Jurnalisme WargaOpini

Guru Sesuai Zaman

Oleh : Siti Mugi Rahayu

Radarbekasi.id – Sekurangnya ada empat unsur yang dapat memajukan pendidikan yakni; guru, sistem atau kurikulum, sarana atau infrastruktur dan lingkungan atau budaya. Menghadapi masa depan, tentu empat unsur ini harus terus di-update. Guru, kurikulum, sarana, dan lingkungan menjadi bagian yang mutlak harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Apakah sedemikian harusnya? Jawabannya tergantung pada seberapa besar kita menyimpan harapan kemajuan pada pendidikan itu sendiri.

Singkatnya, jika empat faktor yang memengaruhi kemajuan pendidikan tidak diperbarui, maka kemajuan mungkin hanya tinggal impian. Akan sulit menemukan kemajuan jika kita menggunakan semua fasilitas jadul, baik itu guru, sistem pendidikan, sarana, maupun lingkungan. Atau jika hanya salah satu yang diupayakan dan komponen yang lainnya masih menggunakan baju lama, sementara kita ada di masa yang penuh dengan teknologi. Semua unsur tentunya harus berbenah mempersiapkan masa depan agar kita tidak jadi replika pendidikan tradisional di zaman milenial ini.

Jika melihat mana paling utama, gurulah jawabannya. Guru menjadi penopang inti. Inti dari kemajuan adalah pendidikan dan inti dari pendidikan adalah guru. Dengan demikian, guru harus menjadi titik utama pembenahan. Kesejahteraan dan kemajuan kualitas guru perlu diperhatikan demi kemajuan bangsa. Melalui sertifikasi, pemerintah sudah memberikan jalan kesejahteraan yang lebih baik kepada guru dibandingkan pada masa-masa yang lalu.

Peningkatan tunjangan dan kesejahteraan itulah yang membuat minat terhadap pendidikan keguruan dan profesi guru di Indonesia pun semakin meningkat. Namun, guru jangan hanya bersedia menikmati kesejahteraannya tanpa kerelaan meng-upgrade dirinya. Pendidikan di Indonesia harus mampu menghadapi tantangan globalisasi di era Revolusi Industri 4.0 dan menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Guru menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan menuju masa depan Indonesia yang lebih cerah.

Siapa tahu ke depan, profesi guru di Indonesia seperti di Finlandia, begitu diidamkan. Di Finlandia, gaji gurunya dua kali lipat dari gaji guru di Amerika Serikat. Persaingan pastilah akan ketat. Gaji yang besar akan menuntut standar minimal yang tinggi bagi guru. Finlandia mengharuskan guru bergelar master sekalipun untuk mengajar anak sekolah dasar.

Bisa jadi, menjadi guru di zaman mendatang akan menghadapi persaingan yang jauh lebih berat dibandingkan hari ini. Banyaknya orang yang berminat menjadi guru mungkin akan mengubah pola perekrutan dan pembinaan guru. Bagaimana dengan guru sekarang yang tidak mau meng-upgrade dirinya?

Perkembangan zaman memaksa guru terus meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Ini tentu saja kita sepakati. Tantangan menjadi guru menjadi semakin besar. Generasi Z yang dihadapi guru sekarang ini butuh pendampingan lebih. Namun, keberadaan guru yang tidak mau meng-upgrade dirinya inilah tantangan terbesar pendidikan nasional.

Bayangkan, peserta didik kita didominasi generasi Z yang terlahir di era digital dan dalam pesatnya teknologi. Generasi ini lahir pada periode 1995 – 2010. Mereka lebih mudah dan cepat menyerap teknologi terbaru. Guru-guru zaman sekarang ada di lingkaran anak-anak milenial tersebut, padahal mayoritas guru-guru yang sekarang ada adalah guru-guru yang lahir dan dibesarkan di era sebelum era 4.0. Lalu, jika guru-gurunya tidak bersedia melompat ke zaman serba canggih dewasa ini, bagaimana perubahan akan terjadi dan menghasilkan kemajuan? Justru hanya akan menyisakan beban berat bagi si milenial yang harus belajar dalam atmosfer masa lalu.

Untuk itu, sekolah dan guru pun harus bisa menerapkan pendidikan berbasis teknologi digital. Ini salah satu upaya mendekatkan diri dengan zaman mereka. Ketiga pusat Pendidikan, yang terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat harus saling mendukung dan menguatkan.

Pendidikan berbasis teknologi digital adalah sistem yang memanfaatkan teknologi seluas-luasnya dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Tentu saja keberadaan internet membantu proses pendidikan berbasis digital ini berjalan baik. Dengan adanya teknologi, dipastikan proses belajar mengajar akan meluas tidak hanya berkutat pada buku paket dan buku tulis yang dimiliki siswa, atau terbatas oleh empat bidang tembok yang disebut kelas, namun teknologi memungkinkan siswa dan guru berselancar menemukan pengetahuan lebih dalam lagi.

Penggunanaan teknologi dalam pendidikan sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendasar bagi dunia Pendidikan zaman sekarang. Hampir semua negara maju yang memiliki sistem Pendidikan terbaik sudah mempersiapkan diri bersaing dalam menciptakan dan mengembangkan teknologi yang bisa dipergunakan dalam menunjang proses Pendidikan berjalan lebih sempurna,

Melihat persfektif pendidikan yang berubah secara ekstrem seperti ini, guru lama mana yang tahan? Jawabannya ada pada jiwa masing-masing guru tersebut. Keberadaan guru memang tak bisa tergantikan karena guru punya kasih sayang yang bergitu digadang-gadang tak akan mampu tergeserkan oleh teknologi. Namun, guru yang tetap bergeming dengan statusnya sebagai guru jadoel tetap tak akan bisa memenuhi kebutuhan anak-anak didik zaman now.

Tegas sekali mereka bukan cuma butuh kasih sayang dan belaian manusia, namun pendidikan merupakan proses utuh yang melibatkan berbagai komponen lain, termasuk kemajuan zaman.
Jadi, zaman memang menuntut guru berubah mengikutinya. Seperti sabda Rasulullah SAW: “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” (*)

Guru SMA Al Muslim Tambun

Satu Komentar

  1. Sangat inspiratif.
    Sekolah dan guru tidak perlu lagi mencurigai perkembangan teknologi dengan melarang siswa membawa gadget ke sekolah. Nyatanya, siswa adalah digital native yang kesehariannya tak terlepaskan dari gadget dan internet. Justru sekolah harus melengkapi sarana pembelajaran dengan wifi.
    Jangan marahi siswa yang bawa gadget ke sekolah, tapi tegur siswa yang tidak membawa gadget ke sekolah, karena sumber belajar ada disana.
    Wallahu ‘alam.

Close