BekasiBerita Utama

Merengek Minta Maaf

Neneng Sampaikan Nota Keberatan

Merengek Minta Maaf
Merengek Minta Maaf

Radarbekasi.id – Kasus dugaan suap Meikarta dengan terdakwa Neneng Hasanah Yasin sampaikan nota keberatan kepada majelis hakim PN Bandung. Dengan berlinang air mata mantan bupati Bekasi itu, meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman seringan-ringannya.

Untuk diketahui, pada persidangan pekan lalu, Neneng dituntut hukuman 7,5 tahun penjara dengan denda Rp 250 juta subsidair empat bulan kurungan.

Oleh Penuntut Umum KPK, Neneng dianggap terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi berupa menerima suap terkait pengurusan izin Meikarta sebesar Rp 10.830.000.000 dan 90 ribu Dolar Singapura.

Ia juga dituntut hukuman tambahan berupa uang pengganti Rp 318 juta, yang jika tidak dibayar dalam waktu satu bulan maka diganti pidana penjara satu tahun.  Selain itu, ia pun dituntut agar hak politiknya dicabut selama lima tahun.

Dalam pleidoinya, Neneng mengakui, semua yang ia bacakan bukanlah nota pembelaan sebagaimana mestinya, mengingat ia menyadari bahwa posisinya kini sudah tentu bersalah.

“Ini hanyalah permohonan bersalah, saya minta maaf kepada majelis dan demi Allah tidak ada sedikit pun saya untuk mengingkari dari awal proses pemeriksaan,” ujar Neneng di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LL RE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (15/5).

Kemudian Neneng menegaskan, dari awal penyidikan di KPK dirinya sangat kooperatif hingga membuat perkara yang lebih besar terungkap. Di sisi lain Neneng juga mengakui jika perbuatannya tidak mencerminkan tugasnya sebagai kepala daerah.

“Makanya saya kembalikan seluruh kerugian negara. Saya akui perbuatan tersebut dan membuka perkara seluruhnya. Semua saya lakukan agar majelis memberikan putusan yang seringan-ringannya,” ungkap Neneng.

Sebagai bahan pertimbangan majelis hakim, Neneng menyebut dirinya masih memiliki anak-anak yang masih kecil. Tidak mudah baginya untuk berpisah dengan anak-anaknya, yang paling besar berumur 6,5 tahun dan yang paling kecil berumur 26 hari.

“Ini merupakan pukulan berat bagi saya dan keluarga, membuat efek jera bagi saya. Saya khilaf tidak menyangka ini semua akan terjadi. Saya minta hukuman yang seringan-ringannya dan kepada penuntut saya mohon tidak memberikan tuntutan yang lebih tinggi. Mudah-mudahan majelis bisa mempertimbangkannya,” kata Neneng.

Selain Neneng, ada beberapa terdakwa lain yang juga menangis saat membaca pledoi, para terdakwa tersebut yakni Jamaludin (eks Kepala Dinas PUPR Pemkab Bekasi), Dewi Tisnawati (eks Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu/PMPTSP Pemkab Bekasi), Sahat Maju Banjarnahor (eks Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi) dan Neneng Rahmi Nurlaili (eks Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR Pemkab Bekasi).

Sebelumnya terdakwa Jamaludin, Dewi, Sahat dan Neneng Rahmi dituntut hukuman selama 6 tahun penjara, denda Rp 200 juta, subsidair 3 bulan kurungan. Untuk Dewi dan Sahat diberi tambahan hukuman berupa uang pengganti Rp 80 juta subsidair 7 bulan dan Rp 50 juta subsidair 6 bulan kurungan. (azs/rbg)

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten − 9 =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker