Berita UtamaOlahraga

Pemetaan Kekuatan Atlet Terhambat

Radarbekasi.id – Cabang olahraga di Jawa Barat belum seluruhnya menerima regulasi PON. Kondisi ini membuat pemetaan kekuatan atlet menjadi terhambat.

Sekretaris KONI Jawa Barat, Dede Iman Nugraga mengatakan, sampai April 2019 masih ada pengurus daerah yang belum menerima regulasi PON. Meskipun demikian, pihaknya memakluminya karena Panitia Besar (PB) PON menyampaikannya secara bertahap.

“Regulasi PON tidak langsung semuanya. Baru beberapa saja yang kami terima,” ujar Dede kepada Radar Bekasi, belum lama ini.

Regulasi tersebut dibutuhkan untuk memaksimalkan persiapan menghadapi PON. Sebab, regulasi menjadi acuan awal bagi KONI dalam memetakan kekuatan atlet di Jawa Barat.

“Sebelum diterbitkannya technical handbook oleh PB PON, regulasi itu untuk persiapan awal kami kedepan,” tuturnya.

Meski begitu, pihaknya tidak mau kecolongan. Maka, sebelum technical handbook di terima oleh KONI Jawa Barat, persiapan awal terus dijalankan oleh setiap pengurus cabang.

“Salah satunya dengan mengintruksikan untuk memulainya seleksi Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) PON Jawa Barat di awal 2019,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakannya, atlet KONI di seluruh Jawa Barat yang sudah masuk dalam Pelatda diharapkan dapat segera melakukan pembinaan dini. Selanjutnya akan segera dilakukan binaan khusus setelah babak kualifikasi PON selesai.

Menurut dia, sebelum sampai ke babak kualifikasi, atlet yang lolos Pelatda akan dikembalikan ke daerah dan menjalankan latihan di tiap pengurus cabang masing-masing.

“Karena keterbatasan anggaran kita, setelah lolos Selekda PON sementara atlet di kembalikan ke daerah. Setelah resmi lolos BK, barulah di kita binaanya,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Pembinaan Dan Prestasi (Binpres) KONI Kabupaten Bekasi, Sumarno mengungkapkan, kondisi yang terjadi saat ini sama seperti Porda 2018 lalu.

“Bila dirasa-rasa seperti saat kita mau menghadapi porda XIII 2018 Jawa Barat. Dimana, technical handbook lambat dari tuan rumah (Kabupaten Bogor),” katanya.

Baginya, keterlambatan acuan inti ini dapat berdampak fatal. Sebab membuat sulit pemetaan kekuatan lawan yang dapat berakibat pada raihan medali.

“Lucunya pas buku itu keluar. Ternyata banyak nomor kita yang bentrok dengan atlet Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional). Babak belur lah kita di Porda,” bebernya.

Ketua Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (Pobsi) Kabupaten Bekasi tersebut menegaskan, proses persiapan dini menjadi solusi awal ditengah kondisi saat ini.

“Ya, semoga bisa maksimal nanti di PON,” tegasnya.

Dampak ketidakjelasan regulasi dirasakan cabang olahraga Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia (PGPI) Kabupaten Bekasi. Pasalnya, pihak pengurus daerah menunggu regulasi dari KONI Jawa Barat sebelum menyeleksi atlet PON.

“Pengda tetap menunggu kepastian regulasi sebelum selekda Pon,” tegas Ketua Umum PGPI Kabupaten Bekasi, Meckry Raditya. (dan)

Tags
Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × 2 =

Lihat Juga

Close
Close
Close