Cikarang

Sekamar 13 Orang dan Nyuci Baju Sendiri

Radarbekasi.id – Nama Neneng Hasanah Yasin tentu sudah tidak asing di telinga warga Kabupaten Bekasi. Neneng yang menjadi Bupati perempuan pertama di Kabupaten Bekasi ini kini harus mendekam di Rutan Perempuan Sukamiskin, Bandung atas kasus dugaan suap proyek perizinan Meikarta. Seperti apa kisahnya?. Berikut Laporannya.

Tak ada masyarakat yang bercita-cita untuk bertempat tinggal dibalik jeruji besi. Begitu juga dengan Neneng Hasanah Yasin, Bupati Bekasi Non Aktif yang telah mengajukan pengunduran dirinya beberapa waktu lalu ini.

Kemarin, Rabu (27/2), Radar Bekasi berkesempatan berdialog dengan Neneng Hasanah Yasin sebelum ia mengikuti sidang perdana kasus dugaan suap perizinan Meikarta di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor, Jalan Martadinata, Bandung.

Neneng merupakan satu dari lima orang pejabat Pemkab Bekasi yang menjadi terdakwa dari kasus tersebut.

Wajah Neneng nampak tegar menghadapi masalah yang sedang dijalaninya. “Hey apa kabar lu? Gimana? Baik?,” kata Neneng seraya berjabatan tangan dengan Radar Bekasi mengawali perbincangan.

Ia mulai bercerita. Dirinya melihat rentetan peristiwa dari kasusnya itu sebagai takdir.

Yakni, saat mulai dijemput penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kediamannya di Kampung Buggelsalam, RT 03/01, Sertajaya, Cikarang Timur pada 15 Oktober 2018 silam.

“Ya saya diamanahkan sebagai kepala daerah melalui pemilihan merupakan takdir dari Allah, begitu juga saat ini (menjadi terdakwa), merupakan takdir juga,” ujarnya.

Kini, ia memilih menjalani proses hukum dengan lapang dada dan ikhlas.

Dirinya sedang mengandung. Ia pun rutin melakukan pemeriksaan kandungan sebanyak dua kali dalam satu minggu.

Di dalam sel, istri dari Almaida Rosa Putra ini mengaku lebih banyak membaca Alquran (mengaji) untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

“Untuk menikmati dan menjalani apa yang saya rasakan ini, lebih baik pasrah dan ikhlas. Oleh sebab itu, saya lebih kooperatif ketika dalam proses pemeriksaan KPK, dan semua uang yang saya terima sudah dikembalikan sebesar Rp11 miliar,” kisahnya.

Lantaran waktunya hanya untuk mengaji dan salat, Neneng mengaku bisa menghatamkan Alquran selama seminggu.

“Ya memang ya bro ditahan itu tidak ada yang manis. Pahit sebenarnya, ya kan. Tapi kenapa harus selalu rasa pahit yang kita rasakan terus. Cukuplah hal ini menjadi pelajaran yang bermakna. Dan hikmah yang saya ambil bisa menghatamkan Alquran selama seminggu, jadi selama empat bulan, lebih dari sepuluh kali saya khatamkan quran,” ujarnya seraya mengatakan hal ini bukannya untuk sombong melainkan mengambil hikmah dari takdir yang dijalaninya.

Berlama-lama bercerita, tiba-tiba Neneng meneteskan air mata. Ia merasa sedih dengan apa yang harus dijalaninya karena harus berpisah sementara dengan keluarga terutama anak.

“Tuh kan gue jadi sedih, lu si ah,” ujarnya sambil melempar senyum dan menghapus air matanya.

Menurutnya, hidup di penjara sama seperti di asrama. Ada kebersamaan yang terbangun walaupun harus menjalankan kehidupan sehari–hari di ruang lingkup yang terbatas.

“Bagi saya biasa sih seperti yang dijalankan seperti di asrama. Menyuci sendiri, di kamar bersama dengan teman-teman. Tapi itulah saya, terkadang sedihnya teringat dengan anak,” katanya.

Lebih jauh, saat ditanyakan minatnya kembali sebagai politisi, Neneng menjawab belum memikirkannya.

“Udahlah cukup, ini pengalaman yang penting bagaimana saya bisa menghadapi masalah hukum seringan mungkin,” tutupnya. (*)

Related Articles

Back to top button