Berita UtamaPeristiwa

Waspadai Orang Terdekat

Kekerasan Terhadap Anak Meningkat

RadarBekasi.id – Kasus kekerasan terhadap anak di kabupaten Bekasi masih tinggi. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bekasi mencatat, kasus kekerasaan pada anak di Kabupaten Bekasi setiap tahunnya mengalami peningkatan. Rata-rata pelaku kekerasaan dilakukan oleh orang terdekat.

Data yang dimiliki DP3A Kabupaten Bekasi pada tahun 2018 kekerasaan kepada anak sebanyak 26 kasus. Sementara hingga pertengahan tahun 2019 ini sudah ada 15 kasus. Demikian dikatakan Kasi Data Kekerasaan Perempuan dan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupatena Bekasi, Iwan.

Dia menjelaskan, kekerasaan pada anak bervariasi, mulai dari katagori kekerasan secara fisik maupun non fisik atau verbal.  Katagori kekerasan secara fisik, seperti pemukulan dan penganiyayaan. Sementara non fisik, seperti bicara dengan kasar yang membuat orang menjadi setres, membully dan lain sebagainya.

Menurutnya, pada umumnya pelaku kekerasan terhadap anak orang terdekat. Bisa saja dilakukan orang tua, saudara, kerabat, atau teman-teman korban sendiri. “Kalau penyebab kekerasaan terhadap anak itu bervariasi, bisa saja orang tua sendiri, karena emosional sesaat, adanya juga yang dilakukan orang lain. Pokoknya laporan yang kami terima bervariasi,” ujarnya saat dimintai keterangan diruang kerjanya. Selasa (23/7).

Selama ini, DP3A Kabupaten Bekasi selalu menerima laporan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang difasilitasi satuan tugas kekerasaan ditingkat kecamatan, dan ditingkat desa. Walaupun ada beberapa korban yang langsung datang DP3A.

“Kita itu punya mintra P2TP2A, yang memang dibentuk oleh Dinas, mereka yang memberikan informasi ke Dinas kalau ada tindakan kekerasaan. Rata-rata kekerasaan sering terjadi diwilayah padat atau perkotaan, karena masyarakatnya sudah hitorogen,” sambungnya.

Selain itu, kata dia, ada juga laporan mengenai pemerkosan dan pencabulan, hal ini terjadi karena penomena zaman, sehingga siapa saja mudah mengakses film-film pornodan mencoba mempratekannya, bisa juga dari faktor pergaulan yang tidak terkontrol oleh orang tua. “Yang kami terima laporannya, ada yang pelakunya orang dewasa, seumuran juga ada. Tapi kebanyakan pelakunya diatas korban,” ucapnya.

DP3A Kabupaten Bekasi dalam menangani kasus sebatas memediasi dan mendampingi korban sampai keranah hukum. Misalkan kasusnya sampai keranah hukum, tapi kalau proses hukum itu ranahnya pihak berwajib (polisi).

Bahkan terkadang ada beberapa korban yang sampai setres dan trauma setelah kejadian. Jika ada yang seperti itu, DP3A akan siapkan psikolog, untuk memulihkan kembali daya mentalnya. Pasalnya, banyak terjadi korban tidak mau keluar rumah, takut bertemu dengan orang lain.

“Sifatnya kami hanya mendampingi, karena masyarakat belum tahu betul, harus melapor kemana, jadi tugas kami mengarahkan, dan mendampingi. Kami juga akan berikan motivasi, apabila ada korban yang trauma. Biasanya kasus pelecehan, dan pemerkosaan, yang membuat korbannya trauma,” ungkapnya.

Menurutnya, setelah dibentuknya DP3A,  kasus seperti serupa mulai terungkap,”Peningkatan kasus kekerasan pada anak ini, bukannya kami tidak berhasil, justru itu keberhasilan kami menyampaikan sosialisasi ke masyarakat, bahwa dengan adanya keberadaan dinas ini masyarakat bisa melapor. Kalau dulu masyarakat tidak tahu mau melapor kemana,” tukasnya.

Masih Iwan, dari beberapa kasus uang sudah ditangani, ada pelaku yang harus ditahan (penjara). Tapi itu tergantung kasusnya, keluarga korban, dan lingkungannya. “Mengenai penahanan pelaku, itu tergantung kasusnya, kalau emang harus masuk ranah hukum, kita sarankan melapor ke pihak kepolisian, dan kita akan mendampingi, jangan sampai korban menginginkan kejelasan hukum, tapi didiamkan,” bebernya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Bekasi, Iptu Aliani menambahkan, kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Bekasi banyak disebabkan penyalahgunaan media social (Medsos).

Ia menyampaikan, perkara anak yang ditanganinya lebih didominan kekerasan seksual terhadap anak yakni pencabulan dan pemerkosaan. ”Pada tahun 2018 kami mendata 32 perkara, dan terhitung Januari – Juli 2019 ada 16 perkara yang kami tangani,”ujar Aliani, Selasa (23/7).

Wanita berhijab ini menuturkan, penggunaan gadget oleh anak perlu ada pendampingan dan pengawasan oleh orang tua. Kata dia, saat ini orang tua juga sudah harus melek digitalisasi untuk kepentingan masa depan anak.

Aliani juga merasa prihatin jika  seorang anak harus menjadi korban orang orang yang tidak bertanggung jawab. Meskipun sudah ada langkah untuk menghilangkan trauma terhadap anak, ia menyarankan para orang tua untuk mengawasi lebih intens lagi.”Sebab mencegah itu lebih baik daripada mengobati,”jelasnya.

Bahkah, saat ini kasus anak yang sedang ditanganinya, ada seorang anak di bawah umur dengan usia 15 tahun atau anak yang duduk dibangku sekolah menengah atas (SMA). Diperkosa oleh temennya, dan digilir.”Awalnya adanya pertemuan tersebut dipicu dari komunikasi melalui medsos. Atau kasus kasus lain juga diawali dengan  berkomunikasi di medsos,”katanya.

Untuk menekan banyaknya korban korban pelecehan seksual  dan kekerasan terhadap anak. Aliani mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), dan KPAD.

Terpisah, Wakil Ketua KPAI Kota Bekasi, Rusham kepada Radar Bekasi menambahkan, gadget menjadi salah satu penyebab kekerasan terhadap anak. Menurutnya, semakin parah ketika pengawasan maupun pendidikan yang berasal dari keluarga sebagai kelompok yang terdekat dari individu masing-masing anak lalai. “Nah memang persoalan gadget ini memang menghawatirkan ketika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang utuh dari keluarga,” ungkapnya.

Dia mengaku, secara umum pada tahun 2018 total pengaduan yang masuk tercatat sebanyak 159 kasus, sementara tahun 2019 hingga bulan Juli ini tercatat 47 kasus. Kasus tersebut didominasi oleh kekerasan psikis dan kekerasan seksual.

Pihaknya mengakui terjadi peningkatan meskipun tidak signifikan dalam periode yang sama, peningkatan tersebut didorong keterbukaan masyarakat Kota Bekasi untuk melaporkan kekerasan yang terjadi dilingkungannya.

“Masih dominan memang kasus kekerasan seksual yang masuk di KPAD, itu yang memang kita dampingi, yang kita advokasi. bahkan sekarang menurut saya adalah peran masyarakat begitu sangat dibutuhkan, artinya untuk menangani kasus kekerasan anak itu bukan hanya tugas KPAI kota bekasi tapi juga tugas kita bersama,” imbuhnya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka kekerasan terhadap anak, diantaranya dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat hingga ditingkatan RT dan mendorong keterbukaan masyarakat. Dengan adanya kegiatan tersebut masyarakat diharapkan mengesampingkan ketakutan akan aib yang terjadi. (pra/and/sur)

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close