Politik

Ketua MUI dan Elemen Masyarakat Dukung Tuti

Spanduk
SPANDUK PENOLAKAN: Ini dia salah satu spanduk penolakan Calon Wakil Bupati Bekasi dari luar daerah yang dipasang Aliansi Ormas Bekasi. DOK/RADAR BEKASI

Radarbekasi.id – Sejumlah organisasi Islam dan masyarakat (ormas) di Kabupaten Bekasi mulai angkat bicara mengenai Calon Wakil Bupati (Cawabup).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cikarang Utara, Soleh Jaelani misalnya, meminta agar partai pengusung (Golkar) bisa memilih Wakil Bupati Bekasi dari kader partai Golkar, tapi bukan kader yang asal-asalan. Sebab, awalnya putra-putri Bekasi yang memimpin, jadi harus diserahkan kembali kepada putra-putri Bekasi juga.

“Dalam pemilihan Wakil Bupati ini, prosesnya bukan pemilihan langsung oleh masyarakat, tapi ini rekomendasi langsung dari partai pengusung, dan saya lihat sebelumnya Bupati dan Wakil Bupati dua-duanya dari partai Golkar. Jadi saya lebih sepakat dikembalikan kepada kader Golkar,” ujar Soleh, belum lama ini.
Pria yang juga masuk dalam Forum Komunikasi Kyai Kabupaten Bekasi ini menyampaikan, antara Tuti Nurcholifah Yasin dengan Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja sudah kenal dekat, sehingga sinergitas keduanya apabila dipasangkan menjadi Bupati dan Wakil Bupati akan bisa sinergi dan berjalan baik.

Namun, ia menegaskan, apabila yang dipasangkan orang yang tidak saling mengenal sebelumnya, maka roda pemerintahan bisa tidak berjalan dengan baik di Kabupaten Bekasi.

“Jadi kalau sudah sama-sama kenal, untuk membangun Bekasi bisa berjalan sesuai yang diharapkan masyarakat Bekasi. Dan saya sebagai Ketua MUI mendukung Tuti Nurcholifah Yasin sebagai Wakil Bupati Bekasi,” beber Soleh yang juga menjabat sebagai Seketaris MUI Kabupaten Bekasi ini.
Ditempat yang sama, Sekjen Aliansi Ormas Bekasi (AOB), Amoy menegaskan, AOB akan menjadi garda terdepan mengantarkan Tuti Nurcholifah Yasin sebagai Wakil Bupati Bekasi. Ia mengklaim, sangat mengenal baik Tuti, sehingga AOB memutuskan untuk mendukung sepenuh hati.

Selain itu, kata Amoy, AOB menolak keras kalau ada Cawabup dari luar daerah Kabupaten Bekasi.

“Kami di AOB yang tergabung dari dari masing-masing penjuru, bisa dibilang empat penjuru pancar, terdiri dari 26 ormas. Sejak awal kami sudah menyatakan sikap, bahwa menolak Cawabup dari luar Bekasi,” tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Jawara Jaga Kampung (Jajaka), Damin Sada. Dia mengatakan, sebenarnya dirinya tidak akan ikut campur mengenai pemilihan Wakil Bupati Bekasi, asalkan semua calon nya berasal dari warga Bekasi.

Akan tetapi, saat mendengar ada calon dari luar Bekasi yang ikut mendaftar, Damin merasa terpanggil untuk terlibat.

“Terus terang, saya pribadi kalau yang ikut mencalonkan orang Bekasi semua, saya tidak akan ikut campur. Masa bodo. Tapi karena disini ujug-ujug ada orang luar Bekasi yang mendaftar, jadi saya harus ikut campur,” tegas Damin.

Lanjut Damin, misalkan yang menjadi Wakil Bupati orang Bekasi, setidaknya masih mau memikirkan daerahnya sendiri. Tapi kalau orang dari luar Bekasi yang menjadi Wakil Bupati, belum tentu peduli.

Dengan begitu, ia meminta seluruh elemen yang ada di Bekasi bisa mendukung penolakan Cawabup dari luar Bekasi.

“Saya berharap, tokoh, ulama dan ormas yang ada di Bekasi harus mendukung orang Bekasi, karena etikanya seperti itu. Dari kita untuk kita, kalau tinggal duduk dikasih orang, enak amat. Kalau sampai ada yang dukung orang luar, saya sumpahin hidupnya melarat seumur-umur,” tukasnya.

Sementara itu, Tuti Nurcholifah Yasin mengaku, alasan dirinya mendaftar sebagai Cawabup Bekasi, karena merasa memiliki Kabupaten Bekasi, dan ingin membantu Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja membangun Kabupaten Bekasi agar lebih maju, lebih bersih, dan lebih baru.

“Saya hanya ingin membangun Kabupaten Bekasi bersama Bang Eka. Niat saya ikhlas bantuin Bang Eka. Jadi visi misi saya adalah untuk membantu, jadi bagaimana beliau mengarahkan saya,” ucapnya.

Terpisah, salah satu Cawabup dari luar Bekasi, yakni asal Karawang, Ahmad Marzuki menanggapi penolakan itu merupakan hal yang biasa dalam dunia politik. Tinggal bagaimana memberi pengertian kepada masyarakat. Karena yang terpenting, dimana bumi kita pijak, disitu langit harus dijunjung. Artinya, harus bisa mengikuti atau menghormati adat istiadat dimana pun berada.

“Mungkin mereka tidak paham, sehingga butuh sentuhan, diajak bicara, dan mereka butuh dikasih pemahaman. Insya Allah kalau tujuannya satu, demi memakmurkan masyarakat Bekasi, tidak akan ada masalah,” tandas Marzuki. (pra)

Tags
Close