CikarangKriminal

Melawan Petugas, Tatang Didor

Pengedar Sabu-Sabu Jakarta Bekasi

Melawan Petugas, Tatang Didor
TERTUNDUK : Tersangka pengedar narkotika jenis sabu-sabu, Tatang Winandar (32) nampak tertunduk saat dihadirkan dalam ungkap kasus di Aula Mapolres Metro Bekasi, Selasa (23/7) sore. KARSIM PRATAMA/RADAR BEKASI

RadarBekasi.id – Tatang Wiandar (35), seorang pria yang bekerja sebagai sopir di Tanjung Priok, nampak berjalan dengan kondisi kaki sebelah kanan yang pincang menuju Aula Mapolres Metro Bekasi, Selasa (23/7) sore. Kakinya pincang karena luka tembak yang dia alami setelah melakukan perlawanan ketika ditangkap polisi, Minggu (14/7) lalu.

Kemarin, Tatang tidak berjalan sendirian. Tapi dia bersama dua orang rekannya yakni A dan S. Mereka bertiga menggunakan pakaian tahanan warna jingga untuk dihadirkan pada ungkap kasus yang dilakukan Polres Metro Bekasi.

Ketiga orang ini merupakan pengedar narkotika jenis sabu-sabu yang ditangkap terpisah. A dan S ditangkap lebih awal atas kepemilikan sabu-sabu di Tarumajaya, Sabtu (13/7). Mereka berdua mengaku mendapatkan barang tersebut dari Tatang.

Pihak kepolisian melakukan pengembangan atas informasi itu hingga mengetahui keberadaanTatang.

Kemudian, polisi akhirnya menangkap Tatang di Jalan Raya Tarumajaya, Desa Pantaimekar berikut barang bukti berupa sabu-sabu seberat satu gram.

Saat diinterogasi, Tatang mengaku masih menyimpan sabu-sabu di Apartemen Mediterania Boulevard, Jakarta Pusat. Dia pun diminta menunjukkan lokasi dan polisi berhasil mengamankan satu paket sabu-sabu seberat 100 gram.

Kasat Narkoba Polres Metro Bekasi, AKBP Arlon Sitinjak mengatakan, di lokasi itu Tatang mencoba merampas senjata milik petugas. Sehingga petugas mengambil tindakan tegas dengan menembak kaki kanannya.

“Jadi pelaku TT ini mencoba melakukan perlawanan, saat kita minta untuk menunjukan sabu miliknya yang disimpan di apartemen. Makanya kita memutuskan menembak kakinya,” kata Arlon saat ungkap kasus di Polres Metro Bekasi, Selasa (23/7).

Tatang, kata Arlon, merupakan pengedar yang menjual sabu-sabu di wilayah Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi dan Jakarta Utara. “Pelaku ini sudah lama, sasaran penjualan dia ke konsumen umuran 20 sampai 45 tahun. Pelaku mengaku mendapatkan sabu dari wilayah Jakarta Utara, dan sekarang kita masih melakukan pengejaran,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Tatang mengaku sudah tiga tahun menjadi pengedar narkoba. Hal itu dilakukan karena upah sebagai sopir mobil tidak mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

“Saya sering edarkan di wilayah Jakarta Utara. Ini sengaja saya lakukan untuk nyari tambahan-tambahan buat kebutuhan sehari-hari, sampingan sebagai sopir,” ucapnya.

Menurutnya, upah yang didapatkan sekitar Rp50 ribu sampai Rp150 ribu setiap kali mengantarkan sabu ke konsumen. Biasanya, sabu yang diantar sekitar satu gram.

“Kadang saya dikasih upah Rp50 ribu sampai Rp150 ribu setiap kali mengantar sabu per satu gramnya, dan saat ditangkap di Tarumajaya saya sedang janjian dengan teman yang mau mengambil sabu,” ungkapnya.

Mengenai peristiwa penembakan, ia mengaku tidak hendak melakukan perlawanan petugas. Dirinya beralasan hendak mencoba menghubungi pihak keluarga untuk memberi tahu bahwa dirinya ditangkap polisi. “Tadinya saya mau keluar, mau nelpon keluarga, dan petugas mengejar, akhirnya saya ditembak,” bebernya.

Atas perbuatannya, Tatang dikenakan pasal 114 ayat 2 sub pasal 112 ayat 2 undang-undang republik Indonesia nomor 35 tahun 2009, tentang narkotika, dengan ancaman hukuman mati, atau pidana paling singkat enam tahun, dan maksimal 20 tahun penjara.(pra)

Close