Jurnalisme WargaOpini

Stop Komersialisasi Haji

Oleh: DADI DARMADI

Radarbekasi.id – Hingga Maret 2019, diperkirakan lebih dari 4 juta orang Indonesia telah mendaftar haji. Artinya, antrean haji akan semakin panjang.

Andaipun tahun ini kita hentikan (moratorium) pendaftaran calon haji, dengan asumsi kuota haji yang didapatkan pemerintah sebanyak 220 ribu jamaah per tahun, perlu waktu lebih dari 19 tahun untuk memberangkatkan semua calon jamaah haji (CJH). Waktu yang sangat lama dan panjang. Pertanyaannya: mengapa orang-orang Islam di Indonesia selalu bermimpi bisa naik haji?

Banyak calon jamaah haji harus rela menanti belasan hingga puluhan tahun. Di Kalimantan Tengah, saat ini daftar tunggu calon haji mencapai 19 tahun. Di Purbalingga, Jawa Tengah, calon haji harus menunggu 22 tahun.

Bahkan, di Sulawesi Selatan, antreannya sampai 30 tahun. Fakta tersebut menunjukkan, sekali lagi, bahwa gairah dan semangat orang Indonesia untuk berhaji sangatlah besar. Sayang, kesempatan untuk benar-benar bisa melaksanakan haji itu semakin lama semakin mengecil.

Untuk itu, hemat saya, yang mendesak dilakukan adalah bagaimana memaksimalkan kuota yang tersedia. Atau memperjuangkan kuota haji yang lebih besar bagi jamaah Indonesia. Hentikan komersialisasi haji. Hentikan pula politisasi haji. Sudah bukan saatnya lagi mengiming-imingi calon jamaah haji.

Bayangkan, dengan uang pendaftaran Rp25 juta, para CJH harus ikhlas mengendapkan uangnya tersebut di bank, sebelum melunasi sisa biaya hajinya belasan tahun bahkan puluhan tahun kemudian. Sebuah pengorbanan dan ujian kesabaran yang luar biasa.

Barangkali salah satu tugas pemerintah dan ormas-ormas Islam sekarang adalah memberikan edukasi kepada masyarakat tentang syarat, rukun, dan wajib haji yang benar. Pada saat yang sama, mereka juga harus mencarikan solusi dan alternatif yang bisa menjawab dahaga kaum muslimin untuk berziarah ke Tanah Suci.

Sejak masa kolonial, memang minat orang Islam di Hindia Belanda untuk pergi haji tidak pernah surut. Meski banyak kendala, jumlahnya malah semakin meningkat. Persoalan izin, paspor, tiket mahal, hingga pembatasan kuota seakan tidak pernah menjadi kendala berarti.

Konon, pernah ada suatu masa di mana hampir seperempat dari total jamaah haji datang dari wilayah Nusantara. Menurut ukuran orang Belanda pada masa kolonial dulu, memang banyak orang Islam yang secara tulus ingin mencari kepuasan batin dengan berhaji.
Sebagian datang ke Makkah untuk mencari pahala, sebagian lain mencari ilmu. Tapi, tidak sedikit pula yang ingin mendapatkan pengalaman keagamaan mendalam.

Para santri dan cerdik pandai juga berbondong-bondong mencari ilmu di Tanah Suci. Sebagian di antaranya menjadi ulama besar, baik di Makkah ataupun ketika kembali ke tanah air.

Sebelum ada kampus-kampus modern di Makkah dan Madinah, mereka mengaji di ribat-ribat atau berguru kepada syekh-syekh terkemuka di dalam dan sudut-sudut pelataran Masjidilharam.

Tapi, ada pula yang punya niat lain dalam berhaji. Konon, nama dan gelar yang didapatkan sekembalinya dari haji akan membawa kesuksesan dan keberkahan hidup.
Uang dan harta yang dibawa ibadah ke Makkah akan membawa berkah berkali-kali lipat. Tidak heran jika Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah (1925) menuliskan bahwa ada jamaah haji kita yang membawa padi sambil bertawaf. (*)

Peneliti Haji dan Umrah, Direktur Advokasi dan Knowledge Management PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker