Jurnalisme WargaOpini

Pendidikan Penuh Makna

Oleh: Annisa Budi Akhlani

Radarbekasi.id – Sudah tak asing ya, bagi kita dengan kata ’Pendidikan’. Sebuah kata yang dari dulu dianggap oleh banyak orang sebagai hal penting dan fundamental untuk dilakukan. Tapi, benarkah kita mengenal makna ’Pendidikan’ itu dengan selayaknya? Saya ingat, dalam buku yang pernah saya baca, yaitu buku dengan judul: Tujuan Pendidikan, Esensi dan Aspek-aspek Filosofis karya *Alfred North Whitehead* dikatakan bahwa, ada 3 tahap dalam pendidikan yang pasti kita lalui, yakni:
(1). Tahap Romantika
(2). Tahap Presisi
(3). Tahap Generalisasi.

Pada tahap romantika, sejak saya usia 6-14 tahun atau ketika saya sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP), saya memaknai pendidikan itu dengan tolak ukur bisa membaca, menulis, menghafal huruf-huruf abjad dan dapat nilai tinggi, dan mungkin. Pada dewasa ini tolak ukur itu terkadang masih menguasai pikiran saya, bahwa pendidikan hanya bertugas untuk membuat saya bisa baca, tulis dan menghafal.

Sampai disitu saya memaknai pendidikan. Dan kalau tolak ukur yang saya sebutkan di atas tadi tidak terpenuhi, saya menganggap pendidikan itu payah, tidak bisa memberikan apa yang saya mau, seketika itu saya memusuhi pendidikan. Pada tahap romantika ini pun membuat saya beranggapan bahwa pendidikan identik dengan saya sekolah Formal (SD, SMP dan SMA), dan yang paling mengenaskan, kalau saya tidak bisa baca, tulis dan menghafal, orang pertama yang kecewa adalah ibu saya. Tanpa berfikir panjang ia akan datang ke sekolah saya dan bertemu dengan guru saya, kemudian menuntut, kenapa anak saya tidak bisa baca, tulis, menghafal dan kenapa nilainya tidak bagus?
Sekolah macam apa ini?

Pendidikan apa saja yang diajarkan disini?
Duh, kasihan ’pendidikan’, seolah ia menjadi momok yang hina ketika tidak bisa menjawab dan memberikan apa yang diharapkan oleh kita. Begitulah saya memaknai pendidikan pada tahap romantika.

Memasuki tahap presisi ini, usia saya 14-18 tahun, pendidikan bagi saya adalah bagaimana ia membentuk saya menjadi pribadi yang dewasa. Ya, dewasa dalam segala hal. Duh, terkadang saya malu mengungkapkan hal ini, tapi inilah fakta. Pada tahap presisi, saya berharap pendidikan dapat membuat saya dikenal banyak orang, pendidikan mampu membuat saya menjadi sorotan di sekolah pada saat saya SMA. Bahkan, sangat konyol, saya berharap pendidikan selalu bisa membuat nilai-nilai mata pelajaran saya tinggi kemudian menjadi rangking satu dengan tujuan agar laki-laki tertarik dengan saya karena saya pintar. Maklum ya, pada tahap ini saya menuju dewasa madya, hehe.

Pada tahap presisi ini saya sangat senang ketika menjadi pusat perhatian, dan berharap pendidikan mampu membuat saya eksis dimana dan kapan pun. Huft, lagi-lagi tugas yang saya berikan pada pendidikan semakin berat pada tahap presisi ini.

Sahabat-sahabatku, jangan berhenti membaca tulisan saya, karena tulisan ini belum selesai. Mungkin ada diantara kalian pernah mengalami hal yang sama dengan tulisan saya di atas, atau bahkan ada sebagian yang justru geram dengan tulisan saya yang memaknai pendidikan dengan begitu egoisnya, mencari keuntungan pribadi untuk diri saya.

Tapi jangan khawatir, saya sudah bangun dari tidur panjang saya. Seiring berjalan proses pendidikan saya, sampai sekarang saya masuk pada tahap generalisasi, usia 18-22 tahun. Ya, saya sedang kuliah di salah satu sekolah tinggi agama islam. Saya mahasiswi semester VI di sana, usia saya sekarang 20 tahun.

Sejak saya memasuki tahap generalisasi ini, ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Semua persoalan yang ada pada tahap romantika dan presisi tadi, kini telah dijawab oleh pendidikan sendiri. Pendidikan lah yang merubah pola pikir saya, pendidikan lah yang membuat saya lebih luas dalam memaknai sesuatu. Pada tahap ini saya mengetahui bahwa ternyata ada banyak tujuan mulia dari pendidikan.

Tujuan utama pendidikan adalah ’Memanusiakan Manusia’. Tahap generalisasi inilah yang membuat saya mengerti bahwa pendidikan bukan sekedar mampu membuat kita bisa baca, tulis, menghafal dan membuat kita bisa eksis serta tersorot oleh orang banyak. Tapi lebih besar dari itu, pendidikan dapat membuat saya memanusiakan diri saya sendiri khususnya, dan umumnya memanusiakan manusia lain.

Tidak, tidak. Jangan pernah pikir bahwa pendidikan tak ada nilai guna, jangan pikir bahwa bisa membuat kita putus asa, jangan berpikir bahwa pendidikan itu mempersulit kita, jangan pikir bahwa pendidikan hanya sebatas formalitas belaka. Dalam memaknainya, justru ada paradigma yang perlu kita tanam dan yakini dalam diri kita, bahwa pendidikan adalah salah satu alat untuk menjawab semua persoalan dalam kehidupan kita. (*)

Menteri Pendidikan BEM STAI Haji Agus Salim

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker