BEKACITIZENOpini

Sekolah Pertama Si Buah Hati

Oleh: Nurhasanah

Radarbekasi.id – “Mama, awan itu dari mana, Ma?”
“Oh awan itu dari pembakaran sampah, kemudian asapnya membumbung tinggi ke atas, jadilah awan,” begitulah ibunya menjawab.

Di lain waktu dan tempat seorang anak bertanya kepada ibunya dengan pertanyaan yang sama. Sang ibu menjawab, “Sini, Sayang, mama gambarkan proses terbentuknya awan. Ini ada gambar laut, ini matahari, dan ini awan.”

Kemudian sang ibu menjelaskan proses terbentuknya awan, dari air laut, danau atau sungai yang menguap, kemudian uap air bergerak ke atas. Uap tersebut menjadi dingin, lalu membentuk titik-titik air yang kemudian menjadi awan.

Sebuah pertanyaan yang sama dilontarkan oleh dua orang anak kepada ibunya masing-masing, namun jawabannya berbeda. Yang satu menjawab pertanyaan tanpa ilmu, dan yang satunya lagi menjawab dengan ilmu. Pertanyaan tersebut adalah salah satu contoh pertanyaan yang terlontar dari anak kita. Mungkin masih banyak lagi pertanyaan dari mulut kecilnya yang tidak kita duga.
“Ma, kenapa laut itu kelihatan berwarna biru?”

“Sana tanya ayahmu!” sang ibu meminta anaknya untuk bertanya pada ayahnya. Ayahnya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya hanya menjawab, “Nanti ya, Nak. Ayah sedang sibuk.”

Dengan perasaan kecewa anak itupun pergi. Peristiwa tersebut mungkin pernah terjadi, bahkan mungkin sering terjadi dalam sebuah keluarga. Mengabaikan pertanyaan anak hanya karena kesibukan ataupun karena malas menjawab. Tanpa kita sadari sikap seperti ini akan mematikan sikap kritis anak-anak kita.

Ibu, tiga huruf yang mana tidak semua perempuan mendapat kesempatan menjadi seorang ibu. Mendapatkan anak adalah anugerah dan amanah yang harus dijaga. Sebagai orang tua, tentunya seorang ibu menginginkan anaknya-anaknya tumbuh menjadi generasi yang dapat dibanggakan, bukan hanya kecerdasannya tapi juga akhlaknya. Karena anak-anak yang saleh adalah investasi bagi kedua orang tuanya.

Ibu mempunyai peran yang sangat penting dalam pertumbuhan anak-anaknya. Ibu menjadi tempat pertama kali sang buah hati bertanya. Seorang penyair mengatakan, “Al Ummu madrasatul ula, idza a’dadta a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Yang artinya, “Ibu adalah sekolah pertama, jika engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang terbaik.”

Ibulah yang pertama kali mengajarkan berjalan. Ibulah yang pertama kali mengajarkan kemandirian. Bagaimana cara makan, cara mandi, cara memakai sepatu, atau cara memakai pakaian. Dari ibulah kita mulai belajar mengucap kata. Ibulah yang pertama kali mengenalkan nama-nama benda sekitar, dan dari situlah anak mulai mengenal pencipta-Nya. Ibulah yang pertama kali mengajarkan anak bersosialisasi, mengajarkan sikap sopan santun, dan mengajarkan sikap mandiri. Oleh karena itu, seorang ibu berperan besar dalam pembentukan watak dan karakter anak.

Terkadang kita sering menjumpai seorang ibu yang banyak melarang, “Jangan keluar, Nak, nanti diculik!“, “Jangan naik-naik nanti jatuh!”, “Jangan memakai baju itu, kelihatannya jelek!”, atau, “Aduh, kamu kalau makan sendiri pasti lama dan berantakan, sini ibu suapin aja!”.

Ibu yang terlalu protektif terhadap anak seperti terlalu banyak melarang akan menghambat perkembangan karakter anak. Seorang anak yang dididik dengan terlalu protektif, kemanapun bermain selalu ditemani dan ditunggui ibunya karena khawatir disakiti temannya, bahkan ketika anaknya melakukan kesalahan sang ibu malah membelanya dengan menutupi kesalahannya. Sikap seperti ini akan menjadikan anak susah bersosialisasi dengan yang lain, selalu merasa benar walaupun salah, dan akan selalu mengulang kesalahannya karena dia merasa ada ibunya yang membela. Seorang anak yang dididik dengan banyak larangan akan menjadikannya mempunyai sifat penakut. Ibu yang tidak sabar dengan kelakuan anak yang ingin mencoba makan sendiri, memakai baju sendiri, atau mandi sendiri akan menjadikan anaknya susah untuk mandiri, apa-apa harus dilayani. Ibu yang suka memarahi anaknya ketika anak memakai baju sendiri yang menurutnya kurang pas, akan menjadikan anak tidak bisa memutuskan sendiri.

Ibu, biarkan anak belajar makan sendiri walaupun lama dan akhirnya berantakan. Biarkan anak memakai sandal sendiri walaupun memakainya terbalik. Ibu hanya mengarahkan saja bagaimana memakai sandal atau sepatu yang benar. Biarkan anak belajar mandi sendiri walaupun lama dan menurut ibu tidak bersih. Biarkan anak belajar memakai pakaian sendiri walaupun terbalik dan menurut ibu tidak pas pasangan warnanya. Beritahu kalau memang baju yang dipakai terbalik. Keluarkan kata-kata bijak kalau baju yang dipakai kurang pas pasangan warnanya.

Mengingat betapa pentingnya peran ibu dalam pengembangan watak dan karakter anak, maka seorang ibu harus menjadi figur yang baik di mata anak-anaknya baik secara perkataan atau pun sikap, dan selalu menanamkan nilai-nilai agama agar anak mempunyai kecerdasan emosional dan spiritual. Untuk mencetak generasi yang baik, seorang perempuan sebagai calon ibu juga harus berpendidikan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Seorang perempuan tidak boleh berhenti belajar hanya karena berpikiran, “Ah! Nanti juga ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga!” Tidak ada ruginya seorang perempuan mempunyai pendidikan yang tinggi. Dengan ilmunya, sang ibu bisa mengajari anak-anaknya sehingga menjadi generasi yang berkualitas. Karena ibu adalah gudang ilmu dan guru pertama bagi anak-anaknya sebelum memasuki usia sekolah. Seorang ibu yang berkualitas baik akan melahirkan anak-anak yang berkualitas baik pula. Di balik kesuksesan anak ada ibu yang hebat. (*)

Guru SD Yayasan Al Muslim Tambun Bekasi

Close