Politik

Junaedi Komit Jaga Kearifan Lokal

Radarbekasi.id – Negara ini dibingkai dengan nilai kearifan lokal yang tersusun dalam makna Bhineka Tunggal Ika. Sehingga menjaga dan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal adalah sebuah keniscayaan dan menjadi harga mati.

Hal ini disampaikan calon anggota legislatif (caleg) DPRD Kabupaten Bekasi dari Partai Gerindra, Junaedi saat berdialog dengan puluhan warga yang tergabung dalam Paguyuban Saung Ranggon di Kampung Ranggon Genteng, Desa Karangsari, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, baru-baru ini.

“Mengedepankan nilai kearifan lokal harus menjadi prasyarat utama dalam membangun suatu tatanan peri kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Contohnya adalah budaya gotong royong, itu warisan nilai kearifan lokal yang wajib dilestarikan dan terus dijaga,” kata Junaedi yang akrab disapa Ajuk ini.

Menurut caleg dari daerah pemilihan (dapil) 6 Kabupaten Bekasi yang mencakup Kecamatan Cikarang Utara, Cikarang Timur dan Karang Bahagia itu, di tengah pesatnya arus globalisasi, banyak nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan warisan leluhur bangsa ini yang sudah tergerus oleh modernisasi.

“Saya tidak alergi dengan modernisasi, itu sah sah saja, modernisasi diterima tetapi nilai-nilai kearifan lokal yang sarat dengan tuntunan moral jangan ditinggalkan, agar bangsa ini kelak akan menjadi panutan dunia, bangsa yang modern tetapi nilai kearifan lokal tetap terjaga,” imbuhnya.

Kabupaten Bekasi, sambung Ajuk, adalah daerah yang pesat kemajuannya. Namun nilai kearifan lokalnya mulai sedikit terusik.

Jika tak segera disikapi, maka nilai mulia dari kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat, khususnya Kabupaten Bekasi akan pupus, musnah dan hanya menjadi dongeng sebelum tidur.

“Oleh karenanya, harus ada sikap nyata baik dari pemerintah dan perusahaan yang ada di Kabupaten Bekasi untuk mengajak masyarakat agar mau kembali kepada kearifan lokal. Dan saya berkomitmen untuk hal tersebut,” janji caleg nomor urut 4 ini.

Meski tidak mudah, Apuk mengaku akan terus berupaya menggelorakan agar di Kabupaten Bekasi dapat tetap menjaga nilai kearifan lokal. “Memang bukan hal yang mudah, oleh karenanya saya ingin hal ini mendapat dukungan positif dari warga untuk bersama-sama mewujudkannya,” ujar Apuk.

Sementara itu, salah seorang pendiri Paguyuban Saung Ranggon, Amil Safei, mendukung langkah Junaedi maju di pemilihan legislatif (pileg) untuk  menjaga dan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal di Kabupaten Bekasi.

“Nilai-nilai kearifan lokal ini yang terus kita jaga juga di Paguyuban Saung Ranggon dengan membersihkan saluran air dan lingkungan warga dengan cara bergotong royong antara yang muda dan yang tua,” ucapnya.

Selain itu, Paguyuban Saung Ranggon yang saat ini memiliki 40 orang anggota ini juga bergerak dalam bidang sosial dan keagaamaan. “Kalau kegiatan keagamaan seperti tawasulan dan ngaji yasinan rutin kami adakan,” beber Amil.

Ia juga berharap, nilai-nilai kearifan lokal tidak tergerus oleh perkembangan zaman, khususnya oleh generasi muda di lingkungan tempat tinggalnya. Apalagi, Kampung Ranggon Genteng diyakininya memiliki nilai histori tersendiri, karena pernah berdiri bangunan tinggi yang disebut ‘ranggon’ dan digunakan penjajah Belanda untuk memantau hasil pertanian warga.

“Bangunan itu semacam menara yang digunakan kompeni untuk mantau petani. Sekarang bangunannya sudah roboh, sekitar tahun 70-an,” terang Amil. (neo/pms) 

Related Articles

Back to top button