Opini

Ciptakan Pendidikan Berbasis Lifeskill

Erna Sari (Anggota KGPBR)

Radarbekasi.id – Memasuki Abad 21 tentu perkembangan teknologi informasi kian terbuka. Setiap orang dari berbagai lapisan masyarakat dan latar belakang pendidikan serta kehidupan sosial yang berbeda dapat dengan mudah mengakses sistem segala bentuk informasi. Komunikasi kini sudah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sistem komputerisasi dan digitalisasi pun ikut telah menguasai berbagai lini dalam dunia kerja. Pemenuhan kebutuhan dan transaksi pun kini dapat dilakukan dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun tanpa harus keluar rumah. Semua dapat dilakukan hanya dengan menekan tombol-tombol pada handphone. Melalui aplikasi, semua orang dapat memenuhi kebutuhannya. Persaingan pekerjaan pun kian ketat. Banyak pekerjaan manusia yang kini sudah digantikan oleh tenaga mesin. Hal ini yang kemudian menuntut setiap orang harus mempunyai lifeskill yang dapat digunakan sebagai modal kemampuan mereka dalam menunjang karir dan menghadapi tantangan serta persaingan dunia kerja.

Melihat perkembangan teknologi tersebut maka sudah sepatutnya dunia pendidikan menyiapkan kurikulum yang berbasis pada kecakapan hidup atau lifeskill. Sekolah harus mampu menyiapkan para lulusannya untuk menghadapi “Generasi Emas Indonesia” pada tahun 2030 nanti. Sekolah harus bisa mengembangkan kemampuan yang tidak hanya mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor, tetapi juga kemampuan memenej dan berpikir inovatif, agar kualitas output lulusannya tidak sekedar menjadi seorang karyawan tetapi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya sendiri bahkan orang disekitarnya. Mengingat semua pekerjaan kini lebih banyak didominasi dengan tenaga mesin, maka setiap sekolah harus dapat menciptakan desain dan metode pembelajaran yang berbasis IT. Hal ini bertujuan agar setiap siswa yang lulus dari sekolah tersebut mempunyai kemampuan dasar IT yang dapat dikembangkan di jenjang pendidikan berikutnya atau bahkan digunakan setelah mereka bekerja.

Selain penguasaan bidang komputer, kecakapan hidup (lifeskill) dapat dapat juga dikembangkan melalui sistem belajar enterprenuer. Untuk menghadapi era globalisasi dimana perdagangan bebas merupakan hal yang tidak dapat dihindari lagi, maka setiap sekolah harus dapat membangun jiwa-jiwa berwirausaha pada setiap diri peserta didiknya. Sistem belajar ini dapat dilakukan melalui pengembangkan minat dan bakat mereka dalam menjalankan usaha/bisnis dan menciptakan lapangan pekerjaan. Berikan kepada mereka pengetahuan dasar tentang dunia enterprenuer dan kewirausahaan serta pentingnya mempelajari itu semua dalam menghadapi  kehidupan masa depan. Arahkan dan bimbing sampai  mereka mempunyai gambaran yang pasti tentang peluang usaha yang akan mereka lakukan nantinya. Berikan juga pengetahuan dan kemampuan mereka dalam memenej dan mengelola usaha dan bisnis yang mereka jalankan agar mampu bersaing di pasaran lokal, nasional maupun internasional. Seorang guru harus dapat membuat desain pembelajaran dalam bentuk praktik yang dapat menggali potensi yang mereka miliki.

Tidak hanya itu, kecakapan hidup atau lifeskill pun dapat dikembangkan melalui penanaman jiwa kerjasama yang berbentuk relationship dan friendship. Hal ini dimaksudkan agar setiap peserta didik tidak hanya memprioritaskan dirinya sendiri dalam bekerja, tetapi juga dapat bekerjasama dengan lingkungannya dalam membawa perubahan dan kemajuan untuk lingkungannya. Dengan adanya jiwa relationship dan friendship, maka peserta didik akan belajar untuk memahami karakteristik partner kerjanya sekaligus membantu mereka menganalisis kebutuhan dunia kerja saat itu. Selain itu dengan penanaman jiwa relationship dan friendship maka setiap peserta didik diharapkan dapat memperluas ruang lingkup usaha melalui jalinan kerjasama dalam wilayah lokal, nasional, regional, bahkan internasional.

Adapun hal yang tak kalah pentingnya serta sangat mendukung terbentuknya kecakapan hidup atau lifeskill adalah kemampuan berbahasa asing. Kemampuan berbahasa asing mutlak diperlukan karena pada era globalisasi ini, mereka tidak hanya berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari negeri mereka sendiri, melainkan orang-orang yang berasal dari berbagai negara. Selain itu berbagai sistem komputerisasi dan digitalisasi pun semua menggunakan bahasa asing sebagai pengantar, khususnya bahasa Inggris. Sekolah dapat memberikan kemampuan berbahasa asing yang tidak hanya ada pada kegiatan intrakurikuler, tapi juga pada kegiatan ektrakurikuler yang memungkinkan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Latih mereka melalui kegiatan conversation dan bilingual dalam kegiatan pembelajaran dan diskusi. Dengan bekal kemampuan Lifeskill yang dimiliki maka dapat dipastikan Indonesia akan mencapai “Generasi Emas” di tahun 2030 nanti. (*)

Related Articles

Back to top button