Jurnalisme WargaOpini

Rahasia Angka 0

Oleh: Anton Kurnia

Radarbekasi.id – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nol dan kosong adalah dua kata yang berbeda. Nol adalah “bilangan yang dilambangkan dengan 0; tidak ada kenyataannya; tidak ada hasil”, sedangkan kosong bermakna “tidak berisi; tidak berpenghuni; berongga; hampa”.

Itulah sebabnya, nol dan kosong pada dua kalimat berikut ini tidak dapat dipertukarkan karena mengandung perbedaan makna:
(1) Janji-janji politisi umumnya nol besar.
(2) Mobil yang berhenti di halaman kantor Komisi Pemilihan Umum itu mengangkut peti-peti kosong.
Di sisi lain, dalam bahasa percakapan sehari-hari, orang sering menyebut bilangan 0 (nol) dengan kosong. Namun, tidak pernah sebaliknya: kosong disebut nol.

Kekeliruan seperti itu kerap ditemukan pada penyebutan nomor telepon. Pembawa acara kuis televisi, misalnya, tak jarang ketika mengajak penonton ikut berpartisipasi dalam acara yang dia bawakan berkata, “Baik, line telepon akan kami buka di nomor kosong delapan kosong sembilan triple tiga kosong kosong tujuh.” Percayalah, nomor telepon yang disebutkan itu sebenarnya 0809333007.
Namun, di ranah matematika, nol sesungguhnya sama dengan kosong. Hal tersebut bisa dirunut dari asal muasal etimologi kata nol itu sendiri. Bilangan nol yang kita kenal sekarang memiliki perjalanan yang cukup panjang.

Perjalanan tersebut bisa kita telusuri dari asal katanya. Dalam bahasa Inggris, bilangan nol disebut zero. Kata zero itu berasal dari kata bahasa Italia, zefiro, yang diserap dari bahasa Arab, safira, yang berarti kosong.

Perujukan bahasa Inggris ke bahasa Italia, kemudian dari bahasa Italia ke bahasa Arab, menunjukkan perjalanan konsep nol yang dibawa Leonardo Pisano. Matematikawan Italia tersebut belajar bilangan Hindu-Arab ke Aljazair, kemudian menyebarkannya ke seantero Eropa. Jadi, ruang kosong yang sebelumnya digunakan untuk menyatakan bilangan nol itu berasal dari bahasa Arab.

Namun, jika ditelusuri lagi, konsep angka nol Arab safira (kosong) atau sifr (nol) itu sesungguhnya adalah terjemahan dari kata Sanskerta (India) yang berarti kosong atau hampa. Orang India memang lebih dulu menemukan angka nol ketimbang orang Arab.

Jauh sebelumnya, bangsa Yunani Kuno memakai penanda tempat kosong dalam deret bilangan. Dipelopori Ptolomeus, ahli algoritma, mereka memperkenalkan nol dengan bentuk 0 seperti saat ini pada 130 Masehi.

Pada abad ke-7, Brahmagupta, seorang matematikawan India, memperkenalkan beberapa sifat bilangan nol. Sifat-sifat itu adalah suatu bilangan bila dijumlahkan dengan nol adalah tetap, sedangkan sebuah bilangan bila dikalikan dengan nol akan menjadi nol. Namun, Brahmagupta menemui kesulitan dan cenderung tersesat ke arah yang salah ketika berhadapan dengan pembagian oleh bilangan nol.
Hal tersebut terus menjadi topik penelitian pada saat itu, bahkan sampai dua abad kemudian. Tahun 830, matematikawan India lainnya, Mahavira, mempertegas kesimpulan Brahmagupta. Dia bahkan menyatakan bahwa “sebuah bilangan dibagi oleh nol adalah tetap”. Tentu saja itu salah.

Gagasan para matematikawan India selanjutnya dipelajari dan dikembangkan para matematikawan muslim. Ilmuwan Persia abad ke-9, Muhammad bin Musa Al Khawarizmi (780-850), yang dikenal sebagai “Bapak Aljabar” berkat bukunya, Kitab Al Jabr, yang menjadi acuan para ilmuwan Eropa, adalah yang pertama memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh yang melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Sistem itu disebut sebagai sistem bilangan desimal.

Sumbangan Al Khwarizmi untuk dunia tak hanya dalam matematika, tapi juga dalam bidang bahasa. Perlu dicatat, kata algoritma berasal dari kata algorismi, Latinisasi namanya. Nama belakang itu sesungguhnya berasal dari nama kota kelahirannya, Khwarizm (sekarang bernama Khiva, bagian dari Uzbekistan). Al Khwarizmi berarti yang berasal dari Khwarizm, seperti halnya Al Makassari pada nama Syekh Yusuf Alå Makassari bermakna Yusuf yang berasal dari Makassar untuk mengidentifikasi ulama dan pahlawan yang diasingkan ke Afrika Selatan akibat menentang pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Kembali ke angka 0, sistem desimal itu revolusioner dalam hal ia memiliki angka nol dan notasi posisional. Itu dianggap sebagai tonggak penting dalam pengembangan matematika. Pentingnya penemuan angka nol menggugah Al Khawarizmi untuk menciptakan seri lukisan 0, 0, 0.

Ilmu angka adalah alat, sarana untuk mencapai sesuatu. Di Eropa, ketika desimal nol Hindu dan matematika baru yang dimungkinkan olehnya menyebar dari dunia Arab, kata-kata yang memiliki akar kata sifr (seperti cypher yang berarti kode atau kunci rahasia) merujuk bukan hanya pada perhitungan, melainkan juga pada pengetahuan yang diluhurkan.

Maka, terlepas dari perbedaan konsep makna angka nol dan kata kosong dalam matematika dan bahasa, kedua kata itu sesungguhnya memperkaya bahasa Indonesia dan tecermin dalam karya sastra kita. Arifin C. Noer menulis sebuah lakon berjudul RT 0 RW 0, sedangkan Hudan Hidayat dan Mariana Amiruddin berduet menulis sebuah novel filsafat bertajuk Tuan dan Nona Kosong.

Bisa jadi, suatu kali Tuan dan Nona Kosong yang tinggal di RT 0/RW 0 menelepon ke nomor 0809333007 untuk mengikuti kuis televisi berhadiah satu miliar (dengan sembilan angka nol), tapi berakhir nihil tanpa menggondol hadiah. Siapa tahu? (*)

Esais, cerpenis, penerjemah, dan penyunting; pendiri Penerbit Baca.

Lebihkan

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 1 =

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker