Berita UtamaKorupsi

Kasus Meikarta, Nama Soleman ‘Nyaring’ di KPK

RadarBekasi.id – Kasus Pengembangan proyek pembangunan Meikarta yang melibatkan Mantan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, bakal merembet panjang. Sejumlah Petinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Bekasi dan Jawa Barat juga ikut diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), belum lama ini. Salah satunya yakni ketua DPC PDIP kabupaten Bekasi, Soleman.

Informasi yang dihimpun Radar Bekasi, pada Rabu (24/6), beberapa saksi dimintai keterangan untuk kesaksian tersangka Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa dan tersangka Toto Bartholomeus.

Saat dikonfirmasi, Ketua PDIP Soleman mengaku ingin melaporkan seseorang. ”Sepi dulu jangan berisik,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Radar Bekasi.

Ditanya lebih lanjut, terkait keterlibatannya dengan Iwa Karniwa, Soleman memilih tidak menjawab pesan singkat dari Radar Bekasi.

Sementara itu, Staf Pelaksana Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bekasi, Volmentrad Sianturi mengaku memenuhi panggilan komisi anti rasuah itu pada Kamis (25/07). Dia mengaku sebagai saksi dalam penyidikan dugaan tindak pidana korupsi menerima hadiah, atau janji terkait dengan pembahasan substansi Raperda tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Bekasi tahun 2017 yang diduga dilakukan oleh tersangka Iwa Karniwa.

”Ditanya ceritanya bagaimana oleh penyidik KPK, ya terus saya bilang kita yang nganter (uang) ketemu Pak Leman (Soleman),” katanya.

Pria yang karib disapa Volmen ini, saat ditanya KPK mengaku tidak ingat kapan bertemu Soleman. Namun ia membenarkan telah memberikan sejumlah uang kepada Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bekasi itu.

”Kronologisnya saya ketemu Pak Leman di Hermina Grandwisata, Tambun. Soal kapannya saya bilang sama mereka (KPK) saya tidak tahu, memang saya tidak ingat. Yang dianter saya gak tahu cuman memang saya diberitahu di situ pada saat persidangan itu Rp500 juta. Waktu itu beliau (Soleman) langsung yang terima dan beliau juga yang duluan sampai lokasi,” katanya.

Setelah memberikan sejumlah uang itu kepada Soleman, Volmen segera meninggalkan lokasi pertemuan tanpa ada percakapan lanjutan antara keduanya. ”Saya cuman minta ongkos pulang saya aja sambil bercanda cuman gak dikasih. Saya juga tidak tahu dalam rangka apa ngasih uang itu,” ujarnya lagi.

Dia mengaku dimintai keterangan KPK dari pukul 10.00 hingga 15.00 WIB. Namun selama rentang itu juga banyak waktu menunggunya. ”Saya datang dalam rangka memenuhi panggilan KPK untuk dimintai keterangan sebagai saksi tersangka Iwa Karniwa. Selesai di BAP saya langsung pulang,” jelasnya.

Pemanggilan Volmentrad Sianturi diketahui berdasarkan surat panggilan pemeriksaan KPK yang terregister dengan nomor SPGL/4562/DIK.01.00/23/07/2019 yang ditandatangani oleh penyidik Deputi Bidang Penindakan R.Z Panca Putra S.

Sementara itu, itu Agus Salim mengaku juga memenuhi panggilan kepada KPK. Salim ditanyakan terkait pertemuan antara Neneng Hasanah Yasin dengan Toto. ”Saya mah Cuma sebentar, dan saya juga banyak tidak tahunya. Sebabkan hanya sebagai staf ajudan saja,” jelasnya.

Sekedar diketahui, mulai dari dakwaan, pemeriksaan saksi, tuntutan, hingga vonis untuk mantan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Iwa diyakini menerima uang Rp 1 miliar.

Uang itu berasal dari Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR di Pemkab Bekasi, Neneng Rahmi Nurlaili. Uang itu diserahkan melalui perantara dua anggota DPRD Jabar Wasisto dan anggota DPRD Kabupaten Bekasi Soleman.

Dalam vonis Mantan Bupati Neneng, uang itu diberikan agar Iwa membantu memuluskan proses pengurusan Raperda (Rancangan Peraturan Daerah) RDTR Wilayah Pengembangan proyek pembangunan Meikarta. (and)

Lebihkan

Artikel terkait

Close
Close