Jurnalisme WargaOpini

Siapa yang Tak Siap Kalah?

Oleh: Tony Rosyid

Radarbekasi.id – Dalam kompetisi, menang kalah itu hal biasa. Siap bertanding harus siap kalah, sebagaimana siap juga untuk menang. Gak siap? Jangan ikut bertanding.

Salah satu syarat untuk ikut kompetisi, dan ini mutlak adanya, adalah kesiapan diri untuk kalah. Gak siap? Mundur. Gak mundur, maka pertandingan bisa berubah jadi tawuran.

Bagaimana cara siap untuk kalah?

Pertama, bermain fair. Ikuti aturan yang berlaku. Tak main curang. Orang yang curang berarti tak siap untuk bertanding. Kalau pun bertanding, ia akan menggunakan segala cara untuk menang. Di otaknya yang ada adalah “pokoknya menang”.

Semua aturan ditabrak dan norma diabaikan. Tak peduli pada etika, apalagi moral. Yang penting menang. Apapun risiko dan berapapun cost-nya akan ia bayar untuk sebuah kemenangan. Biarpun akan jatuh korban, atau terjadinya tawuran, gak peduli. Yang penting satu: menang!

Kalau wasit perlu dibeli, beli. Gak bisa dibeli, lakukan intimidasi. Gak mempan juga, nyawa bisa melayang. Keamanan di lapangan? Suap. Kasih upeti, atau berbagi kemenangan dengan mereka. Kalau ada orang-orang yang coba protes, ancam. Takut-takuti mereka agar suaranya tak lantang.

Cari aibnya untuk dibongkar. Pasti takut!

Kalau ada orang yang menghalalkan semua cara untuk meraih kemenangan, itu artinya ia tak siap untuk kalah. Kalau tak siap untuk kalah, mestinya tak boleh ikut kompetisi. Pasti bikin rusuh.

Kedua, siap menerima hasil, apapun itu. Dengan catatan, permainan fair. Kompetisi berjalan sesuai aturan yang berlaku. Jika ada sesuatu yang membuatnya kurang puas, ia bisa protes. Tentu, sesuai prosedur dan mekanisme yang tersedia. Bagaimana jika jalur yang ada pun tidak fair? Ini akan jadi masalah.

Makanya, PANITIA dan WASIT dalam sebuah kompetisi harus netral. Steril dari suap dan intimidasi. Jika tidak? Gaduh, konflik dan bisa melahirkan korban.

Selain kesiapan para pemain, dalam kompetisi, panitia dan wasit harus bertindak seperti Malaikat. Tak bisa disuap dan tak mempan diintimidasi. Ini mutlak jadi kebutuhan. Gak netral? Gawat!

Ketiga, semua pemain yang ikut dalam kompetisi mesti konsisten dalam posisinya sampai pertandingan selesai. Para pemain gak boleh ngegolin ke gawang sendiri. Sebab, ini akan membuat curiga. Orang akan nuduh ini bagian dari operasi dan kecurangan dari pihak lawan. Penyusup! Tuduhan ini yang akan muncul. Ini juga berpotensi menimbulkan kegaduhan.

Pilpres 2019 misalnya, ada dua kubu koalisi yang sedang berkompetisi: Kubu Jokowi vs kubu Prabowo. Kubu Prabowo didukung oleh lima partai: Gerindra, PKS, PAN, Demokrat dan Berkarya. Proses pilpres belum selesai. Maksudnya belum ada ketetapan hukum siapa jadi pemenangnya. Kubu Prabowo sedang menggugat di MK. Tanggal 14 Juni baru mulai sidang perdana.

Di tengah gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Partai Demokrat kabarnya sudah mulai merapat ke kubu Jokowi. Bukan sekadar melakukan komunikasi politik, tapi beberapa kali membuat pernyataan yang dianggap menyerang kubu Prabowo. Bahkan dilakukan terang-terangan. Dimulai surat “(terbuka)” Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang keberatan terhadap model kampanye Prabowo di Gelora Bung Karno (GBK).

Itu sebelum hari pencoblosan. Lalu diikuti secara maraton oleh pasukan partai di level bawah. “Setan gundul” segala sudah mulai jadi narasi politik.

Sikap Demokrat menunjukkan bahwa partai yang dikendalikan sepenuhnya oleh Ketua Umum-nya yaitu SBY, tak siap kalah. Secara politik, ini investasi buruk buat suara Demokrat untuk jangka panjang. Rakyat pasti membuat catatan tersendiri atas sikap ini.

Tidak saja buruk buat suara Demokrat, tapi juga berpotensi merusak karir Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke depan. Seorang putra Cikeas yang kabarnya sedang digadang-gadang untuk nyapres 2024. Kendati rakyat terus mempertanyakan: apa prestasi AHY? Di DKI saja tak diterima, bagaimana di tingkat nasional? Belum pernah magang dan tak ada pengalaman.

Tidak sedikit rakyat yang memiliki anggapan bahwa SBY hanya berpikir kekuasaan untuk anaknya. Tak lebih dari itu. Di berbagai medsos, suara rakyat sudah mulai menyerang rezim Cikeas.

Sikap SBY yang suka menyerang kubu Prabowo dan berhadap-hadapan dengan umat semakin membuat apatis rakyat, tidak saja kepada SBY, tapi juga kepada AHY. Artinya, AHY makin sempit ruang untuk promosi. Maksudnya, makin gak laku.

Kabar-kabarnya, SBY sebagai ketua partai sedang digoyang oleh sejumlah kader Demokrat. Mereka sedang mencari calon alternatif untuk merebut Demokrat dari tangan SBY dan keluarga. Apakah SBY masih terlalu kuat di Demokrat? Atau akan tergusur oleh manuver para kader? Kita tunggu.

Selain Demokrat, PAN kabarnya sedang berada dalam godaan. Setidaknya, komunikasi politik dengan istana sedang berjalan. Kabar selanjutnya, kita tunggu juga.

Kembali soal kompetisi, tentu akan enak ditonton dan hasilnya pun akan diterima dengan legowo oleh semua pihak jika para pemain siap untuk kalah. Selain syarat panitia dan wasit yang netral harus dipenuhi.

Para pemain yang curang, atau tak siap menerima hasil dalam kompetisi yang fair, atau suka menyerang gawang sendiri, mereka adalah para pecundang. Pemain-pemain yang tak siap untuk kalah.

Dan Indonesia, akan sulit menjadi negara tangguh jika elitnya diisi oleh orang-orang seperti itu. Bukan para pejuang yang bermoral, taat aturan dan memiliki prinsip-prinsip solidaritas yang kokoh. (*)

Pengamat Politik & Pemerhati Bangsa

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker