BEKACITIZENPendidikan

Literasi: Jalan Terjal Menuju Sertifikasi

Oleh : Siti Ropiah

Radarbekasi.id – Sertifikasi merupakan sesuatu yang diidamkan seluruh guru atau dosen, karena sertifikasi membawa dampak yang baik secara finansial, yaitu guru atau dosen sertifikasi mendapatkan hak berupa sejumlah uang dari pemerintah. Namun, tidak mudah untuk seorang guru atau dosen mendapatkan julukan guru atau dosen sertifikasi. Untuk mendapatkan julukan tersbut, mereka harus melalui beberapa tahapan, dari memiliki nomor induk guru yang dikenal dengan istilah NUPTK atau untuk dosen yang dikenal dengan NIDN. NUPTK dan NIDN pun didapat setelah mengajar beberapa tahun. Selain harus memiliki status guru dengan NUPTK atau dosen dengan NIDN, mereka juga harus mengajukan permohonan sebagai guru atau dosen sertifikasi dengan melampirkan beberapa syarat. Di antara syarat-syarat tersebut adalah menulis atau literasi baik berupa PTK atau Jurnal.

Literasi dalam dunia akademik merupakan keniscayaan. Bagi seorang guru, apalagi dosen, menulis sejatinya bukan suatu hal yang baru, karena para guru atau dosen telah melewati banyak proses literasi berupa karya ilmiah, baik skripsi atau tesis, pada saat menghadapi kelulusan dalam meraih gelar kesarjanaan, baik S-1 ataupun S-2. Dengan demikian, literasi merupakan sesuatu yang selalu mewarnai keseharian seorang guru atau dosen.

Namun, pada kenyataannya literasi menjadi sesuatu yang menakutkan dan sulit untuk dilakukan. Penyebabnya antara lain: rendahnya minat baca, praktik jual beli KTI, dan menjamurnya plagiarisme. Data UNESCO tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,001. Artinya, dari setiap 1000 orang, hanya 1 orang yang membaca. Tingkat melek huruf orang dewasa 65,5 persen. Sementara itu, Malaysia menempati angka 86,5 persen. Dua tahun sebelumnya, 2010, Programme for International Student Assessment (PISA) melansir data kondisi literasi dari 65 negara yang disurvei. Indonesia menempati urutan 64, dengan tingkat membaca siswa bertengger di urutan ke-57 dari 65 negara.

Praktik jual beli karya tulis ilmiah di kalangan akademisi tak dapat dimungkiri banyak terjadi. Hal ini terjadi karena rendahnya minat baca masyarakat, termasuk di kalangan akademisi yang memiliki mental tak terpuji sehingga timbul pemikiran untuk mencari jalan pintas dengan cara membeli karya seseorang atau dengan menggunakan joki dalam membuat karya ilmiah. Selanjutnya, kehadiran teknologi canggih berupa gawai yang berisi segala hal yang dengan mudah didapat, tidak disikapi dengan arif dan bijaksana, hingga memunculkan pemikiran yang negatif dengan cara plagiarisme.

Adapun solusi dari persoalan di atas, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pelatihan. Pelatihan terkait literasi harus diikuti oleh guru atau dosen. Dengan pelatihan tersebut, guru atau dosen akan memiliki pengetahuan terkait literasi. Biasanya, di dalamnya juga terdapat praktik menulis. Bahkan, banyak pelatihan memiiki tujuan agar terciptanya sebuah buku. Materi-materi pelatihan dapat meliputi cara-cara menulis, perlindungan terhadap hak cipta, dan swasunting naskah. Swasunting terdiri atas 3 item, yaitu: tata bahasa, logika, dan rasa bahasa. Menulis itu bebas dan berada pada otak kanan. Apa saja yang ada di hati dan pikiran dapat ditulis, kemudian dilakukan swasunting. Sunting pertama terkait dengan tanda baca. Sunting kedua terkait dengan pemisahan paragraf. Sunting keempat terkait dengan kata yang ada dalam KBBI, dan sunting-sunting lainnya. Selanjutnya adalah tahapan yang menggunakan otak kiri. Ketika otak kiri digunakan, akan muncul hasil yang logis, gurih, renyah, dan nikmat (didapat dari Kang Esep, pimred Guneman saat pelatihan di Al Muslim).

Selain itu, biasanya pelatihan menulis selalu bekerjasama dengan praktisi literasi seperti penulis di koran atau majalah. Bahkan, biasanya yang memberi materi justru para pimpinan redaksi surat kabar tersebut. Hal ini merupakan jalan bagi guru atau dosen yang mengikuti kegiatan pelatihan menulis, untuk memiliki sarana atau fasilitas agar karyanya dapat bertengger di surat kabar sehingga dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat.

2. Kegiatan MGMP. Biasanya, MGMP diselenggarakan oleh satu sekolah dengan bekerjasama dengan beberapa sekolah yang berada dalam satu wilayah yang sama. Demikian pula, MGMP dikaitkan dengan bidang studi yang sama. MGMP dilaksanakan dalam rangka menyamakan persepsi terkait materi bidang studi. Biasanya, MGMP menghasilkan RPP, silabus, dan kisi-kisi soal. Dari kegiatan MGMP ini, akan tercipta tertibnya administrasi guru dan melatih guru untuk berliterasi.

3. Grup literasi via gawai. Kehidupan Zaman now yang tidak dapat lepas dari kecanggihan teknologi komunikasi, tidak dapat lepas dari pesona gawai. Gawai tersebut dapat menjadi fasilitas bagi guru atau dosen untuk membentuk grup literasi. Grup literasi ini lah yang memicu guru atau dosen untuk selalu berliterasi dalam berbagai hal dalam kesehariannya. Hal ini sangat bermanfaat bagi guru atau dosen untuk mengasah kemampuan berliterasi. Karena tidak dapat dimungkiri, lingkungan akan sangat berperan terhadap diri seseorang. Demikian pula guru atau dosen. Bila lingkungan seorang guru atau dosen selalu berliterasi, dengan sendirinya mereka akan terbiasa berliterasi.

Menurut penulis, solusi yang ketiga ini lah yang sangat berpengaruh bagi seorang guru atau dosen dalam berliterasi. Karena literasi via gawai memiliki kelebihan, di antaranya: cepat, mudah, dan fleksibel. Cepat, penggunaan gadget tidak memerlukan tatap muka antarpenggunanya dan tidak akan terhalang walau berbeda tempat. Penggunaan gawai tidak terbatas waktu dan tempat sehingga informasi dapat dengan cepat disampaikan. Mudah, terkait dengan praktik literasi, baik berupa opini, puisi, cerpen, atau reportase, dapat langsung diungkapkan via WA atau email.

Fleksibel, kecanggihan teknologi yang satu ini turut mewarnai hingga ke setiap ruang kehidupan terdalam dari manusia. Ia memudahkan setiap aktivitas yang digeluti dan menjadikan dunia berada dalam gengaman. Jarak bukan lagi rintangan. Komunikasi bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. (*)

Guru di SMK Al Ishlah

Close