sosial Republik Indonesia. Sejak tahun 2014, dia memanfaatkan dana sebesar Rp200 ribu dari program tersebut untuk modal berjualan nasi uduk.

Setelah lima tahun jualannya semakin bertambah, tidak hanya nasi uduk, tapi ada juga lontong sayur, dan gado-gado. Berkat kerja kerasnya, usahanya berkembang pesat. Bahkan, dalam sehari dia mampu menerima omset hingga Rp1 juta. “Tahun ini saya sudah keluar dari anggota PKH, jadi sudah tidak menerima bantuan lagi,” kataya.

Bahkan, Siti mengaku, kini dia telah menyewa sebuah rumah toko di Apartemen Mutiara, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. “Alhamdulillah rencananya pekan ini saya akan buka cabang di sana,” kata Siti saat berjualan, kemarin Selasa (26/2).

Saat ini Siti masih berjualan di tempat usahanya yang lama di sebuah bangunan bekas ruko di Perumahan Al Kemang Ifi Graha. Di sana, Siti mengeluarkan uang sewa kepada pengurus RT dan RW setempat sebesar Rp70.000 per hari.

Dia mengaku kehidupannya sekarang lebih baik berkat Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial yang diikutinya sejak 2014 lalu. Selama mengikuti program itu sampai 2018 lalu, Siti mendapat bantuan dari kementerian dengan nilai bervariasi.

Terakhir pada 2018 lalu, dia mendapat bantuan sebesar Rp1.889.000 yang diberikan setiap tiga bulan selama setahun. Selain mendapat bantuan, Siti dan suaminya Hendro Jokosekti (54) juga mendapat konseling dalam membina biduk rumah tangganya.

Bahkan mereka mendapat pembekalan dalam mengolah bantuan tersebut untuk digunakan sebagai modal usaha. “Saya bingung nggak ada keahlian apa-apa, hanya bisa masak. Jadinya saya coba jualan nasi uduk dan lontong sayur di sini pada 2015 lalu, dan Alhamdulillah dalam waktu dua jam dagangan saya laku dengan omzet Rp800.000,” kenang Siti.

Dari sinilah, kondisi perekonomian keluarga Siti dan Hendro bangkit. Perlahan omzetnya naik menjadi Rp1 juta hingga Rp1,5 juta lebih per hari, karena mereka juga menjual nasi uduk dan kudapan gorengan dari pagi hingga siang. Dengan naiknya perekonomian mereka, maka stigma terhadap Siti dan Hendro sekarang memudar di mata keluarga. Sebelumnya, Siti dan Hendro kerap dicap keluarga buruk karena memiliki utang di mana-mana dan sering berpindah rumah kontrakan.

“Sudah capek kami pindah-pindah kontrakan karena nggak bisa bayar uang sewa. Tapi sekarang Alhamdulillah saya sudah punya rumah sendiri yang dibeli dari saudara seharga Rp150 juta di Jalan Gender II, Jatirasa, Jatiasih, karena saya sudah memiliki Omset jadi saya mengundurkan diri sehingga bisa di berikan lagi PKH ke orang yang membutuhkan.” ungkapnya.

Pekerja Sosial Supervisor Kota Bekasi dari Kementerian Sosial, R. Dika Permatadiraja mengatakan, mulai 21 Januari 2019 lalu Siti Jariyah dan Hendro Jokosekti telah mengundurkan diri dari penerima manfaat PKH Kementerian Sosial. Sebab mereka sudah menyatakan mampu dalam menjalani kehidupannya.

“Meski sudah mundur dari porgram PKH, tapi mereka tetap menjadi keluarga penerima manfaat (KPM) usaha ekonomis produktif binaan PKH Kelurahan Jatirasa,” kata Dika.

Menurut dia, semangat dan komitmen Siti dapat menjadi inspirasi KPM lainnya, bahwa kehidupannya tidak bergantung pada dana bantuan sosial saja. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, kata dia, bantuan yang diberikan kementerian ini bisa dimanfaatkan untuk modal usaha. “Contoh jenis usahanya seperti warung klontongan, usaha kuliner, jajanan, dan sebagainya. Intinya yang produktif untuk keluarga mereka,” ujarnya.

Hingga kini, kata dia, di Kota Bekasi ada 42.354 KPM di Kota Bekasi. Jumlah itu terdiri dari warga tidak mampu, penyandang disabilitas, dan lanjut usia (lansia). “Sampai Februari 2019 ini, sudah ada 87 KPM yang mundur dari program KPH. Salah satunya adalah bu Siti Jariyah,” terangnya. (pay)

Related Articles

Back to top button