BekasiBerita UtamaSosial

Dipaksa Untuk Bekerja

Fenomena PMKS di Kota Bekasi

Illustrasi Pengemis PMKS
Illustrasi Pengemis Anak – Anak

RadarBekasi.id – “Tisu bang, tisu…Sepuluh ribu dapat tiga, ”kata seorang bocah mungil kepada sejumlah pengendara yang berhenti di perempatan Jalan A Yani, Bekasi Selatan Kota Bekasi. Di tangannya, digenggam tiga pak tisu, sementara di dalam kantong plastik masih ada beberapa tumpuk tisu.

Tanpa alas kaki, bocah mungil itu terlihat lincah menawarkan tisu kepada sejumlah pengendara. Teriknya matahari siang itu, tidak menyurutkan dia menawarkan tisu kepada yang melintas. Bahkan sesekali tubuhnya disandarkan di samping mobil, tanpa rasa takut kakinya terlindas.

Radar Bekasi mencoba mendekatinya dan mengajak berkomunikasi. Bocah berusia 8 tahun ini mengaku bernama T, sejak 3 bulan lalu sudah berjualan tisu. Dia tidak sendirian, namun bersama beberapa rekan lainnya.

“Jadi beli gak bang, kok malah ngajak ngobrol,” kata dia sedikit memaksa.

Dia mengaku dalam sehari bisa menjual 10 hingga 15 pak tisu dengan harga Rp5 ribu setiap kantongnya. Uang yang dia dapat untuk makan sehari-hari, ”Ya bantu orang tua, kadang disuruh juga sih,. Eh untuk biaya sekolah,” katanya mencoba mengelak.

“Ya udah jadi beli gak bang, saya mau jualan lagi,” katanya sembari berusaha pergi, sebelum akhirnya Radar Bekasi membeli beberapa bungkus tisu.

Sementara itu, di teras minimarket Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dua anak sedang terlelap tidur. Bisingnya kendaraan disekitar SPBU tidak menggugah dia dari tidurnya. Satu anak mengenakan baju abu-abu, satu lainnya mengenakan baju berwarna hitam. Keduanya lusuh dan kotor.

Tidak lama berselang salah satu diantara mereka terbangun untuk mencari belas kasihan dari warga yang mengisi bahan bakar kendaraannya di SPBU tersebut. Tidak jarang warga memberikan uang koinnya, berjalan diantara antrian kendaraan yang menunggu giliran koin demi koin pun di terima olehnya. Tidak lama kawannya berbaju abu-abu terbangun setelah itu mereka berdua berjalan keluar area SPBU.

Setelah diberi uang, dikira mereka berdua akan pulang. Namun hanya berselang 10 menit anak berusia belasan tersebut kembali lagi namun dengan teman yang berbeda, sekaligus membawa sebungkus nasi. Sesampaiinya di area SPBU kembali, anak lelaki berbaju hitam tersebut menyantap nasi yang dibawanya sementara satu teman lainnya bergantian mengais belas kasih.

Kepada Radar Bekasi, salah seorang anak berinisial A (12) mengaku tinggal di Kota Bekasi bersama dengan Uwa (kakak dari orang tuanya). Awalnya A dibawa ke Kota Bekasi oleh ayahnya dengan dijanjikan untuk dijemput kembali, namun hingga saat ini tidak kunjung dijemput oleh sang ayah, sementara ia tidak mengetahui keberadaan ayah dan ibunya.

“Nggak (tinggal di rumah), kalau ketempat kakak yang di summarecon itu tau, jadi dia bilang kalau mau pulang, ya pulang. Kalau mau ke Jakarta, ya ke Jakarta sana, yang di Jakarta juga kakak tiri. Sebenernya mau pulang, tapi saya malas. Buat apa juga saya disana (rumah uwa) nggak ada yang bisa dibantuin,” ungkap anak berparas polos tersebut.

Ia memilih untuk menjadi pengemis dengan alasan ingin mandiri dan tidak ingin merepotkan keluarga yang dititipkan oleh ayahnya. Dalam satu hari ia bisa mendapatkan Rp100 hinggga Rp200 ribu untuk hidupnya sehari-hari.

Sementara hidup dijalanan, A selama ini tidur di minimarket yang berada di area SPBU maupun di lingkungan SPBU. Ia menolak untuk diajak ke panti rehabilitasi pengemis dan gelandangan, pasalnya ia merasa tidak bebas jika berada disana.

“Waktu itu pernah, kamu mau nggak diajak ke panti, saya nggak mau, gamau kan ninggalin teman-teman yang udah baik disini, orang panti (yang nawarin). Teman-teman juga diajak pada nggak mau, pada kabur semua, ada satu teman doang yang mau tinggal di panti. Saya malas kalau tinggal di panti, bisa sih main sama temen cuma di situ-situ aja,” terangnya seraya menatap penuh curiga.

Saat ditanya apakah ada yang meminta uang atau setoran hasil jerih payahnya mengemis, A menepis dengan mengatakan tidak ada yang meminta setoran dari hasilnya bekerja selama ini. ”Engga (ada yang minta), buat saya doang, kalau temen minta berapa gitu saya kasih. Kan saya kalau lagi banyak duit kan saya bagi-bagi,” imbuhnya sebelum pamit kembali mengemis.

Perjalanan pun dilanjutkan mengelilingi jalan-jalan arteri di Kota Bekasi, disimpang jalan Chairil Anwar terdapat ibu dengan dua anaknya mencari uang dengan cara mengelap kaca mobil menggunakan pembersih kaca. Berbagai respon ditunjukkan oleh para pengendara mobil mulai dari yang menganggkat tangannya memberikan isyarat tidak memberi uang sampai dengan yang memberikan uang kepada mereka.

Sementara itu, di sekitar jalan rawa Tembaga dijumpai sebuah keluarga dengan gerobak. Ya, dia kerap disebut dengan manusia gerobak. Keseharainnya memungut botol dan gelas plastik. Kepada Radar Bekasi dia mengaku bernama Zaini.

Dia bersama anak dan isterinya datang ke Bekasi sejak tahun 2005 lalu.  Dia bertolak dari Purwakarta ke Kota Bekasi dengan tujuan untuk memperbaiki nasibnya dengan alasan sudah tidak ada yang dapat dikerjakan di kampung halamannya. ”Belum (punya tempat tinggal), nggak ada yang merhatiin sih begini, kalau ada ya orang ngasih nasi lewat kasihan,” singkatnya.

Dari usahanya tersebut, ia mengaku bisa memperoleh keuntungan bersih Rp30 ribu setiap harinya. Dikampung halaman ia masih memiliki tempat tinggal, dua anaknya pun sudah bekerja namun ia menepis tidak ingin merepotkan anaknya karena sudah berkeluarga.

Ya, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) baik pengemis maupun pengamen di Kota Bekasi hingga saat ini belum di selesaikan dengan baik. Bahkan, Kota Bekasi pasca libur lebaran tahun ini akan diserbu para pendatang untuk mengadu nasib.

Sekretaris Dinas Sosial Kota Bekasi, Agus Harpa mengungkap keberadan pengemis di Kota Bekasi sudah jarang dijumpai sejak pemerintah Kota Bekasi kerap melakukan operasi bahkan juga menindak lanjuti pengemis yang menjadikan aktifitas mengais belas kasih tersebut sebagai profesi.

“Waktu itu kan ada operasi ya, kita kasih pengarahan mereka, kita Tanya ternyata ada yang mengkoordinir, terus kita cari yang mengkoordinirnya, ya kita kasih penjelasan lah. Jangan sampai datang ke Kota Bekasi untuk menjadi penyakit masyarakat. Kami pun kalau tidak bisa di sarankan dari awal, tidak bisa diberi tahu dengan halus mungkin nanti juga akan melakukan tindakan yang sesuai dengan hukum,” ungkapnya.

Sedikit membuka profesi pengemis ini, Agus menerangkan bahwa pengemis yang dijadikan sebagai profesi ini memiliki koordinator yang setiap harinya mengantar dan menjemput di berbagai persimpangan.

Mereka seringkali terjaring operasi mengaku berasal dari Indramayu dan Karawang. Pihaknya berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi keberadaan pengemis maupun PMKS lainnya di Kota Bekasi. Dari hasil mengemisnya, mereka diberi bagian seadanya oleh para koordinator.

Ketika terjaring operasi, sebagian besar dari mereka berasal dari luar Kota Bekasi. Selama ini pemerintah Kota Bekasi berkoordinasi dengan sejumlah balai rehabilitasi PMKS di wilayah Sekitar yang merupakan milik pemerintah Provinsi maupun Kementrian Sosial (Kemensos).

“Sehingga kami menyalurkannya ke tempat-tempat panti yang ada di Pasar Rebo, yang ada di Pangudi Luhur, termasuk yang ada di Djoyomartono kan punya kementrian. Orang dari luar 99,99 persen pasti orang luar jadi orang Bekasi ya nggak ada, pasti orang luar,” terangnya.

Dia menyarankan kepada para pendatang untuk tidak hanya modal nekat, namun juga memiliki keahlian yang siap untuk bekerja atau sudah memiliki keterampilan yang mumpuni. “Jadi dia datang itu bukan mau merepotkan pemerintah Kota Bekasi, justru harus punya skil dan kemampuan yang bisa nantinya membantu pemerintah Kota Bekasi juga tentunya,” imbuhnya.(sur)

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + 6 =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker