Jurnalisme WargaOpini

Menggali Potensi Kecerdasan Anak Melalui Olahraga Tradisional (1)

Oleh: Ita Rosita Rosmala

Radarbekasi.id – Banyak pendapat yang mengatakan bahwa anak yang pintar sama halnya dengan anak yang cerdas, yaitu anak yang dapat menguasai segala jenis ilmu pengetahuan. Akan tetapi, sebenarnya bila ditilik dan ditelaah lebih lanjut, ada perbedaan antara anak yang pintar dengan anak yang cerdas. Perbedaannya yaitu, anak yang pintar adalah anak yang pandai dan memiliki ilmu, hal ini hanya sebatas dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan saja. Tak heran jika kepintaran lebih diidentikan dengan potensi dan prestasi akademik seseorang.

Orang yang pintar mampu menelaah apapun dengan sempurna sehingga tak heran jika orang pintar memiliki pengetahuan yang luas. Orang yang pintar dikenal dengan kedisiplinannya, sehingga ia mampu mengerjakan setiap hal yang diperintahkan kepadanya.

Namun kepintaran dibatasi oleh waktu dan proses. Orang pintar membutuhkan proses dan tahapan untuk mempelajari suatu hal terlebih dahulu dalam jangka waktu tertentu, sampai akhirnya ia mengetahui sepenuhnya akan hal yang dipelajarinya tersebut. Selain itu, orang pintar juga biasanya hanya bisa menjawab hal-hal yang dipelajarinya, dan terpaku pada hafalan bukan pengertian. Dengan demikian, sebenarnya semua orang berpotensi menjadi pintar, asalkan mau belajar dengan tekun sampai menguasai suatu hal dengan baik.

Berbeda dengan pintar yang membutuhkan proses, cerdas merupakan anugerah bawaan dari lahir dan tak bisa dicari. Oleh karena itu, orang cerdas seringkali berimprovisasi dan lebih kreatif dalam melakukan sesuatu. Kemampuan berpikir orang cerdas sangatlah cepat, sehingga ia sangat mudah mengerti, memahami, dan menangkap maksud dari suatu kondisi atau keadaan.

Baca : Menggali Potensi Kecerdasan Anak Melalui Olahraga Tradisional (habis)

Bagi orang cerdas, senjata utamanya adalah logika. Pengetahuan yang ia dapat dari teori hanyalah sebagai pendukung. Tak heran jika orang cerdas tidak hanya menguasai satu materi yang itu-itu saja. Biasanya orang cerdas mampu menguasai beberapa bidang tertentu, seperti musik, olahraga, seni, dan lainnya. Berbeda dengan orang pintar yang disiplin dan teratur, biasanya orang cerdas justru terlihat lebih santai. Namun bukan dalam arti negatif. Orang cerdas tahu kapan ia harus santai atau serius, karena orang cerdas sangat fleksibel. Orang cerdas lebih mengandalkan pikiran kritis dan pengalaman. Secara emosional, orang cerdas cenderung lebih stabil emosinya dibanding orang pintar.

Dalam hal ini, mengapa saya mengangkat judul menggali potensi kecerdasan anak melalui olahraga tradisional Indonesia? Karena menurut saya, olahraga tradisional (permainan rakyat) memiliki ruang lingkup yang cukup luas dan mumpuni untuk dapat menggali potensi kecerdasan anak lebih spesifik lagi, terutama potensi kecerdasan kinestesis. Lebih dari itu, olahraga tradisional Indonesia dapat dijadikan suatu alternatif kegiatan yang menyenangkan di samping semakin maraknya media sosial dan game-game online yang mampu menyita ketertarikan anak secara menyeluruh. Anak-anak zaman sekarang/“zaman now” mampu menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer atau gadget mereka masing-masing demi menyelesaikan segala bentuk tantangan- tantangan yang mereka hadapi. Atau demi menyelesaikan suatu game atau permainan yang mereka mainkan agar dapat beralih ke tahapan/level berikutnya. Dan tanpa sadar anak-anak masa kini telah diperbudak dengan maraknya ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Akan tetapi, lebih mirisnya lagi, segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sekarang ini tidak didasari dengan kesadaran penggunanya untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang tersebut dengan bijak sesuai dengan kebutuhan.

Gadget yang mereka bangga-banggakan tanpa mereka sadari akan mampu mematikan segala potensi dan kecerdasan yang sedang berkembang pada masa-masa tumbuh kembang mereka, terutama anak-anak, yang memang seharusnya berkembang pada tahapan usia mereka. Dengan tulisan ini saya ingin mengajak anak-anak Indonesia dan menyadarkan para orang tua untuk dapat mengajak anak-anak mereka kembali ke “dunia nyata”, bukan “dunia maya” atau dunia imajinasi yang memang tidak riil untuk mereka. Selain karena permainan rakyat atau olahraga tradisional sebagai aset budaya bangsa yang harus dilestarikan, digali, dan ditumbuhkembangkan, olahraga tradisional adalah permainan yang dapat mengisi waktu luang. (*)

Guru SD Al Muslim Tambun

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 17 =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker