Metropolis

Pemkot Kekurangan Dokter Hewan

RadarBekasi.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi masih kekurangan dokter hewan untuk mengecek kesehatan hewan kurban yang mulai dijajakkan sejumlah pedagang di wilayah Kota Bekasi.

Berkaca pada tahun sebelumnya, rata-rata jumlah hewan yang dipotong di titik pemotongan hewan kurban ada sekitar 35.000 ekor yang terdiri dari sapi, domba, kambing dan kerbau.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Bekasi Momon Sulaeman mengatakan, saat ini jumlah dokter hewan disiagakan pemerintah daerah ada lima orang. Angka ini, kata dia, bertambah dua orang dibanding 2018 lalu yang hanya ada tiga dokter.

“Kita tambah dua orang dari pegawai kontrak yang direkrut pemerintah daerah,” kata Momon ketika dikonfirmasi Radar Bekasi.

Mengantisipasi kekurangan dokter hewan, pihaknya menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Pada 2018 lalu, Pemerintah Kota Bekasi menteken kesepakatan bersama (MoU) dengan IPB untuk mengerahkan bantuan dokter hewan sebanyak 50 orang di Kota Bekasi.

“Dari dulu kita memang menggandeng IPB untuk membantu meringankan tugas pemerintah dalam mengawasi hewan kurban yang beredar di masyarakat,” ujarnya.

Berdasarkan catatannya, jumlah hewan kurban yang dipotong pada tahun 2018 lalu mencapai 35.000 ekor. Angka ini naik sekitar 5.000 dari tahun 2017 lalu yang menembus sekitar 30.000 hewan kurban yang disembelih.

“Untuk lokasi pemotongannya dari data tahun lalu ada 1.399 titik yang tersebar di 12 kecamatan Kota Bekasi,” tukasnya.

Sementara itu, Sekretaris Distanikan Kota Bekasi Supriyanto menambahkan, lembaganya telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kekurangan dokter hewan tersebut.

 Upaya itu di antaranya melatih tenaga kelurahan menjadi tenaga kesehatan hewan, dan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dalam melakukan pelayanan kesehatan.

Menurut dia, hewan kurban yang hendak dijual patut diperiksa kesehatannya. Bila tidak diperiksa, khawatir menimbulkan penyakit bagi masyarakat yang mengkonsumsinya.

Sedikitnya ada empat jenis penyakit yang kerap menyerang hewan kurban, yakni semi katarak atau pink eye, kudis atau scabies pada kambing, cacing hati pada sapi atau fasciolosis serta pilek atau rhinitis akibat terserang virus.

“Keempat penyakit itu paling sering menyerang hewan kurban. Penyebabnya bervariasi, ada yang bawaan sejak lahir, lingkungan yang jorok dan fisik hewan yang memang sedang menurun,” ujarnya.

Meski ada beberapa penyebab, namun yang paling dominan adalah lingkungan yang kotor. Pemilik harus rutin membersihkan kandang hewannya setiap hari dan selalu berupaya menjauhkan makanan ternak dengan feses yang dibuang hewan. Jangan sampai rumput yang hendak dimakan, tercemar oleh fesesnya sendiri.

Selain mengganggu kesehatan manusia, kata dia, hewan yang terserang penyakit juga tidak dianjurkan oleh syariat Islam untuk dijadikan kurban. Apalagi ada empat syarat bahwa hewan layak disembelih yaitu aman, sehat, utuh dan halal (ASUH).

“Kalau syarat itu tidak terpenuhi, hewan tidak boleh dijual atau dipotong sampai sembuh. Kami akan selalu melakukan pengawasan pada hewan itu,” jelasnya.

Dia menambahkan, tren hewan yang dipotong setiap tahun memang selalu bertambah. Ini menunjukkan, tingkat perekonomian masyarakat membaik dan kesadaran mereka untuk merayakan Idul Adha juga meningkat khususnya di Kota Bekasi. (pay)

Close