Jurnalisme WargaOpini

Pengguna Bahasa Indonesia di Sekitar Kita (habis)

Oleh : Wasto Pujawiatna

Radarbekasi.id – Nama-nama cabang olahraga, seperti tenis meja, sepak bola, bulu tangkis, pencak silat, bola voli, menembak, catur, panahan, panjat tebing, renang, bola tangan, sepak takraw, sepak bola, tenis lantai, angkat besi, binaraga, dan lari. Untuk istilah istilah sepak bola tendangan pojok,tendangan bebas,kartu merah,keluar lapangan,tendangan 12 pas,penjaga gawang, tiang gawang, anak gawang, gelandang kiri, gelandang kanan, penyerang utama, pemain cadangan, pemain inti, kapten tim, ban kapten.

Nama-nama profesi dokter, guru, hakim, jaksa, polisi, tentara, perawat, wartawan, insinyur, polisi hutan, penjaga sekolah, pengawas, ustadz, pendeta, biksu, pilot, penerjemah, penyelam, sopir, pedagang, petani, pemadam kebakaran, perawat hewan, petugas kebersihan, penjaga pintu air, petugas parkir, kebersihan masjid, kebersihan rumah sakit, penyunting naskah, penulis, penyair, penulis naskah, pembaca berita, jurnalis televisi, pemandu wisata, pengrajin, pedagang uduk, pedagang sayur keliling, pedagang ayam potong, bengkel motor.

Penutur bahasa Indonesia dikalangan masyarakat kita tidak terkecuali ada pengaruh bahasa asing atau bahasa daerah itu sudah lazim dan umum karena sudah terbiasa atau lebih sederhana dalam pengucapan sekalipun orang berpendidikan. Misalnya kita jumpai kata servis, spare part, velek, email, selfie, contact person, online, offline, mouse, handphone, speaker, discount. Kata –kata tersebut bisa diganti dengan pelayanan, nara hubung, dalam jaringan, tikus, gadget, pengeras suara, potongan harga, luar jaringan, suku cadang. Memang penggunaan bahasa di kita belum sepenuhnya atau seratus persen sudah ideal. Disatu sisi kita ingin melestarikan bahasa Indonesia, di sisi lain pengaruh global sangat cepat. Penulisan dan pengucapan kata-kata baku harus menjadi perhatian juga dalam pemakaian dan praktik baik berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Baca : Pengguna Bahasa Indonesia di Sekitar Kita (1)

Penulisan dan pengucapan suatu kata kadang tidak sama yang diucapkan dengan yang ditulis. Misalnya penulisannya sistem dibaca sistim, seharusnya diucapkan sistem , praktik untuk kata baku dari praktek, photo copy yang baku fotokopi.

Dimasyarakat sudah umum dalam komunikasi lisan tidak terbiasa menngunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kalau menggunakan bahasa yang sesuai kiadah maka terasa lucu baik yang mengucapkan maupun yang mendengar. Komunikasi sehari-hari dipengaruhi bahasa daerah masing-masing apalagi bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta termasuk daerah tetangga seperti Bekasi, Depok, Tengerang. Di daerah Bekasi yang masyarakatnya heterogen sebagian besar bahasa betawi Bekasi atau bahasa Bekasi, Sunda, Jawa Banten yang sebagian besar untuk berkomunikasi dipengaruhi bahasa Betawi seperti, ora, luh , gua, bagen , ilok, begonoh, sonoh, bagenin.

Ketika dalam acara resmi penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah itu harus digunakan, maka mau tidak mau bisa tidak bisa itu keharusan. Namun bila pejabat atau tokoh sering kali berbicara didepan umum dengan bahasa yang baik dan benar. Seorang pejabat atau tokoh memang harus menjadi contoh mengenai pemakaian bahasa do lingkungan sehar-hari supaya dijadikan contoh oleh orang lain. Dengan demikian perlunya banyak membaca menjadi kebutuhan dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Dimana era digital, serba komputer baik didunia pendidikan, bisnis, kependudukan semua lini kehidupan memasuki era digital atau era industri 4.0. (*)

Guru SMPN 4 Setu

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close