Jurnalisme WargaOpini

Kartini: Memaknai Emansipasi Perempuan dengan Benar (1)

Oleh: Nunung Nuraida

Radarbekasi.id – Hari Kartini memang sudah berlalu. Peringatan Hari Nasional yang dirayakan setiap tanggal 21 April itu hampir selalu sama. Apa kesamaannya? Kebaya atau pakaian tradisional. Ya, di setiap perayaan Hari Kartini, hampir sebagian besar orang merayakannya dengan mengenakan pakaian kebaya/tradisional daerah lainnya untuk perempuan, dan pakaian adat daerah untuk laki-laki, baik di kalangan pelajar, pegawai kantor, maupun masyarakat umum. Hal ini tentu tidak salah. Masyarakat ingin mengungkapkan rasa nasionalisme dalam merayakan Hari Kartini dengan menghargai kebudayaan asal dari mana Kartini berasal, yaitu tanah Jawa yang memiliki pakaian khas kebaya. Bahkan, di setiap foto-foto Kartini, dirinya tidak pernah luput dengan pakaian kebaya tersebut. Sehingga bisa dikatakan sosok Kartini identik dengan baju kebaya.

Akan tetapi, saya yakin, Kartini tidak ingin rakyat Indonesia hanya mengenangnya sebatas pada identitas dirinya, bahwa ia perempuan berdarah Jawa yang berkebaya. Ia ingin dikenang dengan apa yang telah ia perjuangkan untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta, khususnya kaum perempuan.

Terlahir sebagai putri dari keluarga ningrat, Kartini memiliki akses untuk bisa berkenalan dan berkomunikasi dengan bangsa Belanda yang pernah menjajah negara kita selama 3,5 abad lamanya, terutama dengan para putri-putri Belanda yang sering disebut dengan panggilan Noni Belanda. Karena akses inilah, ia pun akhirnya bisa berkirim surat dengan mereka dan mencurahkan kegalauan hatinya mengenai keadaan para perempuan di Indonesia. Dari kumpulan surat itulah, yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini melontarkan keinginannya untuk memajukan kaum perempuan. Ia berharap bahwa kaum perempuan dapat memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan sama halnya dengan kaum pria. Hal inilah kemudian yang memunculkan pemahaman emansipasi perempuan.

Baca : Kartini: Memaknai Emansipasi Perempuan dengan Benar (habis)

Lalu, apakah harapan dan keinginan Kartini tercapai? Melihat bagaimana kiprah para perempuan Indonesia saat ini, maka kita bisa menjawab ”Ya, emansipasi perempuan di Indonesia sudah tercapai”. Bahkan, pencapaiannya mungkin melebihi ekspektasi Kartini pada masa itu. Pada awalnya, Kartini berharap bahwa perempuan Indonesia bisa mengenyam pendidikan sama halnya dengan kaum pria. Tetapi saat ini, bukan saja pendidikan yang menyamai kaum pria (bahkan banyak yang lebih tinggi jenjangnya dari kaum pria), tapi para perempuan Indonesia mampu bersaing dalam bidang pekerjaan. Lihatlah bagaimana perempuan memiliki hak yang sama dengan kaum pria terhadap berbagai jenis profesi yang tersedia. Profesi yang umumnya didominasi oleh kaum pria, kini dapat pula dikerjakan oleh para perempuan hebat.

Kita ambil contoh para pilot pesawat terbang, masinis kereta dan supir angkutan umum hingga pengendara ojek. Hampir semua profesi tersebut didonimasi oleh kaum pria di masa silam. Tapi, siapa sangka bahwa saat ini, di masa milenial, kaum perempuan pun bisa dan banyak yang menjalani profesi ini. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, kehadiran internet yang hampir mengisi ruang-ruang hidup masyarakat Indonesia saat ini, permintaan akan jasa angkutan yang semakin tinggi, membutuhkan tenaga kerja yang terampil, pekerja keras dan berkemauan kuat. Dan pastinya profesi-profesi tersebut tidak membatasi pada gender. (*)

Guru SMK Al Muslim

Close