Jurnalisme WargaOpini

Menggali Potensi Kecerdasan Anak Melalui Olahraga Tradisional (habis)

Oleh: Ita Rosita Rosmala

Radarbekasi.id – Olahraga tradisional juga memiliki potensi untuk dapat lebih dikembangkan sebagai olahraga yang bisa membantu meningkatkan kualitas jasmani serta rohani. Selain itu, olahraga tradisional juga dapat menggali potensi kecerdasan anak. Dengan kembali dikembangkannya kiprah olahraga tradisional Indonesia, diharapkan anak-anak Indonesia bisa kembali menggali potensi kecerdasannya secara maksimal, baik itu kecerdasan afektif, kognitif, maupun kecerdasan psikomotorik. Yang memang pada hal ini sangat dibutuhkan penanganan yang tepat guna dan tepat sasaran.

Banyak sekali jenis olahraga tradisional yang bangsa Indonesia miliki, seperti gobak sodor, patok lele, egrang, gebuk bantal, dan lain-lain. Sebagai aset budaya bangsa, olahraga tradisional membutuhkan pengelolaan dan pembinaan yang lebih serius dan mendalam dengan semakin banyaknya anak-anak bangsa yang sudah meninggalkan warisan dan asset budaya bangsa ini. Olahraga tradisional harus memenuhi dua persayaratan yang berupa “olahraga” dan sekaligus “tradisional”, baik dalam arti tradisi yang telah berkembang selama beberapa generasi, maupun dalam arti sesuatu yang terkait dengan tradisi budaya suatu bangsa secara lebih luas.

Baca : Menggali Potensi Kecerdasan Anak Melalui Olahraga Tradisional (1)

Pentingnya olahraga tradisional dan kebudayaan adalah karena olahraga tradisional perlu dikembangkan demi ketahanan budaya bangsa Indonesia yang telah memudar, bahkan nyaris punah pada zaman sekarang. Hal yang terpenting yang harus dilakukan adalah menyadari serta memahami bahwa kebudayaan merupakan nilai-nilai luhur bagi bangsa Indonesia, untuk dapat diketahui dan dihayati tata cara kehidupannya sejak dahulu, saat ini, dan untuk masa yang akan datang, agar tidak tergerus oleh lajunya zaman.
Selain itu, olahraga tradisional merupakan salah satu aspek yang perlu mendapatkan prioritas utama untuk dilindungi, dibina, dikembangkan, dan diberdayakan, untuk selanjutnya diwariskan kepada anak-cucu generasi penerus masa yang akan datang. Akan tetapi, pada kenyataannya, anak-anak zaman sekarang lebih tertarik dengan teknologi masa kini, yang tidak menutup kemungkinan bila dibiarkan bisa merusak mental bahkan potensi kecerdasan mereka yang seharusnya dapat berkembang dengan pesat dan dapat dijadikan modal utama untuk kehidupan masa depan mereka.

Akan tetapi walaupun setelah melihat kenyataan yang terjadi tersebut, peran orang tua seakan mati suri. Jika anak rewel dan merajuk, orang tua akan lebih cenderung memilih menyodorkan hp, tablet, atau gadget mereka untuk dapat menenangkan anak-anak mereka, dan bukan memberikan anak pendekatan secara personal, memberikan pengertian atau pemahaman, serta mengajak mereka berdiskusi atau hanya untuk sekedar bermain bersama. Tapi semua itu tidak orang tua lakukan. Yang mereka lakukan hanyalah mencari cara bagaimana pada saat anak-anak mereka rewel dan merajuk, anak tersebut dapat segera diam dan kembali ke suasana kondusif, dan orang tua pun bisa kembali mengerjakan segala aktivitas mereka.
Sebenarnya, secara sadar, bukan hal tersebut yang anak butuhkan, karena yang mereka butuhkan hanya sekedar perhatian dan sedikit waktu luang untuk dapat menenangkan mereka. Waktu untuk dapat menyatu ke dalam dunia mereka, sedikit waktu luang untuk dapat bermain dan bercengkrama bersama, antara anak dan orang tua. Jadi, untuk para orang tua, kembangkan dan galilah segala potensi yang ada dalam diri anak-anak Anda melalui semua hal yang riil dan nyata. Jangan terpaku dengan dunia maya, karena peranan kita sebagai orang tua sangatlah bernilai dan berharga untuk dapat menggali segala potensi kecerdasan anak-anak kita untuk kehidupan dan masa depan mereka. Karena masa-masa terdahulu dan masa kini tidak mungkin dapat terulang kembali.

Hari-hari yang telah terlewati tidak akan pernah dapat terganti. Begitu pun dengan tahapan tumbuh kembang anak-anak kita, tidak mungkin dapat terulang kembali. Untuk para orang tua pada umumnya, dan saya sebagai ibu pada khususnya, semoga dengan tulisan ini dapat menyadarkan kita dan dapat menjadi inspirasi bahwa kita harus lebih bijak dalam bersikap kepada anak-anak kita. Berusahalah untuk dapat lebih dekat, dan terlebih lagi, dapat menyatu dalam setiap tahapan tumbuh kembang mereka. (*)

Guru SD Al Muslim Tambun

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close