Jurnalisme WargaOpini

Sinergitas SDM dan Infrastruktur Pembangunan Kabupaten Bekasi

Oleh: Nurul Yaqin

Radarbekasi.id – Beberapa hari lagi Kabupaten Bekasi akan menginjak usia yang ke 69. Bukan usia yang muda untuk ukuran sebuah kabupaten dalam menata wilayahnya agar lebih maju dan berkarisma.

Banyak terobosan yang sudah dilakukan selama tenggat waktu kurang lebih 7 dekade, khususnya dalam bidang infrastruktur. Apalagi didukung dengan letak geografis yang sangat strategis, sebagai jalur ekonomi yang menghubungkan Ibu Kota Jakarta dengan daerah-daerah pulau Jawa.

Di antara infrastruktur yang sudah dibangun meliputi Underpass Tambun Selatan, rel kereta double doubel track (DDT) Manggarai – Cikarang, dua jembatan strategis bar yaitu Flyover Tegal Gede di kecamatan Cikarang Selatan, Jembatan Pebayuran yang menghubungkan kabupaten Bekasi dengan Karawang, dan Stadion Wibawa Mukti yang merupakan ikon kebanggaan warga kabupaten Bekasi.

Belum lagi dalam sektor layanan kesehatan, perumahan, pariwisata, dan kawasan industri yang merupakan salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara.
Ketidakmerataan

Yang menjadi pertanyaan kolektif, apakah pembangunan infrastruktur sudah merata di seluruh kabupaten Bekasi? Kenyataanya masih jauh panggang dari api.
Pembangunan berkembang pesat hanya berpusat di wilayah Tambun dan Cikarang, sedangkan wilayah utara masih belum tersentuh secara menyeluruh seperti Babelan, Muara Gembong, Tarumajaya, dan Sukatani.

Ketidakmerataan tersebut terjadi di berbagai sektor mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Kerusakan jalan, minimnya lembaga pendidikan berkualitas, daerah kumuh dan tidak terawat, kurangnya pusat perbelanjaan dan lahan pekerjaan masih menjadi misteri hinga saat ini.

Hal ini senada dengan penuturan seorang pengamat pemerintahan Universitas Islam 45 Bekasi, Harun Al-Rasyid yang menyebutkan bahwa Pemeritah Kabupaten Bekasi telah menunjukkan kinerja yang baik dalam hal pembangunan, terlebih infrastruktur jalan.
Beberapa tahun terakhir betonisasi jalan menjadi prioritas utama. Namun perbaikan jalan tidak dibarengi dengan keseimbangan pembangunan di seluruh wilayah. Pembangunan masih terfokus di sekitar Tambun dan Cikarang, sedangkan wilayah Utara dan Selatan relatif diabaikan.

Permasalahan lain adalah rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk mengukur kualitas SDM paling sederhana dengan melihat ketersediaan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Lembaga pendidikan berkualitas masih minim jika dibandingnkan daerah Tambun dan Cikarang. Bagaimana kita akan melahirkan manusia-manusia handal jika sarana pendidikan masih jauh dari harapan.

Lantas, apa yang menjadi penyebab ketidakmerataan di wilayah yang memiliki kawasan industry terbesar se Asia Tenggara ini? salah satu faktor adalah kurang sigapnya para stakeholder (dalam hal ini pemerintah) dalam menyediakan sarana dan prasarana bagi masyarakat.

Pemerintah terkesan lambat dalam mengatasi problema yang terjadi pada masyarakat bagian utara. Padahal jika dicermati daerah utara dapat dijadikan objek wisata yang mengagumkan seperti daerah Muara Gembong dan lain-lain.

Namun, kita tidak bisa sepenuhnya mengkambinghitamkan pemerintah, spirit hidup mandiri setiap individu menjadi salah satu ujung tombak tegaknya suatu daerah. Ini yang menjadi catatan bagi masyarakat kabupaten Bekasi yang berdomisili di bagian utara yang mayoritas adalah pribumi.

Jika ditilik lebih mendalam, masyarakat pribumi cenderung pasrah dengan kondisi yang terjadi. Mereka seolah menunggu bola bukan menjemput bola. Dan ini menjadi salah satu indikator utama SDM belum menyeluruh.

Akibatnya, kemiskinan terjadi secara berkelanjutan. Menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009) menyebutkan bahwa salah satu penyebab kemiskinan adalah adanya sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib) menyebabkan seseorang acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja.

Masyarakat pribumi cenderung pasrah dengan keadaan yang dialami. Akibatnya akan terjadi kemiskinan kultural, sebuah kondisi turun-temurun dan tidak memiliki spirit untuk menyambut perubahan.

Kondisi demikian juga akan mengakibatkan terjadinya sekat yang semakin lebar antara “anak emas” dan “anak tiri”. Sekali lagi, anak emas di sini meliputi daerah Cikarang dan Tambun. Selama ini kedua daerah tersebut menjadi prioritas utama pembangunan pemerintah.

Buktinya, infrastruktur berkembang pesat di berbagai lini. Sedangkan anak tiri meliputi wilayah utara. Mereka merasa dianaktirikan lantaran jarang tersentuh kebijakan pemerintah dalam kurun waktu yang cukup panjang.

SDM dan Infrastruktur
Untuk mengatasi problema ketidakmerataan ini diperlukan sinergitas antara SDM dan Infrastruktur. Seorang animator kelas dunia, Walt Disney (1901-1966) pernah berujar bahwa kita bisa merancang bangunan yang indah dan megah, tapi dibutuhkan peran manusia hebat untuk mewujudkannya.

Artinya, untuk mengubah kabupaten Bekasi tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur, akan tetapi harus didukung dengan kualitas SDM yang handal. Pembangunan infrastruktur dan SDM seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam aspek infrastruktur pemerintah bisa memulai dari hal yang paling dasar yaitu perbaikan jalan. Hal ini untuk memperlancar roda ekonomi. Dengan kondisi jalan yang baik tentu akan membuat para masyarakat di wilayah utara lebih mudah mendistribusikan hasil alamnya. Kemudian dilanjutkan dengan pemarataan infrastruktur di berbagai sektor.

Dilansir dari media Wartakota, 25/2/2019 ternyata program ini telah menjadi agenda utama Bupati kabupaten Bekasi, Eka Supria Atmaja yang akan lebih fokus dalam mengembangkan kabupaten Bekasi di wilayah utara. Bahkan. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp18,8 miliar untuk perbaikan jalan dan pelebaran jembatan di kecamatan Babelan.

Dalam aspek peningkatan kualitas SDM pemerintah seyogyanya sering mengadakan pelatihan dan penyuluhan bagi masyarakat agar mereka lebih percaya diri dalam mengembangkan potensi diri sehingga tidak menyerah dengan keadaan.

Pemerintah juga harus berkomitmen memperbanyak lembaga pendidikan berkualitas di semua wilayah, tidak hanya berpusat di daerah industri. Pendidikan yang memadai diharapkan akan menghasilakn individu-individu berkualitas yang dapat membawa perubahan bagi daerahnya.

Namun, meningkatkan kualitas SDM tidak cukup dengan fokus pada infrastruktur pendidikan, tetapi harus dibarengi dengan pola pembangun SDM yang efektif dengan menitikberatkan pada karakter dan jiwa terampil.

Hal tersebut juga menjadi perhatian bupati ketika memperingati hari pendidikan nasional (Hardiknas) pada 2 Mei lalu. Dia mengutip pandangan Kemendikbud bahwa pembangunan SDM harus menekankan dua hal, yakni pendidikan karakter dan penyiapan generasi terdidik yang terampil dan cakap dalam memasuki dunia kerja.

Pendidikan karakter yang dimaksud adalah mencetak insan berakhlak mulia, sopan santun, tanggung jawab, dan budi pekerti yang luhur. (Pena Merdeka, 3/5/2019).

Menyambut hari jadi Kabupaten Bekasi yang ke-69, dua pendekatan tersebut (SDM dan Infrastruktur) menjadi langkah konkret pemerintah dan masyarakat dalam membangun kabupaten Bekasi yang mandiri dan maju.

Tujuannya, agar masyarakat secara keseluruhan dapat merasakan kesejahteraan dan kemakmuran sesuai dengan semboyan “Swantantra Wibawa Mukti, yaitu sebuah daerah yang dapat mengurus rumah tangganya sendiri, berpengaruh, jaya, dan makmur. Semoga! (*)

Pendidik di SMPIT Annur Cikarang Timur, Bekasi. Anggota Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya (KGPBR)

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close