Berita UtamaCikarang

Kali Krasmi Tercemar Limbah

Limbah
BERBUSA: Seorang petani sedang menunjuk Kali Krasmi yang berada di perbatasan Kampung Pelaukan, Desa Karanghayu dan Kampung Pule, Desa Karangsetia, yang berada di Kecamatan Karang Bahagia. Kali tersebut berwarna hitam pekat dan berbusa. KARSIM PRATAMA/RADAR BEKASI

Radarbekasi.id – Masyarakat dan petani resah dengan kondisi air Kali Krasmi di Kampung Pelaukan, Desa Karangrahayu. Pasalnya, kali yang berada di perbatasan antara Desa Karangrahayu dengan Kampung Pule, Desa Karangsetia berbusa dan berwarna hitam pekat.

Berdasarkan pantauan Radar Bekasi, air kali itu juga terlihat berminyak. Bahkan, mengeluarkan bau tidak sedap yang sangat menyengat.

Salah satu petani, Mia mengatakan, dia terkena gatal-gatal saat pulang usai dari sawah. ”Airnya bisa bikin gatel-gatel, kalau habis dari sawah siap-siap merasakan gatal, sekarang saja sudah gatel,” katanya, Senin (29/7).

Hal senada juga disampaikan petani lainnya, Toto. Dia mengaku kondisi kali yang seperti ini tentu berpengaruh dengan hasil pertanian yang tidak memuaskan. Karena, potensi penyebaran hawa lebih besar.

”Ini semenjak banyak pabrik, kondisi air sudah sering kaya gini. Ditambah efeknya membuat petani gatal-gatal,” ucap lelaki yang akrab disapa Aceng ini.

Selanjutnya, pemilik Warung Tengah Sawah (WTS) yang jaraknya tidak jauh dari lokasi, Unan membeberkan, sejauh ini para petani banyak yang mengeluh dengan perubahaan air Kali Krasmi. Pasalnya, aliran air ini dibutuhkan untuk seluruh lahan pertanian yang ada di Kecamatan Karangbahagia.

Bahkan, kata dia, sudah tiga kali musim tanam padi para petani mengalami gagal panen. Terutama, petani yang berada di Kampung Pelaukan dan Pule.

”Kondisi air hitam dan berbusa seperti ini, ditambah terlihat seperti ber-oli sangat diresahkan oleh petani, karena tiga masa tanam belakangan selalu gagal. Kemungkinan ribuan hektar, karena seluruh pertanian di Kecamatan Karangbahagia dari sini airnya,” jelasnya.

Kendati demikian, ia menuturkan, terkadang kondisi air bening, tapi paling lama bertahan dua minggu. Dirinya berharap, kondisi air bisa kembali seperti semula.

”Harapannya, air bisa kembali ke seperti semula, dan limbah jangan dibuang ke sini. Tadinya sebelum ada PT kondisi air tidak seperti ini, saya tidak tahu PT apa, karena banyak. Kalau bisa diusut, karena para petani hanya bisa mengeluh, tidak tahu harus mengadu kemana,” ungkapnya. (pra)

Tags
Close