Berita Utama

Ayo Perangi Hoaks

Radarbekasi.id – Media diminta untuk dapat mengantisipasi berita bohong atau hoaks  yang menjamur jelang pelaksanaan Pemilu serentak tahun 2019. Pasalnya, media dinilai memiliki peran besar untuk memerangi kabar bohong yang beredar dimasyarakat melalui media social.

Hal ini menjadi tema diskusi dalam seminar daerah yang diaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (Himawan) Fakulas Ilmu Sosial Ilmu Politik (Fisip) Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, kemarin. Mahasiswa menilai bahwa kemajuan ilmu dan tehnologi tidak hanya memberkan dampak positif bagi kehidupan manusia namun juga menciptakan dampak negativ.

Maraknya berita bohong dewasa ini dinilai menggiring pembaca untuk menciptakan opini negativ, fitnah dan menebar kebencian ditengah masyarakat. Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, Pimpinan Redaksi Radar Bekasi, Zainal Arifin menuturkan, berita bohong muncul di media sosia. Sementara untuk media pada umumnya sulit untuk dimasuki berita-berita bohong.

Zaenal juga menyampaikan perlunya peran serta media dalam menanggulangi berita bohong, pasalnya media ini memiliki peran vital dimana ia bisa berfungsi untuk memecah belah bangsa jika berita yang
disajikan merupakan berita bohong yang dapat memprofokasi masyarakat.

“Media sangat bertanggung jawab terhadap pembaca, kalau tidak dilakukan pengetatan maka akan membuat kacau. Media berpotensi memecah belah bangsa. Ayo masyarakat Kota Bekasi kita perangi Hoaks,” katanya, Selasa (19/3).

Sementara itu Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Administrasi Negara fakultas Fisip Unisma Bekasi, Adi Susila mengatakan bahwa tema yang diusung dalam seminar daerah tersebut sangat relevan dengan
permasalahan yang saat ini dihadapi oleh masyarakat.

Ia melihat berita bohong kerap menghantui masyarakat menjelang pemilu serentak terutama pada pemilihan presiden dan wakil presiden. “Dari sisi topiknya saya lihat memang relevan banget ya, menjelang pemilu dan salah satu problem kita saat ini adalah isu hoax itu,” katanya.

Berita bohong yang dinilai Adi menarik perhatian masyarakat. Dia berharap tidak sampai menimbulkan kegaduhan dan menimbulkan korban ditengah-tengah masyarakat. Dia meminta kepada media untuk menjawab pertanyaan bagaimana untuk menanggulangi berita bohong tersebut.

Menyoroti sedikit terkait dengan pemilihan umum tahun 2019 ini, menurutnya masyarakat seolah terbagi kedalam dua kubu. Sampai saat ini dia masih mengamati apakah terbelahnya masyrakat menjadi dua kubu ini adalah buah dari kabar bohong yang beredar atau memeng dipola menjadi dua kubu.

“Mungkin bukan dari hoaks nya dulu ya, saya nggak tahu ini karena calonnya cuma dua sehingga masyarakatnya terpolarisasi menjadi dua kubu, masing-masing dua kubu itu saya kira banyak relawannya entah simpatisannya gitu yang kemudian membanjiri dengan hoaks. Nah duluan
mana ini terpolarisasi menjadi dua kemudian ada hoax atau hoax dulu kemudian terpolarisasi menjadi dua,” terangnya.

Sementara itu, ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bekasi Tomy Suawanto mengapresiasi partisipasi yang ditunjukkan oleh mahasiswa untuk ikut mengambil peran dalam proses pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2019 ini.

Menurutnya seminar ini merupakan bagian dari usaha mahasiswa untuk menciptakan literasi pemilih melalui diskusi baik mengenai tahapan pemilu, proses penyelenggaraan pemilu maupun atmosfir peserta pemilu.

“Kita juga bawaslu kota bekasi mengaja kepada ade-ade untuk mencptakan pesta demokrasi di Kota Bekasi ini bisa good demokrasi dan clean demokrasi melalui partisipasi aktif parlementer yang diisi oleh
ade-ade mahasiswa yang memang memiliki literasi, yang memang memiliki sisi akademisi sehingga pelaksanaan itu bisa terwujud di Kota Bekasi,” ungkapnya. (sur)

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker