Berita UtamaPendidikan

Operator PPDB Gaptek

Salah Menentukan Titik Koordinat

Operator PPDB Gaptek
KOMPLAIN: Sejumlah orang tua siswa mendatangi kantor Dinas Pendidikan, Selasa (2/7). Kedatangan para orang tua siswa mengeluhkan terkait website PPDB daring yang tidak sesuai jarak. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI.

RadarBekasi.id –  Sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 di Kota Bekasi menimbulkan polemik. Berbagai keluhan dari orang tua wali murid terus diutarakan. Diketahui, sistem zonasi ditentukan atas persetujuan antara orang tua siswa dan operator di setiap sekolah. Namun masih terdapat kesalahan dalam penetuan titik koordinat tersebut.

Ya, jarak peserta Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) nol meter yang menjadi perhatian pada hari pertama kemarin menuai kritik dari berbagai pihak. Pada hari kedua kemarin setelah diperbaiki jarak siswa yang sebelumnya tercantum nol meter, Selasa malam kemarin terpantau berubah menjadi ratusan hingga satu kilo meter lebih.

Sebelumnya siswa yang mendaftar di beberapa sekolah di Kota Bekasi memiliki rentang jarak yang tidak wajar. Namun setelah dilakukan perbaikan, jarak antara rumah siswa dengan sekolah menunjukkan angka yang bervariasi mulai dari puluhan meter hingga 1KM lebih (lihat grafis).

Selasa kemarin, ratusan orang tua wali murid mendatangi kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi. Sejak pagi mereka berkumpul untuk memastikan jarak antara rumah dan sekolah yang akan dituju.

Dari keterangan orang tua wali yang hadir di kantor Disdik hingga siang kemarin, diketahui perubahan tidak hanya terjadi dari yang berjarak jauh dari sekolah menjadi lebih dekat, hal itu juga terjadi sebaliknya hingga disayangkan oleh orang tua.

Salah satu orang tua wali yang ditemui di kantor Disdik Kota Bekasi, Andri mengungkapkan bahwa sejak pukul 08:00 WIB hingga siang itu untuk memperbaiki jarak rumahnya menuju kesekolah SMPN 45 Bekasi.

Pasalnya, jarak yang didapatkan setelah melakukan pendaftaran disekolah dikatakan tidak sesuai dengan jarak sebenarnya, bahkan cenderung dua kali lipat lebih jauh.

“Seharusnya sekitar 600 meter, tapi ini menjadi 2.477 meter, ya dua kali lipat. Soalnya ada tetangga, dia benar 600. Nggak tau mungkin dari sananya,” ungkapnya saat diajak berbincang dengan Radar Bekasi, Selasa (2/7).

Dia juga mengeluhkan sejak pagi hari namanya belum dipanggil, bahkan cenderung tidak teratur, hingga pukul 11:00 WIB terlihat lima operator melayani orang tua wali yang hendak memperbaiki jarak rumah dan sekolah. “Sebenernya sih sistemnya nggak salah cuma yang ngaturnya (operator) itu jadi ribet begini. Sepertinya sih operatornya orang baru,” keluhnya sembari mengaku, operator PPDB dinilai gagap teknologi (gaptek).

Sementara itu Kepala Disdik Kota Bekasi, Inayatullah menjelaskan, kesalahan yang terjadi diantaranya didapati siswa dengan jarak nol meter tersebut merupakan kesalahan pada saat penentuan kordinat titik rumah siswa pada saat verifikasi pada tanggal 17 hingga 19 Juni lalu.

Inayatullah membenarkan bahwa tidak mungkin ada rentang jarak sekolah dengan rumah siswa nol meter, untuk itu pihaknya mengaku sedang memperbaiki kesalahan tersebut.

“Gini, itu kemarin karena menentukan titiknya, tapi sudah disempurnakan, ada sekitar tujuh orang ya tapi itu nggak taunya itu lokasi dibelakang sekolah jadi 0, lagi diperbaiki itu jadi salah menempatkan titik koordinatnya karena nggak mungkin kan 0 meter,” jelasnya saat dihubungi Radar Bekasi.

Untuk memperbaiki kesalahan tersebut, pihaknya menargetkan selesai selasa kemarin. ”Hari ini (kemarin.red) kami targetkan selesai untuk masalah jarak tersebut,” janjinya.

 Sementara Kepala Seksi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Disdik Kota Bekasi, Mawardi menilai kesalahan tersebut terletak pada saat orang tua wali murid yang salah menunjukkan titik rumah pada google maps. Pada saat melakukan verifikasi, katanya, orang tua sudah menandatangani titik koordinat rumahnya sesuai dengan ditunjukkan kepada operator.

Terkait dengan operator PPDB yang disiapkan, ia menilai operator yang disiapkan masih terbilang baru untuk menangani masalah tersebut. Karena pada tahun-tahun sebelumya belum diberlakukan zonasi serupa, “Kita juga kan operator kita masih baru, sebelumnya kan belum ada sistim zonasi ini,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto mengaku akan mengavaluasi apa yang terjadi pada PPDB 2019 ini. Menurutnya pada saat verifikasi dimana terjadi kesepakatan antara orang tua siswa dengan operator sudah diketahui jarak antara rumah ke sekolah tujuan bukan hanya menunjukkan rumahnya saja.

“Sejak awal itu salah satu yang kita perbaiki tahun depan. Namanya sistem, namanya komputer pasti ada kesalahan yang wajar. Tetapi pada saat itu seharusnya disepakati bener loh ibu sudah tau ya jaraknya sekian ratus meter sehingga tidak ada lagi kesan bahwa ada kesalahan sistem. Kalau sekarang masih ada dimungkinkan sehingga potensi masih ada,” jelasnya.

Sementara itu, proses PPDB tingkat SMP di Kabupaten Bekasi hingga saat ini beluma ditemukan keluhan atau kendala yang disampaikan wali murid. “Untuk saat ini belum ada apa-apa, karena yang mendaftar itu belum terlalu banyak. Sebab untuk jalur prestasi minggu lalu juga masih sedikit, dan hingga saat ino dari quota prasejahtera dari penerimaan 72 siswa yang mendaftar terdata baru 25 siswa,” ujar Guru SMPN 12 Tambun Selatan, Anshari kepada Radar Bekasi, Selasa (2/7).

Ia menuturkan, untuk besok (hari ini, red) merupakan pengumuman bagi siswa yang keterima melalui jalur prasejahtera. Kata dia, nanti yang akan ramai adalah untuk jalur zonasi. Sebab untuk jalur tersebut quotanya lebih banyak.

“Hingga kini, Alhamdulillah berjalan dengan lancar tanpa kendala yang berarti,” bebernya.

Ia juga menuturkan, awalnya untuk jalur prasejahtera ada kendala terkait persyaratan serta belum terkoneksinya dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Namun setelah ada komunikasi dan walimurid langsung mengurus ke dinas, hal tersebut tidak ada masalah.

Sementara itu salah satu orang tua siswa, Rudi Shobirin (38) menuturkan, dirinya untuk saat ini sebagai walimurid belum melihat ataupun mendapatkan informasi terkait kecurangan pada PPDB.

Sementara ia berencana memasukan anaknya di SMPN  1 Cikarang Selatan melalui jalur zonasi. “Ya saya sebagai orang tua murid mah belum menemui, sebab yang paling banyak itu pasti nanti jalur zonasi. Sebab quotanya banyak,” ujarnya saat ditemui di kantor Disdukcapil Kawasan Perkantoran Pemkab Bekasi, kemarin.

Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 1 Muaragembong, Imbar JK Pasha menuturkan, pihaknya pada zonasi prasejahtera melebihi quota. Dimana quota untuk prasejahtera hanya menampung 48 siswa. Namun yang mendaftar ada 100 lebih.

Imbar menuturkan, untuk menjaga kondusifitas pada PPDB. Ia akan memasukan bagi siswa yang tidak masuk akan dialihkan pada jalur zonasi.

“Untuk saat ini masih kondusif meskipun ada over kapasitas siswa yang mendaftar. Karena kalau di Muaragembong ini kan siswanya dari wilayah sekitar saja, sehingga kami pastikan tidak terjadi kendala pada proses PPDB tahun ini,” ujarnya.(sur/and)

Close