Dahlan IskanTokoh

Misteri Yingying (2-Habis)

Oleh : Dahlan Iskan

Radarbekasi.id – Pagi itu Emily dihampiri sedan hitam. Di hari yang sama dengan hilangnya Zhang Yingying. Tak pelak lagi mobilnya sama: Saturn Astra empat pintu.

Pengemudinya membukakan pintu. Samping depan. Wajahnya dia ingat benar. Saat itu Christensen mengaku sebagai polisi. Yang lagi melakukan penyamaran.

Rupanya begitulah teknik menculik yang ia pelajari. Harus mengaku polisi. Agar dipercaya.

Pagi itu Emily hampir saja mau. Tapi ada gerak Christensen yang agak mencurigakannya. Ada dorongan agak memaksa di badannya. Seperti agak memaksa segera masuk.

Emily justru curiga. Ia mundur. Lalu lari. Sambil menelepon polisi. Dan mem-posting kejadian itu di facebooknya.

“Saya tidak akan lupa wajahnya,” ujar Emily.

Itu berbeda dengan yang terjadi atas Zhang Yingying. Yang memang lagi buru-buru. Belum terlalu paham Amerika pula.

Siang itu Zhang berjalan dari kampus. Dari laboratorium. Dia harus naik bus kota. Tiba di pemberhentian, belum ada bus. Zhang lihat-lihat video. Di layar HP-nya. Tentang tata cara naik turun bus kota.

Rupanya terlalu asyik. Tidak melihat busnya sudah dekat. Zhang tidak memberi tanda akan naik bus itu. Kebetulan tidak ada penumpang yang turun di situ. Maka bus itu pun terus melaju.

Zhang ketinggalan bus.

Lalu mengirim WA ke kantor pemasaran apartemen tadi. Yang mengabarkan keterlambatannya untuk tanda tangan sewa apartemennya.

Saat menunggu bus berikutnya itulah tawaran datang. Dari Saturn Astra hitam empat pintu. Christensen juga mengaku polisi. Yang lagi menyamar.

Zhang naik ke mobil itu. Di perempatan berikutnya Saturn Hitam belok kiri. Ke arah utara. Ke North Goodwind Avenue. Ke apartemen Christensen.

Tidak jelas apakah Zhang tidak minta turun. Ketika mobilnya menuju lokasi yang tidak semestinya.

Ataukah Zhang dibius.

Atau dipukul sampai pingsan.

Atau entahlah.

Sampai di apartemen, Zhang diperkosa. Lalu dipukuli. Dengan pemukul bola baseball. Sampai kepalanya pecah. Darah berserakan. Sampai ke dinding-dinding.

Christensen lantas memotong kepala Zhang. Juga bagian-bagian tubuh yang lain. Untuk dibuang. Entah di mana.

Setelah Christensen dinyatakan sebagai tersangka, polisi melakukan pemeriksaan TKP. Diketahuilah ada bekas-bekas ceceran darah itu. Meski sudah dibersihkan.

Cincangan tubuh Zhang pasti dibawa keluar dari apartemen. Itu terlihat dari gerak anjing pelacak. Yang mengendus keluar apartemen. Tapi hanya sampai garasi. Setelah itu si anjing tidak bisa melakukan apa-apa.

Christensen pun diadili. Tidak di kota Campaign. Pengacaranya minta agar peradilan bisa dilakukan di kota lain. Untuk mendapat suasana yang netral.

Di Campaign terlalu banyak teman Zhang. Teman sedarahnya. Tekanan bisa besar. Dari mahasiswa di Urbana Campaign.

Hakim mengabulkannya. Christensen diadili di kota Peoria. Masih di negara bagian Illinois. Satu jam naik mobil dari Campaign.

Tapi hakim juga mengizinkan live streaming. Yang bisa diikuti di layar yang dipasang di pengadilan Campaign.

Ayah ibu Zhang juga didatangkan ke Amerika. Untuk melihat peradilan itu. Tapi ibunya terus menangis. Dia pilih anaknya kembali. Dibanding harus makan biaya besar di Amerika.

Seorang pengacara turunan Arab juga menggalang dana. Untuk orang tua Zhang. “Target dana yang kami kumpulkan USD 500 ribu,” kata Roaa Al Heeti. Pengacara kasus imigrasi di Campaign. Yang tampak selalu berjilbab itu. “Sekarang sudah terkumpul USD 159 ribu,” katanya. Atau sudah setara hampir Rp 2 miliar.

Christensen terus menolak tuduhan jaksa. Ia tidak mau mengaku sebagai pembunuh Zhang.

Pengacaranya juga kesulitan. Tidak mungkin bisa membebaskan Christensen. Yang maksimal bisa dilakukan adalah: jangan dijatuhi hukuman mati. Target pengacara: bisa dihukum seumur hidup.

Perkara ini memang terlalu menarik perhatian. Sampai harus diadili di pengadilan federal. Bukan pengadilan lokal. Ancaman hukumannya memang tertinggi: hukuman mati.

Hanya saja Illinois termasuk negara bagian yang sudah menghapus hukuman mati. Sehingga, misalkan Christensen  dijatuhi hukuman mati, pelaksanaannya harus di Indiana. Negara bagian di sebelahnya.

Juri begitu sulit memutuskan. Kecenderungannya memang hukuman mati. Kecuali Christensen berubah di dua sikap.

Pertama, mengaku bersalah.

Kedua, memberitahukan di mana mayat Zhang dibuang. Atau dipendam. Atau diapakanlah.

Christensen tetap tidak mau mengaku.

Mayat Zhang tetap misterius.

Pengacara juga mencoba membelokkan perkara ini ke soal kejiwaan Christensen.

“Saat pembunuhan itu dilakukan jiwa Christensen lagi di ground zero. Lagi di titik terbawah,” ujar pengacara.

“Perkawinannya gagal. Pacarnya pun membuat ia sulit,” tambahnya.

Terbukti, kata pengacara, pagi-pagi itu Christensen membeli rum. Minuman keras. Berarti jiwanya lagi terguncang.

Tapi terdakwa tidak mau dibawa ke ahli jiwa. Juga tidak akan mau menjawab pertanyaan ahli jiwa.

Tapi juri tetap ragu untuk menjatuhkan hukuman mati.

Kamis lalu pun juri memutuskan: Christensen dijatuhi hukuman seumur hidup. Tepat dua tahun setelah pembunuhan itu dilakukan.

Mayat Zhang tetap tidak ditemukan.

Di kamar apartemennya, Zhang meninggalkan buku harian. Yang bisa bercerita betapa disiplin gadis ini. Juga betapa dia rindu pada pacarnya di Tiongkok. Yang sudah sepakat akan segera menikah. Bila Zhang sudah bergelar doktor nanti.

Zhang bertekad akan belajar keras. Agar cepat lulus.

Waktunya diatur sangat ketat. Untuk setiap makan Zhang hanya mengalokasikan waktu 20 menit. Untuk jogging juga 20 menit. Sisanya untuk belajar dan belajar.(Dahlan Iskan)

Di buku harian itu juga tertulis. Tertanggal 1 Juni. Berarti tulisan terakhirnya.

“Hidup itu terlalu pendek,” tulisnya, “untuk hanya menjadi biasa-biasa saja”. (*)

Close