Opini

Mencari Ilmu Lebih Mulia daripada Mencari Nilai

Wartono (Guru SMPN 1 Cibitung anggota KGPBR)

Radarbekasi.id – Ketika sekolah seseorang memiliki tujuan yang berbeda. Motivasi individu ada yang berkeinginan mendapatkan ijazah, ada yang sekedar mencari status supaya tidak malu, ada pula yang mencari bekal untuk bekerja, dan lain-lain. Ada diantara siswa yang sedang bersekolah dilandasi keinginan mencari nilai berupa angka yang tinggi. Motivasi tersebut melandasi individu mengaplikasikan cara dan teknik belajarnya.

           Di negara kita masih memandang nilai yang berupa angka-angka menjadi cerminan utama hasil belajar. Dalam tataran persekolahan yang terjadi  untuk menggapai kualitas pendidikan, para pelaku di dunia pendidikan lebih sibuk berdaya upaya menaikkan angka-angka dengan mengabaikan proses dan output pendidikan. Alhasil, karakter yang dihasilkan dalam ruang kelas tak lebih dari karakter yang terbiasa dilakukan peserta didik di kelas itu. Oleh karena itu guru perlu memonitor yang ketat dalam proses peserta didik memperoleh nilai. Sikap permisif terhadap proses yang kotor dan kurang terpuji dianggap hal yang lumrah dengan alasan membantu masa depan peserta didik perlu dibuang jauh dalam penilaian di sekolah.

        Sebenarnya angka hanya sebagian bukti saja hasil belajar yaitu sebagai nilai akademis. Tetapi proses yang dilalui individu dalam memperoleh nilai itu menempa kepribadian jujur, mandiri, tanggung jawab, dan membangun karakter dalam individu. Jika individu menanamkan dirinya hasil nilai yang diperoleh dalam sekolah jujur atas pemikiran sendiri, dapat dipastikan jujur dan tanggung jawab. Terbangun dalam karakternya yang jujur akan menjadikan individu mulia di sisi Allah. Belum lagi ada hasil belajar non akademis yang menjadikan individu bertalenta dalam seni, olahraga, dan sosial. Kedua nilai hasil belajar yaitu nilai akademis dan non akademis yang memerlukan kecerdasan spiritual dalam wujud akhlak mental.

        Perolehan nilai akademis dengan angka yang tinggi tidak sepenuhnya menjamin siswa sukses di dunia kerja. Banyak secara akademis bagus, tetapi tidak cemerlang di dunia kerja. Etos kerja dan semangat kerja keras menambah dan mengembangkan ilmunya menjadikan individu berusaha maksimal apa yang dicita-citakan. Individu akan sekuat tenaga mewujudkan walau rintangan ada seperti ekonomi  kurang mendukung.

        Seseorang akan lebih bermartabat bila saat sekolah ditanamkan motivasi mencari ilmu dalam dirinya. Individu yang dilandasi motivasi intern mencari ilmu akan melekat hasilnya dalam pikiran sepanjang hidup. Ilmu yang dikuasai tersimpan dalam pikiran akan dibawa bersama lahiriahnya ke mana pergi. Bila kita mengandalkan nilai atau angka-angka di ijazah tidak mungkin bisa dibawa ke mana pergi. Makanya di dalam dunia kerja melamar dengan ijazah tetapi tetap ada seleksi wawancara. Dalam wawancara ini ilmu yang melekat dalam pikiran kita akan teruji apakah sepadan dengan angka yang tertera di ijazah.

           Hal tersebut sebagai bukti bahwa proses belajar juga lebih penting. Kita akan terbaca melalui proses yang tidak baik jika dalam wawancara tidak menggambarkan sepadan dengan nilai angka di ijazah. Berarti proses belajar kita waktu sekolah tidak jujur dan mandiri alias bukan pikiran kita sendiri, biasanya dengan jalan menyontek. Dari segi harga diri sebetulnya kita malu kebiasaan buruk kita waktu sekolah terbaca orang lain.

            Makanya tanamkan dalam diri anak sekolah bahwa nilai hasil belajar harus dengan proses yang jujur, dan hasil ulangan adalah hasil pikiran sendiri. Ada sebagian peserta didik yang dengan segala upaya termasuk menyontek hasil ulangan dan memasrahkan tugas kelompok ke salah satu siswa. Nilai yang berupa angka bukan segala-galanya tetapi jujur tidak menyontek yang akan bermartabat saat ini dan masa yang akan datang. Sudah sepantasnya guru geram bila peserta didiknya menyontek saat ulangan dan plagiat terhadap karya karena tandanya berkarakter malas dan tak kreatif.

          Pantas sekali ada kata bijak “Belajar dari buaian hingga tutup usia”. Jika sekolah diniatkan untuk mencari ilmu, maka individu akan mengasah dan menambah ilmunya sepanjang hidupnya. Sebaliknya jika motivasi untuk mendapatkan nilai yang tertera di ijazah, maka proses belajarnya akan terhenti setelah menerimanya. Beruntung menjadi guru dituntut belajar sepanjang karirnya. Guru menghadapi perubahan kurikulum, perkembangan IPTEK, dan menghadapi peserta didik yang berbeda menjadi pemacu untuk belajar sebagai pengembangan dirinya. Bisa saja guru yang tidak mau mengembangkan dirinya merupakan bagian individu ketika sekolah sekedar menyelesaikan untuk mendapatkan nilai/ijazah.

          Yakinlah bahwa individu yang sekolah dengan upaya mencari ilmu akan sukses di masa depan. Ilmu berupa pengetahuan dan keterampilan akan sekuat tenaga dikuasai agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan sekarang dan masa depan. Orang menguasai ilmu dan memiliki skill tertentu akan dibutuhkan di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Bakat dan minatpun (non akademis) justru  akan dibutuhkan sekali di lingkungan tempat tinggal. Kita biasanya berkerja dalam bidang yang sesuai akademis. Namun kemampuan skill di luar akademis seperti seni, olahraga, dan komunikasi berguna secara riil dalam kehidupan bermasyarakat.(*)

Related Articles

Back to top button