Berita Utama

CBA : Oknum Dewan Berpotensi jadi Tersangka

Radarbekasi.id – Centre for Budgeting Analysis (CBA) menilai bahwa oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi berpotensi menjadi tersangka baru pada kasus dugaan suap Meikarta.

Bukan tanpa sebab. Hal itu menyusul fakta persidangan yang menghadirkan belasan anggota DPRD sebagai saksi untuk lima tedakwa kasus tersebut. Yakni, Bupati Bekasi Non Aktif, Neneng Hasanah Yasin, dan empat orang anak buahnya di Pengadilan Negeri Tipikor, Kota Bandung beberapa waktu lalu.

Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi mengatakan, dalam sidang tersebut terdakwa Neneng Rahmi menyebut ada permintaan uang sebesar Rp1 miliar dari unsur pimpinan DPRD Kabupaten Bekasi.

“Tentu hal ini merupakan salah satu (dugaan) gratifikasi untuk memuluskan pihak pengusaha demi melancarkan bisnis,” katanya kepada Radar Bekasi, Rabu (3/4).

Sementara itu, Kepala Biro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah menuturkan, pihaknya belum bisa memberikan informasi banyak terkait adanya potensi tersangka baru.

“Kita lihat saja fakta persidangan, tentu fakta persidangan menjadi pertimbangan dan perhatian KPK. Kalau memang fakta dan bukti-buktinya jelas, KPK akan mengambil langkah langkah hukum,”ujarnya ketika dihubungi.

Sekadar diketahui, pada persidangan sebelumnya, mantan Kepala Bidang Tata Ruang pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Neneng Rahmi menyebutkan, para unsur pimpinan mengajak dirinya bertemu. Ia pun bertemu dengan didampingi Henri Lincoln.

Pernyataan Neneng Rahmi memperkuat kesaksian Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bekasi, Henri Lincoln pada sidang sebelumnya.

Ia mengungkapkan, dirinya mendampingi Neneng Rahmi untuk memberikan ‘uang panas’ permintaan para unsur pimpinan.

“Saya memang mendampingi, setahu saya nilainya Rp800 juta yang diberikan secara bertahap. Pada pemberian pertama saya berikan bersama Neneng Rahmi kepada Pak Mustakim dan Pak Taih Minarno, dan kedua Pak Mustakim didampingi oleh Pak Yudhi Darmansyah,” kata Henri. (and)

Close