Berita UtamaMetropolis

Saipul Jamil Masuk Bursa Capres Frengki

RADAR BEKASI
REKAM DATA: Pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil melakukan pengecekan retina mata dan perekaman KTP-el kepada penyandang disabilitas gangguan jiwa dan mental di Yayasan Galuh, Kota Bekasi, Selasa (9/4). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RadarBekasi.id – Pemilihan Umum tahun ini melibatkan penderita disabilitas mental untuk ikut menggunakan hak suara. Hal ini mendorong adanya perapian administrasi kependudukan untuk mereka yang menjadi salah satu persyaratan yakni memiliki KTP-el. Salah satu pasien Disabilitas Mental di yayasan Galuh menyebut Saipul Jamil dalam bursa salah satu Calon Presiden yang akan dipilih 17 April mendatang.

Pria yang mengaku bernama lengkap Frengki Yohanes Kurniadi Jacki ini terlihat masih ragu untuk menggunakan hak pilihnya. Saat ditanya akan menggunakan hak pilihnya atau tidak ia menjawab dengan riang gembira bahwa dirinya kemungkinan besar akan mencoblos. “Nyoblos kali, tapi kayanya nggak, nggak tau,” katanya seraya tertawa, Selasa (9/4).

Lucu memang ketika bertanya persoalan serius ini kepada penderita disabilitas mental. Namun sesuai dengan peraturan pemilihan umum yang ada, maka pertanyaan seperti itupun menjadi layak untuk diberikan kepada mereka seperti masyarakat lainnya.

Pria berambut pendek tersebut ternyata belum mengetahui calon presiden dan wakil presiden yang akan terlihat melalui kertas suara di hadapannya nanti. Dia menyebutkan dengan lancar calon presiden yang masuk kedalam bursa pilihannya yakni Jusuf Kalla dan Prabowo.

Satu tidak ketinggalan ia menyebutkan Syaiful Jamil yang juga ikut bersaing diantara keduanya. “Saipul jamil hehehe…,” imbuhnya sembari tertawa.

Yayasan Galuh merupakan panti rehabilitasi disabilitas mental terbesar di Kota Bekasi. Yayasan ini bisa menampung hingga 400 warga binaan baik laki-laki maupun perempuan. Yayasan yang sudah berdiri sejak 1984 ini mengajarkan beragam kegiatan sederhana kepada para warga binaannya.

Dijelaskan oleh salah satu pengurus yayasan, Jajat Sudrajat bahwa serangkaian kegiatan tersebut adalah mulai dari memperkenalkan diri dimuka umum hingga mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari.

“Mereka yang mengalami gangguan jiwa dari 40 persen hingga 100 persen disini ada. Rata-rata itu yang ada disini dikirim langsung oleh keluarganya, selain itu ada dari Dinas Sosial, Satpol PP dan juga Polisi,” katanya, Selasa (9/4).

Sedikit bercerita, menangani orang gila kurang dari satu tahun lebih mudah dibandingkan dengan menangani yang sudah menderita gangguan jiwa lebih dari lima tahun. Dari 24 perawat yang ada di yayasan ini, satu orangnya dapat menangani 15 hingga 20 warga binaan.

Menjadi satu kebiasaan, sebelum warga binaan yang berangsur pulih dipulangkan mereka terlebih dahulu diberikan edukasi dan bekal untuk beradaptasi ditengah-tengah masyarakat. “Saya terangkan, di luar lebih keras, (ada) omongan orang yang mungkin enggak bisa diterima. Lalu kamu harus kerja untuk dapat rokok dan kopi. Tidak seperti di sini yang tinggal minta lalu ada yang kasih,” terangnya.

Dari hasil pendataan administrasi kependudukan, diketahui jumlah warga binaan di yayasan ini sejumlah 435 orang, 24 orang diantaranya tidak terlacak nomor induk kependudukannya.  Sementara warga binaan ber KTP-el Kota Bekasi 27 orang, Warga binaan KTP-el luar Kota Bekasi 70 orang dan perekaman KTP-el 4 orang. (sur)

Tags
Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − 4 =

Lihat Juga

Close
Close
Close