Jurnalisme WargaOpini

Pengambilan Keputusan Karier pada Siswa SMA/SMK

Oleh: Ika Maharani

Radarbekasi.id – Pengambilan keputusan menjadi dasar bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupannya. Berbagai bentuk pengambilan keputusan dari yang sifatnya sederhana sampai yang rumit harus diambil dan dijalani beserta konsekuensi yang menyertainya.

Tidak terkecuali bagi remaja. Remaja yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) seringkali dihadapkan pada sebuah situasi pengambilan keputusan yang sifatnya jangka pendek maupun jangka panjang. Pengambilan keputusan yang tentu bagi kebanyakan remaja menjadi hal yang tidak mudah untuk dijalani.

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Sustein (2008) dalam Santrock (2012), masa remaja adalah masa di mana seseorang dihadapkan pada situasi yang lebih banyak melibatkan pengambilan keputusan, teman mana yang hendak dipilih, siapa yang akan diajak kencan, apakah akan melakukan hubungan seks, membeli sebuah mobil, kuliah, dan seterusnya. Sementara menurut Hurlock (2009), masa remaja merupakan masa yang sangat berhubungan pada penentuan kehidupan masa depan, karena perilaku dan aktivitas yang dilakukan pada masa remaja menjadi awal dalam mengukir kehidupan yang lebih baik di masa depannya.

Dengan demikian pengambilan keputusan menjadi hal yang menarik bagi kehidupan remaja, terutama yang berkaitan dengan pengambilan keputusan karier. Remaja SMA pada rentang usia 15 – 18 tahun pada tahap perkembangan remaja akhir, berada pada kondisi siap untuk memasuki studi lanjut ke perguruan tinggi yang merupakan tempat untuk membentuk integritas karier yang diharapkan, akan tetapi pengambilan keputusan ini sering kali menjadi tidak mudah dilakukan oleh remaja.

Hal ini dikarenakan berbagai faktor internal dan eksternal pada diri remaja. Faktor internal merupakan faktor yang ada dalam diri remaja seperti gambaran diri mengenai studi lanjutan, sementara faktor eksternal berasal dari luar diri remaja seperti dukungan orangtua serta pengaruh teman sebaya.

Menurut Philips (Greenhaus, Encyclopedia of Career Development, 2006) pengambilan keputusan karier umumnya dianggap sebagai proses yang memerlukan identifikasi alternatif, mengumpulkan informasi, menimbang pilihan, dan melaksanakan alternatif yang dipilih. Jadi, pengambilan keputusan karier merupakan suatu proses sistematis mengenai pilihan karier yang sudah ditetapkan oleh individu dari berbagai sumber data yang dimiliki kemudian dianalisa berdasarkan ungkapan diri yang terlihat dari motivasi, pengetahuan, kepribadian, dan kemampuan yang dimiliki.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan dibandingkan dengan remaja yang lebih muda; remaja yang lebih muda juga lebih kompeten dibandingkan dengan anak-anak. Dibandingkan dengan anak-anak, remaja yang lebih muda cenderung lebih menghasilkan berbagai pendapat yang berbeda, menelaah sebuah situasi berdasarkan berbagai perspektif, mengantisipasi konsekuensi dan keputusan, serta mempertimbangkan kredibilatas sumber (Santrock, 2012).

Kondisi yang terjadi pada siswa SMA terutama siswa kelas XII adalah sudah banyak tersedianya sumber belajar atau pusat informasi karier, namun masih terdapat banyak siswa yang bimbang dalam membuat pilihan keputusan karier. Hal ini dikarenakan siswa masih ragu dengan kemampuan yang dimilikinya, terlalu banyak minat yang dimilikinya sehinga bingung dalam menentukan minat mana yang lebih condong, dukungan orangtua yang cenderung memaksakan kehendaknya, juga banyaknya informasi karier yang didapat sehingga membingungkan siswa itu sendiri dalam mengambil keputusan.

Remaja sebagai salah satu fase kehidupan seorang manusia dituntut untuk mencapai tugas perkembangan menurut Havighurt, yaitu mampu memilih dan mempersiapkan kariernya. Tugas perkembangan tersebut bertujuan memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan mempersiapkan diri, memiliki pengetahuan tentang suatu pekerjaan (Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, 2011). Berdasarkan salah satu tugas perkembangan tersebut, remaja dituntut untuk memiliki keterampilan dalam mengambil keputusan karier.

Supriatna dalam Layanan Bimbingan Karier di Sekolah Menengah (2009) menjelaskan bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam membuat keputusan karier, yaitu: (1) Pengetahuan yang mendasari kemampuan seseorang dalam memuat keputusan karier, ditandai dengan pengetahuan mengenai tujuan hidup, diri sendiri, lingkungan, nilai-nilai, dunia kerja dan pengetahuan tentang keputusan karier; (2) Kesiapan membuat keputusan karier, merupakan kesanggupan untuk menentukan pilihan karier yang didasari oleh keyakinan dan keinginan; (3) Keterampilan membuat keputusan karier, jika pengetahuan keputusan karier sebagai alam kognisi yang membentuk pemahaman siswa tentang keputusan karier dan kesiapan sebagai alam afeksi membentuk dorongan-dorongan positif ke arah keputusan karier, keterampilan membuat keputusan karier merupakan alam tindak nyata dalam membuat keputusan karier. Seseorang memiliki keterampilan dalam membuat keputusan karier jika menunjukkan perilaku mandiri, luwes, kreatif, dan bertanggung jawab dalam mengambil keputusan karier.

Aspek-aspek yang mempengaruhi dalam membuat keputusan karier erat kaitannya dengan memiliki pemahaman yang baik mengenai kekuatan dan kelemahan diri yang berhubungan dengan pilihan karier, mampu melihat faktor pendukung dan penghambat karier, mampu memilih salah satu dari alternatif pekerjaan yang tersedia. Sudah tentu keterampilan dalam pengambilan keputusan karier pada remaja, haruslah ada campur tangan orang dewasa yang dapat membantu mengarahkannya. Dalam hal ini adalah orangtua di rumah dan guru di sekolah yang memiliki peran utama dalam membantu pengambilan keputusan pada remaja. (*)

Guru SMA Al Muslim Tambun

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close