Jurnalisme WargaOpini

Negeri ’Pemuja’ Youtuber

Oleh: Ilham Akbar

Radarbekasi.id – Suatu negeri akan menjadi makmur, apabila pendidikan di dalam negeri tersebut mempunyai semangat untuk menyebarkan ide-ide yang revolusioner. Pada saat ini pendidikan merupakan suatu hal yang paling menentukan dalam membawa negeri tersebut, menjadi negeri yang kokoh untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Apabila pendidikan di dalam negeri tersebut sudah berjalan dengan baik, maka tentu saja negeri tersebut, akan dipenuhi dengan orang-orang yang mempunyai semangat untuk membangun sebuah peradaban.
Memang membangun pendidikan yang mendorong agar rakyatnya mempunyai intelektual yang baik, merupakan sesuatu yang tidak mudah. Tetapi bukan karena kesulitan tersebut, kita harus membiarkan kebodohan tersebut berkeliaran di mana-mana.

Sebagai warga negara yang baik, maka sudah seharusnya kita membuat negeri ini menjadi negeri yang mengedepankan pendidikan yang bermutu.

Pendidikan yang bermutu akan terlihat dari bagaimana pendidikan di dalam negeri tersebut bisa melahirkan cendikiawan-cendikiawan yang tidak hanya berpikir secara normatif, tetapi juga harus mampu menenatang status quo dan diskriminasi yang sering kali menyiksa orang-orang yang tidak berdosa.

Jika kita dapat melihat ke belakang, ada beberapa bukti bahwa pendidikan yang bermutu bisa melahirkan seorang cendikiawan yang mempunyai kemampuan untuk menentang ketidakadilan yang ada di dalam negeri tersebut.

Misalnya mengenai keruntuhan rezim komunis di Uni Soviet dan beberapa negara di Eropa Timur pada tahun 1989, tidak terlepas dari suatu kontribusi cerdas para kaum cendikiawan yang ada di negeri tersebut.

Seperti Alexander Solzhenitysn (pemegang hadiah Nobel yang sarjana merangkap pengarang), termasuk cendikiawan yang memperjuangkan kebebasan berpikir sebagai sesuatu yang perlu untuk setiap masyarakat yang ingin maju.

Begitu pun dengan Leslie Holmes, dalam bukunya, ia mencoba merangkum beragam pendekatan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya yang berkembang untuk menjelaskan kejatuhan rezim komunisme di berbagai negara (terutama di Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur) sejak 1989.
Beragam pendekatan itu menjelaskan kejatuhan rezim komunis, karena faktor Gorbachev, kegagalan ekonomi, peran kekuatan oposisi, kompetisi dengan negara-negara Barat, koreksi dan reinterpretasi pada ajaran Marxisme (Budiardjo, 2008: 165).

Berbeda dengan para cendikiawan tersebut, di negeri kita sendiri justru pendidikan masih belum bisa melahirkan para cendikiawan yang berani menentang ketidakadilan yang selama ini masih sering kali menghampiri orang-orang yang tidak berdosa.

Alih-alih menciptakan pendidikan yang baik, tetapi justru di negeri kita ini, pendidikan seolah-olah menjadi tidak jelas, dan tidak bisa membuat generasi muda untuk mempunyai ide-ide yang revolusioner.
Misalnya saja yang terjadi baru-baru ini, di mana publik sempat dihebohkan dengan soal Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) Sekolah Dasar (SD), yang berada di Kota Serang. Pada soal tersebut, terdapat beberapa pertanyaaan pilihan ganda perihal Youtuber yang bernama Atta Halilintar.

Selain itu juga, di dalam soal tersebut dinyatakan bahwa Atta Halilintar adalah Youtuber dengan penghasilan sekitar Rp579 juta rupiah hingga Rp9 miliar per bulan.

Tentu saja dengan adanya hal tersebut, sudah menunjukkan bahwa negeri ini tidak mempunyai keseriusan dalam membangun pendidikan yang berfungsi, untuk mendorong agar para generasi muda mempunyai ide-ide yang revolusioner. Nampaknya juga, negeri ini lebih bersemangat untuk membangun generasi muda, agar menjadi seseorang yang menghasilkan uang yang cukup banyak.

Sehingga dengan adanya peristiwa mengenai Atta Halilintar tersebut, dapat menggambarkan bahwa ada suatu pegeseran paradigma mengenai pendidikan. Dimana yang awalnya pendidikan itu selalu dipandang sebagai sesuatu yang dapat mengubah orang yang awalnya bodoh, kemudian ia menjadi orang yang pandai.
Tetapi karena adanya peristiwa tersebut, pendidikan seolah-olah menciptakan paradigma baru, yaitu pendidikan kini dipandang sebagai sebuah cara untuk menjadikan seseorang untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.

Nampaknya negeri ini telah menjadikan pendidikan sebagai sarang kebodohan, sehingga di dalam sarang tersebut, para siswa-siswi tidak pernah mendapatkan suntikan intelektual yang dapat membuat dirinya menjadi seseorang yang mengutamakan akal sehatnya.

Bahkan kebodohan tersebut terus-menerus dipelihara sampai mereka menganggap bahwa kebodohan tersebut, adalah hal yang dapat membuat mereka menjadi seseorang yang sukses di masa depannya.
Pada saat ini, negeri kita tidak akan peduli, dengan sebarapa lama para siswa-siswinya menghabiskan waktu untuk membaca buku, tetapi dengan adanya peristiwa tersebut menunjukkan bahwa negeri kita akan peduli dengan para siswa-siswi yang menghabiskan waktunya untuk menonton Youtube.

Pada akhirnya, karena pendidikan kini sudah dialihfungsikan sebagai tempat untuk mendidik siswa-siswinya agar menjadi Youtuber, maka yang menjadi panutan bagi para siswa-siswi, bukan hanya para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga para Youtuber yang mempunyai penghasilan sampai miliaran rupiah.

Sehingga pantas saja jika negeri ini, mendapat julukan sebagai negeri pemuja Youtuber. Memang peristiwa tersebut, merupakan sesuatu yang sangat tidak pantas untuk tetap dianggap sebagai hal yang biasa.

Karena apabila pendidikan yang ada di negeri ini, telah bergeser untuk berkiblat terhadap para Youtuber, maka tentu saja hal ini akan membuat para generasi muda tidak mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis.

Lalu bagaimana Indonesia akan menjadi sebagai negara maju, jika para calon pemimpin di masa depannya saja telah diracuni oleh sesuatu yang membuat mereka menjadi tekurung di dalam sensasi yang tidak penting?

Maka dari itu, sudah seharusnya pendidikan yang ada di negeri ini dapat mendorong agar para siswa-siswi mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis.
Sekolah harus mempunyai inisiatif untuk memberikan wadah diskusi yang bermutu bagi para guru dan siswa-siswinya. Dan yang paling terpenting, sekolah harus menciptakan akal sehat kepada para siswa-siswinya, agar mereka mempunyai ide-ide yang revolusioner untuk menjadikan negeri ini sebagai negeri yang bermutu. (*)

Mahasiswa Universitas Serang Raya, Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Ilmu Hukum (FISIPKUM), Prodi Ilmu Komunikasi.

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close