BEKACITIZENOpini

Tantangan Nakhoda Baru PDIP Kota Bekasi

Oleh: Denny Bratha

Radarbekasi.id – Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan (DPP PDIP) telah menunjuk Tri Adhianto sebagai nahkoda baru di Kota Bekasi. Melalui Konferensi Cabang (Konfercab) 14 Juli 2019, Tri resmi memimpin partai berlambang moncong putih. Berbagai persoalan dan tantangan, baik di internal maupun di eksternal, menunggu untuk segera diselesaikan satu demi satu.

Konfercab sejatinya bukan sekadar transisi kepengurusan, lebih dari itu: ini adalah momentum evaluasi kepemimpinan partai di semua tingkatan, sekaligus konsolidasi struktural untuk membumikan ideologi serta mengawal agenda dan cita-cita partai.

PDI Perjuangan —seperti yang termaktub dalam Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Partai Kongkres IV— menegaskan bahwa ia berideologi Pancasila dan UUD 1 Juni 1945. Partai yang memiliki watak dan jatidiri kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial.

Ideologi, bagi PDI Perjuangan, adalah semacam api penerang. Ia juga kompas yang menunjukan arah, sekaligus energi penggerak. PDI Perjuangan adalah satu-satunya partai di Republik Indonesia yang konsisten mewujudkan cita-cita Bung Karno untuk mewujudkan tatanan masyarakat berlandaskan Trisakti: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Ideologi merupakan kata kunci dalam pergerakan partai. Tanpa ideologi, partai hanya tunggangan kepentingan orang per orang, dijadikan alat untuk memuaskan hasrat kekuasaan, dan mengeruk keuntungan pribadi. Tanpa Ideologi, seorang pemimpin tidak akan melebur bersama rakyatnya.

Pemahaman ideologi inilah yang penting dipahami, diyakini, dan diimplementasikan Tri Adhianto dalam memimpin roda organisasi partai lima tahun ke depan.

Jabatan publik Tri Adhianto sebagai Wakil Wali Kota Bekasi merupakan angin segar bagi PDI Perjuangan. Seluruh kader berharap Tri Adhianto mampu membawa perubahan positif yang signifikan bagi partai.

Meski demikian, memimpin partai sebesar PDI Perjuangan bukan perkara mudah. Dibutuhkan hati yang ikhlas, kerja keras, pengorbanan waktu tenaga dan materi, serta kepiawaian kepemimpinan yang handal.

Memimpin partai politik jelas berbeda dengan memimpin birokrasi.Ditunjuknya Tri Adhianto sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi oleh DPP Partai tentu bukan tanpa alasan. Meskipun tergolong orang baru di partai, namun Tri Adhianto dianggap memiliki tarikan nafas yang sama secara ideologis.

Dalam konstelasi politik lokal, kader menaruh harapan besar agar Tri Adhianto melakukan konsolidasi partai sampai akar rumput secara masif sehingga mampu merebut kembali pucuk kekuasaan eksekutif yang dulu pernah dipegang PDI Perjuangan Kota Bekasi.

Dengan 12 kursi hasil Pemilu 2019, PDI Perjuangan Kota Bekasi sudah mengantongi tiket untuk bisa mencalonkan sendiri pada Pilkada 2023/2024 mendatang.

Tri adalah figur paling potensial mengantikan Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, yang juga merupakan Ketua DPD Golkar Kota Bekasi. Namun, tanpa persiapan yang matang, partai dengan kekuatan terbesar pun akan tumbang melawan partai yang telah mempersiapkan diri sedari awal dan mengorganisir internalnya dengan baik.

Tugas kepartaian pertama yang harus dilakukan Tri Adhianto adalah melakukan Konsolidasi Struktural mulai dari tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC), Ranting dan Anak Ranting.

Hal ini sangat penting mengingat Tri termasuk “orang baru”. Tidak hanya membutuhkan perjumpaan fisik, tapi juga pertemuan emosi, hati, dan pikiran untuk menyamakan gerak dan langgam seluruh struktural partai. Tentu pengurus ingin mendengarkan langsung visi dan komitmen Tri Adhianto.

Kedua, sebagai partai modern, PDI Perjuangan Kota Bekasi juga membutuhkan pembenahan Administrasi Kepartaian. Yang utama adalah mengadakan atau membangun sekretariat mandiri, sehingga partai memiliki aset berupa bangunan hak milik. Kemudian menyediakan infrastruktur penunjang kesekretariatan yang modern.

Perlu diketahui, PDI Perjuangan adalah partai politik satu-satunya di ASEAN yang bersertifikat ISO 9001:2015 sejak 2017 lalu —standar internasional dalam sebuah sistem manajemen untuk pengukuran mutu organisasi.

Ketiga, tantangan lain yang akan dihadapi Tri Adhianto adalah Kaderisasi. Ini tidak sebatas melakukan pemantapan Ideologi pada kader yang sudah ada, namun juga menciptakan kader-kader baru yang militan.

Rekruitmen terhadap tokoh-tokoh pontensial dari berbagai segmen perlu dilakukan untuk memperkuat dan memperluas jangkauan jaringan partai di semua lini. Partai harus beradaptasi dengan tuntutan perkembangan zaman sehingga mampu bergerak dinamis di semua medan.

Terlebih, di tengah derasnya arus “Radikalisme”, dibutuhkan kader yang mantap secara idelogis, mantap organisasi, mantap personalia (kader), mantap program dan mantap sumber daya.

Keempat adalah Sinergi Tiga Pilar Partai, yaitu Eksekutif, Legislatif dan Struktural. Seluruh program dan kebijakan daerah yang dilahirkan oleh eksekutif (Tri Adhianto sebagai Wakil Wali Kota) dan legislatif (Fraksi PDI Perjuangan) harus selalu bersinergi dan selaras dengan semangat Pancasila dan jalan Trisakti.

PDI Perjuangan Kota Bekasi harus selalu hadir dalam setiap persoalan kerakyatan, dan berdiri paling depan dalam menghadapi setiap ancaman yang menganggu kedaulatan Pancasila.

Semua cita-cita partai tersebut tergantung kepada Tri Adhianto. Seorang ketua DPC ibarat nahkoda dari sebuah kapal besar. Ia harus berani menghadapi badai dan terjangan ombak.

Dengan keyakinan politiknya, ia harus mempunyai tujuan yang pasti, sigap membaca medan, dan terus menyalakan harapan bagi awaknya. Pada akhirnya, keberhasilan seorang nahkoda adalah membawa kapal selamat sampai tujuan. Semoga! (*)

Kader Pengurus DPC PDIP Kota Bekasi Periode 2015-2019/Wartawan Senior.

Close